Waisak dan Borobudur

5 November 2013 § 5 Comments

Borobudur dan Lautan Kabut“The ruins of this places, Prambanan and Borobudur, are admirable as majestic works of art. The great extent of the masses of building covered in some parts with the luxuriant vegetation of the climate, the beauty and delicate execution of the separate portions, the symmetry and the regularity of the whole, the great number and interesting character of the statues and bas reliefs, with which they are ornamented, exite our wonder that they were not earlier examined, sketched, and described.”

Kutipan di atas berasal dari buku The History of Java, volume II, yang diterbitkan tahun 1817. Kalimat tersebut ditulis oleh seorang warga negara Inggris, setelah ia mengunjungi Borobudur dan Prambanan. Dalam masa kerjanya yang singkat, pria ini menamakan sebuah bunga raksasa di Bengkulu sesuai namanya, dan menerapkan sistim lalu lintas lajur kiri yang masih bertahan hingga kini.

Bumisegoro
Saya terbangun di sebuah bilik sederhana yang tampak asing. Oya, baru tadi malam saya tiba dan berkenalan dengan pemilik homestay. Mata yang masih mengantuk ini, menyapu seisi kamar yang berisi ranjang, meja dan lemari kayu yang tampak kuno. Daun jendelanya terdiri dari dua jenis, jendela kaca dan jendela kayu dengan kisi-kisi ventilasi. Rumah bergaya Jawa ini catnya kusam, berkesan sederhana, namun berukuran besar. Atapnya disokong oleh soko guru yang kokoh. Dapurnya berukuran sedang dengan atap rendah, dilengkapi tungku yang masih menggunakan kayu bakar.

Melintas BorobudurHari ini Borobudur akan ramai oleh perayaan Waisak. Harga penginapan di sekitar candi melambung karena membludaknya pengunjung, homestay pun menjadi pilihan yang lebih ramah bagi kantung. Di dusun ini terdapat banyak rumah yang difungsikan sebagai homestay. Warga desa memiliki sebuah paguyuban yang mengatur tata kelola penginapan, termasuk keseragaman biaya.

Berbeda dengan losmen atau hotel, pemilik rumah mengajak saya mengobrol sambil mencicipi teh tubruk dan jajanan pasar. Kebetulan Pak Subkhan yang rumahnya saya tempati, adalah ketua paguyuban di Bumisegoro. Ia juga sempat memperkenalkan saya dengan anggota keluarganya yang lain. Rasanya seperti tengah berkunjung ke rumah famili saja.

Ada tiga dusun di sekitar Borobudur yang namanya berkaitan dengan air, yaitu Bumisegoro (segoro bermakna lautan), Sabrang Rowo (seberang rawa) dan Tanjungan. Seorang guide yang saya temui di kesempatan berbeda, bercerita bahwa dahulu candi ini pernah dikelilingi danau. Borobudur dianggap seperti bunga teratai bila dilihat dari udara. Hipotesa mengenai hal ini pertama kali dikemukakan tahun 1933 oleh seorang arsitek Belanda, Nieuwenkamp dalam artikel berjudul Het Borobudur Meer. Untuk membuktikan teorinya, Nieuwenkamp bersama para geolog melakukan penelitian tahun 1937. Para peneliti selanjutnya juga sudah menemukan bukti-bukti pendukung. Salah satunya yaitu lapisan batu lempung hitam yang mengandung fosil tanaman rawa.

Mengikuti Prosesi
Setelah selesai sarapan dan melihat koleksi ayam hias milik tuan rumah, saya memanaskan motor dan membawanya menuju starting point di Candi Mendut. Rombongan akan berjalan beriringan menuju Candi Borobudur dengan melewati Candi Pawon. Rute yang dilalui, panjangnya sekitar 3,5 kilometer.

Barisan bhiksu menjelang prosesiDahulu ketiga candi dipercaya memiliki garis imajiner yang lurus satu sama lain. Namun Totok Roesmanto dalam buku 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur (2011) menyampaikan bahwa titik pusat ketiga candi tidak berada dalam satu garis lurus. Anda bisa membuktikannya dengan menggunakan software spasial seperti Google Earth atau Wikimapia. Selanjutnya, Anda bisa saja memeriksa apakah Kraton Jogja, Tugu dan kawah Merapi berada dalam satu garis lurus.

Saat tiba di Candi Mendut, para bhiksu dan bhiksuni tengah berdoa dengan khusuk. Bergantian para fotografer mengabadikan momen ini. Melihat betapa sikap “antusias” para fotografer, panitia menjaga area tertentu hanya bagi fotografer yang berasal dari media saja. Maklum, para penghobi fotografi juga tidak ingin ketinggalan kesempatan. Dari tahun ke tahun, hal ini mengundang kritik dari masyarakat umum dan para pecinta fotografi itu sendiri.

Iring-iringan pembawa hasil bumiTepat pukul 08:30 prosesi dimulai. Berada paling depan adalah barisan pembawa bendera merah putih dan marching band, di belakangnya ada kendaraan hias berbentuk naga yang membawa beberapa bhiksu bersama Relik Sang Buddha, air suci dari Umbul Jumprit di Temanggung dan api suci dari Mrapen di Grobogan. Selanjutnya adalah barisan bhiksu yang dikawal para pria yang mengenakan beskap dan blangkon. Lalu menyusul barisan pemuda-pemudi dengan pakaian adat dari daerah-daerah di nusantara, dan terakhir kelompok para pemuda dengan tandu berisi hasil-hasil bumi seperti padi, singkong, nanas dsb.

Prosesi Waisak menuju Candi PawonSepanjang rute prosesi, masyarakat tampak memberikan sambutan yang baik. Beberapa diantaranya mengabadikan rombongan dengan handphone. Matahari berada di posisi yang berlawanan dengan arah prosesi, sehingga sinarnya langsung berhadapan dengan lensa. Kondisi jalan yang naik turun serta panasnya udara, membuat peserta prosesi dan para “supporter” bermandikan peluh.

Dr. Daoed Joesoef dalam buku Borobudur (2004), menyampaikan keberadaan sebuah jalan yang menghubungkan ketiga candi di masa lalu. Disebutkan bahwa jalan penghubung tersebut diperkeras dengan batu dan diapit oleh pagar langkan yang dihiasi ukir-ukiran. Jalur ini digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Sayangnya, penelitian-penelitian yang dilakukan hingga kini belum berhasil mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan mengenai jalan penghubung tersebut.

Para bhiksu membawa Relik Sang BuddhaSekitar pukul 11:00 lewat, rombongan memasuki halaman Candi Borobudur. Panitia sudah mendirikan panggung dengan sebuah patung besar di depan candi. Sekian ratus meter persegi karpet merah juga sudah digelar untuk acara Renungan Waisak sore nanti. Pemindahan Relik Sang Buddha dari kendaraan hias menuju altar menjadi pusat perhatian selanjutnya. Para fotografer yang tadi membludak, sebagian besar sudah menghilang. Mungkin tengah rehat atau memang kurang tertarik dengan relik.

Rekan saya, Bapak Hidayat Halim pernah menunjukkan bermacam bentuk relik, kebetulan ia beberapa kali menjadi ketua panitia Puja Relik. Relik merupakan peninggalan atau sisa kremasi dari tubuh seseorang yang dianggap sudah mencapai “pencerahan”.  Umumnya berupa kristal berukuran kecil dengan beragam warna. Bentuk lainnya bisa berupa tulang, helai rambut atau bola mata. Relik yang pernah saya jumpai di Buddha Tooth Relic, Singapura, malah berupa gigi geraham.

Pelepasan Lampion
Selama perayaan Waisak, pengunjung dibebaskan dari biaya tiket masuk. Sekitar pukul empat sore, para umat kembali berkumpul di depan altar untuk mendengarkan kata sambutan dan renungan Waisak. Tahun ini detik-detik Waisak jatuh pada pukul 18:08:23. Mulai detik ini, umat melakukan meditasi massal selama 12 detik. Suasana di sekitar candi menjadi begitu hening. Tahun 2010 yang lalu, saya melewatkan detik-detik Waisak yang jatuh sekitar pukul 06:00 pagi. Saat itu para bhiksu melakukan meditasi di area Arupadhatu.

Bhiksu tengah melakukan PradaksinaTidak berapa lama, meditasi selesai. Setelah memberikan berkah bagi umat dengan memercikkan air, para bhiksu bersiap melakukan pradaksina, yaitu prosesi mengitari candi sebanyak tiga kali searah jarum jam. Selama prosesi, tangan mereka membentuk sikap anjali (mengatup kedua tangan di depan dada). Sambil membawa lilin dan dupa, terdengar lantunan doa dari bibir para bhiksu yang berbunyi “Om mani padme hum.” Doa ini didaraskan dengan lembut dan berulang-ulang.

PeMelepas lampionrayaan Waisak 2555 ini diakhiri dengan pelepasan seribu lampion. Lampion yang dibuat dengan kertas yang amat tipis ini, didatangkan dari Thailand. Sebelum dilepas, mereka yang memegang lampion mengucapkan permohonan dalam hati. Beberapa turis bule ikut serta melepaskan lampion. Langit di atas Borobudur pun dipenuhi titik-titik cahaya kuning yang melayang mengikuti angin, tampak romantis. Oya, acara ini pernah batal dilaksanakan di tahun 2013 karena kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Lampion WaisakDua turis lain yang datang jauh-jauh dari Thailand, bercerita bahwa mereka ingin beribadah sambil melihat karya Dinasti Syailendra. Mereka mendengar perayaan Waisak di Borobudur terasa lebih semarak. Pengusaha travel yang membawa rombongan wisatawan domestik tampaknya terus bertambah. Jumlah minibus elf yang diparkir di kaki Bukit Setumbu dan di Bumisegoro bisa dijadikan acuan.

Menyusuri Candi
Di hari berikutnya, saya kembali mengunjungi Borobudur karena rasa ingin tahu. Kali ini Mas Slamet, seorang guide sengaja saya ajak berkeliling candi hingga kerongkongannya kering, karena terus menerus bercerita. Dalam pendakian, kami kadang berpapasan dengan guide lain yang tengah menjelaskan dengan bahasa Inggris, Jerman atau Perancis.

Pewarnaan pada relief

Area pohon pada relief diberikan warna terang agar kontras dengan backgroundnya.

Kami menjumpai beberapa panel relief pada dinding candi yang berwarna kecoklatan. Slamet berkata bahwa kerusakan ini mungkin diakibatkan oleh bahan tertentu yang dioles fotografer pada permukaan relief. Hal ini dilakukan agar bagian tersebut tampak lebih kontras saat diabadikan. Adolf Schaefer dan Kassian Cephas adalah nama-nama fotografer yang pernah ditugaskan pemerintah kolonial untuk mendokumentasikan Borobudur. Tetapi pada masa itu, banyak fotografer yang berkunjung untuk mengabadikan candi. Setibanya di rumah, saya menemukan beberapa foto yang mendukung teori ini. Sebuah laman dokumentasi Hindia-Belanda menampilkan foto-foto relief yang diambil sekitar tahun 1890. Sayang sekali nama fotografernya tidak tercantum.

Lubang pada stupa

Ruangan dalam stupa induk cukup besar untuk menyimpan sebuah arca Buddha.

Stupa induk adalah bagian lain yang tidak luput dari kerusakan. Tahun 1814, Kolonel Colin MacKenzie mengabarkan keberadaan Borobudur pada atasannya, Raffles (Golden Tales of the Buddha, John Miksic, 1991). Raffles lalu mengutus asistennya yang lain, yaitu H. C. Cornelius untuk membersihkan Borobudur dari tanaman liar dan lapisan tanah. Saat itu Cornelius mendapati sebuah lubang mengangga pada dinding stupa induk. Sebuah foto yang diambil oleh C.B. Nieuwenhuis antara tahun 1880-1908, menampilkan kondisi stupa induk yang rusak, hingga ruang di dalam stupa terlihat. Kerusakan ini bisa saja dilakukan oleh pencuri yang tengah mencari harta karun.

Yasti dan Chattra

Bentuk rekaan yasti dan chattra karya Theodoor van Earp sebelum diturunkan.

Selain memiliki ruangan, stupa induk sebenarnya memiliki yasti (semacam mahkota). Theodoor van Earp, seorang pemugar asal Belanda pernah merekonstruksi bentuk yasti dengan tiga chattra (payung) saat restorasi besar tahun 1907-1911. Namun ia kembali membongkarnya karena batu-batu penyusun yasti sebagian besar tidak orisinil. Selain itu, tidak ada bukti kuat yang menunjukan bagaimana bentuk yasti milik Borobudur. Yasti rekonstruksi van Earp kini disimpan di Museum Karmawibangga, bersebelahan dengan patung Mbah Belet.

Patung Mbah Belet atau The Unfinished Buddha merupakan teka-teki lain yang belum dipecahkan. Arca ini tampak belum selesai dikerjakan. Rambutnya belum “dikeritingkan”, Unisha di atas kepala masih berupa gundukan batu, jubah dan tangan kanannya belum berbentuk. Sebutan Mbah Belet mungkin berasal dari bahasa Belanda “beeld” yang berarti patung atau figur. Para peneliti masih menduga-duga dimanakah posisi arca ini sesungguhnya. Cornelius tidak menyebutkan penemuan arca ini dalam stupa induk. Residen Kedu yang melanjutkan pemeliharaan candi, yaitu Hartman, justru tidak pernah menuliskan kegiatannya di Borobudur. Akhirnya Theodoor van Earp meletakkan “potongan puzzle” ini di bawah sebuah pohon kenari karena tidak ada bukti-bukti kuat tentang asal-usulnya.

Patung Mbah Belet

Foto arca “Mbah Belet” karya Thilly Weissenborn, diambil antara tahun 1920-1930.

Seorang arkeolog Belanda yang bernama Dr. A. J. Bernet Kempers pernah menyampaikan tentang arca serupa di Bodh Gaya (kota tujuan peziarah Buddha di India) berdasarkan catatan perjalanan peziarah Cina, Hsuan-tsang tahun 640. Walaupun tidak sempurna, arca itu tetap dipuja. Dr. Bernet menduga bahwa Mbah Belet adalah replika yang dibuat berdasarkan model asli di Bodh Gaya. Arkeolog yang pernah tinggal di Indonesia sejak tahun 1906 hingga 1956 ini, juga menuturkan bahwa penataan Borobudur membuat arca tampil dengan gradasi visual sebagai berikut; pada tingkat rupadhatu arca terekspos, pada tingkat arupadhatu arca tampak samar karena terhalang oleh kisi-kisi stupa, dan pada stupa induk arca sama sekali tidak bisa dilihat. Dr. Bernet menyimpulkan bahwa Mbah Belet berasal dari stupa induk.

Catatan lain mengenai the Unfinished Buddha tertulis dalam Serat Centhini yang disusun para pujangga Kraton Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwono V (1785-1823). Serat Centhini mengisahkan perjalanan Mas Cebolang ke beberapa daerah di Jawa, termasuk perjumpaannya dengan arca yang belum sempurna dalam “sangkar batu” di puncak Borobudur. Keberadaan Mbah Belet di stupa induk juga dilaporkan oleh F.C. Wilsen, seorang pelukis yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk membuat sketsa dari relief-relief yang dianggap penting. Ia tinggal di Borobudur tahun 1849-1852 dan menghasilkan 476 gambar (Sejarah Kebudayaan Jawa, Dr. Purwadi, Pararaton, 2011).

Daoed Joesoef menuliskan dua teori mengenai Mbah Belet. Menurut mantan Menteri P&K ini, sang pembuat arca pastilah seorang pande atau maestro. Ia kemungkinan tengah “berhalangan besar” sehingga karyanya tidak selesai. Karena ia seorang pande, mungkin tidak ada yang “berani” meneruskan karyanya karena takut salah atau keliru. Teori lainnya adalah kasus-kasus tertentu dalam dunia seni di mana suatu karya memang sengaja tidak diselesaikan karena penciptanya sudah mendapatkan kepuasan pribadi. Hal ini pernah terjadi pada karya pelukis Affandi atau pematung Tilem dari Bali.

Selesai mendaki candi, Mas Slamet mengajak saya menjelajahi sudut-sudut Museum Karmawibangga. Di halaman museum kami melihat banyak tumpukan batu yang belum berhasil dihubungkan, layaknya potongan puzzle yang masih berserakan. Kondisi ini sesuai dengan penuturan Daoed Joeseof; “Jelas bahwa masih banyak, banyak sekali hal, yang tidak kita ketahui dan mungkin tidak akan pernah kita ketahui tentang monumen-monumen tua. Dan kalaupun telah terungkap, tidak sedikit interpretasi yang kita ketengahkan masih dapat diragukan, sangat tidak pasti keberadaannya. Keadaan ini bisa saja mengecewakan, namun tidak boleh mencegah kekaguman kita terhadap banyak hal yang pantas dikagumi dalam monumen-monumen tersebut.”

Saat tur selesai, saya menawarkan minum pada Mas Slamet. Dengan sopan ia menolak dan mengucapkan terimakasih. Sepertinya ia sudah merasa senang bisa memuaskan keingintahuan seorang turis lokal.

======================================================================

Tips:

  • Biaya homestay tahun 2011 Rp. 75.000,- per malam, sementara penginapan di sekitar candi bisa melambung hingga empat kali lipat saat Waisak.
  • Dusun Bumisegoro terletak di bagian barat Borobudur, jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari candi lewat jalan memutar. Bagi yang melakukan perjalanan dari Jogja, Anda bisa menyewa motor dengan biaya sekitar Rp. 50.000,- per hari. Saya dengar tukang ojek di sekitar candi juga bersedia menyewakan motornya.
  • Punthuk Setumbu dipenuhi fotograferBila ingin mengabadikan Borobudur dengan lautan kabut, datanglah ke Punthuk Setumbu. Dari depan gerbang Borobudur, arahkan kendaraan ke arah Hotel Manohara, maju terus hingga bertemu perempatan. Ambil arah ke kanan, ikuti papan petunjuk bertuliskan “Borobudur Nirwana Sunrise.” Sekitar tiga kilometer dari perempatan, Anda akan menemui sebuah musholla di sebelah kiri dan sebuah jalan tanah yang menanjak di sebelah kanan. Di ujung jalan menanjak, titiplah kendaraan di halaman rumah penduduk. Sejak subuh mereka sudah bersiap di muka rumah sambil menjual makanan dan minuman ringan, mereka juga bisa mengantar menuju puncak bukit. Pendakian memakan waktu sekitar 15 menit, ada baiknya membawa senter. Saat musim ramai, sebaiknya Anda sudah berada di puncak bukit pukul empat subuh untuk “mengamankan posisi”. Gunakan lensa tele berukuran 70-300 mm untuk sikon ini. Ada petugas setempat yang mengumpulkan retribusi dari pengunjung di puncak bukit.
  • Seorang nenek tengah membuat gerabahAnda bisa melihat dari dekat proses pembuatan gerabah di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, kira-kira tiga kilometer di sebelah barat daya Borobudur. Salah satu tempat yang biasa dikunjungi adalah Gerabah Arum Art milik Pak Supoyo.

====================================================================

Tanggal perjalanan: Mei 2010, Mei 2011 & Mei 2012
Sumber pustaka: Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu (P. Swantoro, KPG, 2002), 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur (Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, 2011), Borobudur (Daoed Joesoef, Kompas, 2004), Golden Tales of the Buddha (John Miksic, Periplus Editions (HK) Ltd., 1991), The History of Java (Thomas Stamford Raffles, Narasi, 2008), Sejarah Kebudayaan Jawa (Dr. Purwadi, M.Hum, Pararaton, 2011).
Foto: Dokumentasi pribadi & http://www.media-kitlv.nl

§ 5 Responses to Waisak dan Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Waisak dan Borobudur at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta