Grebeg Suro Ponorogo

15 September 2013 § Leave a comment

Derap kaki pasukan berkuda menggetarkan bumi, gerombolan manusia berwajah merah berhamburan, dua mahluk aneh berhidung bengkok, melompat ke sana ke mari. Di belakangnya, harimau bermahkotakan burung merak berguling-guling di tanah. Ada gerangan apa sehingga mereka berbondong-bondong memasuki kota ini?

Jathilan“Numpang tanya, Pak, bagaimana cara mencapai Terminal Madiun dari sini?” Saya bertanya kepada sesama penumpang yang turun, saat Gajayana berhenti sesaat di Kota Madiun. Setelah si bapak menyarankan saya untuk menggunakan ojek, ia segera berlalu meneruskan langkahnya. Crazy hunting, begitu saya menyebutnya. Melakukan hunting tanpa persiapan matang, mengambil keputusan di lapangan dengan cepat, dan menikmati konsekuensinya sebagai bagian dari perjalanan. Flowchart yang ada di dalam kepala, berupa Kota Madiun, Kota Ponorogo, lalu Festival Reog.

Pak Didi, seorang pengemudi ojek menawarkan saya untuk menempuh perjalanan langsung ke Ponorogo bersamanya. Karena tarifnya masuk akal dan menghemat waktu, saya langsung mengiyakan. Angin dingin menerpa wajah saat kami menyusuri Madiun yang masih terlelap, bebek yang kami tunggangi melesat di tengah jalan yang sepi.

Tidak terbayang, beberapa jam sebelumnya saya masih berjibaku dengan tuts keyboard dan pekerjaan yang datang kian deras menjelang keberangkatan. Foto-foto lanskap yang saya lihat pada monitor, kini digantikan oleh lanskap sungguhan, saat matahari terbit perlahan di puncak Gunung Wilis.

Grebeg Suro Ponorogo

Patung Prabu Klono Sewandono

Patung Prabu Klono Sewandono

Jarak 30 kilometer ditempuh selama satu jam. Sebuah gerbang dengan dua patung merak menyampaikan bahwa kami sudah memasuki Kabupaten Ponorogo. Tidak lama sesudah itu kami melewati Pasar Songgolangit, dinamakan sesuai dengan nama puteri yang hendak dipinang Raja Klono Sewandono dalam legenda reog.

Selama pagelaran Grebeg Suro, penginapan-penginapan terbaik di Kota ini dipenuhi oleh rombongan reog yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Hotel Permai yang berada di dekat alun-alun sudah penuh, diborong oleh stasiun televisi dan instansi pemerintah. Sekitar 50 kelompok reog meramaikan festival tahun ini. Satu rombongan reog, memiliki kelompok penari, pemain musik, dan kru yang jumlahnya bisa mencapai 50 orang, bukan main banyaknya. Program transmigrasi dan pengiriman TKI, berperan dalam penyebaran kesenian asal Ponorogo ini ke provinsi lain, bahkan hingga ke negara tetangga.

Peran jathilan yang dahulu dilakoni oleh anak laki-laki, kini digantikan oleh remaja putri

Peran jathilan yang dahulu dilakoni oleh anak laki-laki, kini digantikan oleh remaja putri

Berlangsung hampir selama satu bulan lamanya, festival dipadati oleh beragam pameran, perlombaan dan acara adat. Festival reog, pacuan kuda, kirab pusaka, tumpeng purak (serupa dengan grebeg maulud di halaman Masjid Agung Jogjakarta), pemilihan kakang senduk (serupa dengan pemilihan Abang None Jakarta) dan larungan di telaga ngebel, menjadi highlight Grebeg Suro. Alun-alun yang berada tepat di depan kantor bupati menjadi pusat keramaian.

Grebeg Suro Ponorogo lahir dari gagasan bupati setempat di tahun 1987, yakni Bapak Soebarkah. Beliau mengadakan festival kesenian sebagai wadah bagi warganya yang tengah melakukan tirakatan setiap malam satu suro, sekaligus sebagai suatu cara untuk melestarikan seni di Ponorogo. Festival reog sendiri sudah 18 kali diselenggarakan sejak pertama kali digelar tahun 1994.

Asal-usul Reog
Gladi resikSetelah berhasil mendapatkan penginapan, saya mengitari alun-alun. Pada siang hari, tak terlihat aktifitas pada kios-kios cenderamata dan wahana permainan rakyat. Mereka baru beroperasi selepas maghrib. Saya melangkahkan kaki menuju panggung, dimana para peserta sedang asyik berlatih menari. Mereka umumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk menyempurnakan tarian, menerjemahkan visi koreografer ke dalam harmonisasi gerak. Banyak di antara mereka yang masih berusia remaja. Reog menjadi menu wajib untuk para pelajar yang bersekolah di kabupaten ini.

Prabu Klono SewandonoTarian reog melukiskan legenda Prabu Klono Sewandono dari Kerajaan Bantar Angin yang hendak melamar Dewi Songgolangit dari Kediri. Rombongan Sang Prabu terdiri dari pasukan berkuda (jathilan), gerombolan pendekar (warok) dan Patih Bujangganong yang sakti. Dalam perjalanan, rombongan dihadang oleh pasukan harimau dan burung merak. Pertempuran pun pecah, pasukan Sang Prabu kewalahan menghadapi kekuatan lawan. Akhirnya Sang Prabu mengeluarkan senjata andalannya, yaitu Cemeti Kyai Samandiman. Dengan suara menggelegar, cemeti menyapu pasukan musuh. Rombongan Sang Prabu pun berhasil melanjutkan perjalanan menuju istana Dewi Songgolangit.

Warok dan singobarong

Dua orang warok dan topeng singobarong

Versi lain dari sejarah reog berkaitan dengan sejarah Majapahit, tepatnya pada masa pemerintahan Bhre Kerthabumi atau Brawijaya V. Kala itu pengaruh kerajaan Hindu mulai meredup di Nusantara. Raja Majapahit yang beragama hindu, menikahi seorang putri dari Champa (sekarang berada di wilayah Vietnam bagian tengah) yang beragama islam. Hal ini terjadi atas bujukan para Wali yang tengah menyebarkan islam. Kondisi politik yang tidak kondusif dalam lingkungan istana, menjadi bertambah panas.

Kecewa dengan pemerintahan yang korup, seorang abdi kerajaan yang bernama Ki Ageng Kutu, melakukan protes dengan menciptakan tarian reog. Posisi kepala harimau yang berada di bawah burung merak, menyindir kedudukan raja yang takluk oleh seorang putri dari Cina (kala itu Vietnam masih berada di bawah kekuasaan Cina). Pasukan jathilan dan warok melambangkan kekuatan Ki Ageng yang tengah melawan Raja Majapahit (dilambangkan oleh singobarong).

Bujangganong

Bujangganong tengah berpose

Selama pementasan, saya bergabung dengan belasan fotografer lainnya, berusaha mencuri momen dan komposisi dari lincahnya gerakan para penari. Bujangganong sering melakukan gerakan salto ke udara di depan barisan warok. Di samping panggung, kelompok pemain musik dan penyanyi duduk melingkar, menghasilkan nyanyian yang menggempita. Ditingkahi irama gamelan dan nyanyian penuh semangat, ingin rasanya ikut menari.

Esok hari, Bapak Bupati bersama rombongan rencananya akan mengawal kirab pusaka. Tiga benda pusaka yang diinapkan di kompleks makam pendiri Kota Ponorogo, akan diarak menuju alun-alun kota. Masyarakat pastinya akan tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui rombongan kirab.

Berdirinya Kota Ponorogo

Makam Bathoro Katong

Gerbang makam Bathoro Katong

Sekitar pukul sepuluh pagi, saya bergabung dengan beberapa rekan media di kompleks makam Bathoro Katong. Kondisi makam tampak bersih terawat, suasana terasa sunyi, pepohonan memberikan keteduhan. Sambil menunggu rombongan penjemput pusaka datang, kami berbincang-bincang dengan juru kunci makam, yaitu Mbah Sunardi. Menurut beliau, Bathoro Katong adalah adipati pertama di Ponorogo, dahulu berada dalam wilayah kerajaan Wengker. Nama lain Bathoro Katong adalah Lembu Kanigoro. Putri dari Champa yang menjadi selir Prabu Brawijaya, adalah ibu dari Lembu Kanigoro. Bathoro Katong memiliki hubungan erat dengan kakak yang berasal dari ayah yang sama, yaitu Lembu Kenongo. Di kemudian hari, Lembu Kenongo akan dikenal sebagai Raden Patah, pemimpin Kerajaan Demak. Mengikuti jejak kakaknya, Lembu Kanigoro berguru kepada Wali Songo di Demak.

Mbah Sunardi (kanan), juru kunci makam

Mbah Sunardi (kanan), juru kunci makam

Untuk memperkuat pengaruh islam di Wengker, Wali Songo mengirimkan Lembu Kanigoro yang ditemani oleh para santri untuk “menetralisir” Ki Ageng Kutu. Majapahit juga sudah menganggap Ki Ageng sebagai pembangkang. Pertempuran antara pasukan pendatang dan pasukan Ki Ageng Kutu berlangsung sengit. Kesaktian Ki Ageng yang memiliki nama lain Pujangga Anom Ketut Suryongalam, tidak bisa diremehkan. Lembu Kanigoro pun menarik pasukan sambil mengatur siasat bersama Ki Ageng Mirah (murid Sunan Kalijaga).

Lembu Kanigoro kemudian mendekati Niken Gandini, putri Ki Ageng Kutu dan merayunya untuk dijadikan istri. Niken Gandini lalu mengikuti permintaan Lembu Kanigoro untuk mencuri senjata ayahnya, pusaka Koro Welang. Dalam pertempuran berikutnya, Ki Ageng Kutu berhasil dikalahkan lalu melakukan moksa. Sejak itu, Lembu Kanigoro menamakan dirinya Bathoro Katong. Ia membuka hutan, membangun pemukiman dan berkuasa di Ponorogo.

Pono memiliki arti pantas, cakap dan pintar, sementara rogo berarti tubuh. Juru kunci yang mewarisi profesi ayahnya ini, memaknai ponorogo sebagai sikap mawas diri, tahu kelebihan dan kekurangan diri.

Kirab Pusaka & Tumpeng Purak
Selesai mendengarkan cerita dari juru kunci makam, kami semua beringsut, memohon diri karena rombongan Pak Bupati kabarnya hampir tiba. Sambil menunggu rombongan sampai, kami sempat berbincang-bincang dengan sesepuh paguyuban supranatural Ponorogo, Romo Dodik Sri Suryadi. Dua orang rekan saya yang ditugaskan oleh suatu departemen, meliput festival ini sejak seminggu yang lalu. Mereka sudah berkeliling Ponorogo, melihat lokasi-lokasi spiritual beserta “keunikannya”.

Tiga pusakaAkhirnya acara kirab dimulai pukul 14:00, ketiga pusaka yang terdiri dari Angkin (sabuk) Cinde Puspito, Payung Songsong Tunggul Wulung dan Tombak Tunggul Nogo dibawa keluar dari kompleks makam. Romo Dodik berkisah tentang ketiga pusaka, yang pada masanya digunakan sebagai tameng, penawar kekuatan gaib, dan senjata pencabut nyawa. Bapak Bupati lalu menyerahkan pusaka tersebut kepada sepasukan pria berbaju tradisional, untuk diantar ke pendopo kabupaten. Di belakang mereka terdapat rombongan dayang-dayang dan rombongan pemerintah setempat yang menaiki kereta kuda. Kirab ini dimaksudkan untuk memperingati perpindahan pusat kota dari bagian barat ke bagian tengah kabupaten. Jauh di depan, pasukan marching band dari beberapa sekolah sudah berjalan terlebih dahulu, menarik penonton ke jalur kirab.

Rombongan dayang-dayangTiga jam kemudian, rombongan kirab memasuki alun-alun. Masyarakat sudah memadati alun-alun, menunggu acara pembersihan pusaka dan tumpeng purak. Banyak dari mereka yang datang dari kabupaten lain di sekitar Ponorogo. Pedagang makanan dan minuman tampak sibuk bekerja. Sementara bapak-bapak polisi tampak berjaga dan mengantur lalu lintas di tiap persimpangan.

Ritual pencucian pusakaBapak Bupati mulai menyiram air kembang dengan panduan Romo Dodik ke bagian tertentu dari pusaka. Air kembang diambil dari beberapa mata air di Ponorogo. Setelah prosesi selesai, pusaka dibawa ke pendopo dan sisa air kembang mendadak jadi rebutan warga. Acara rayahan kembali terjadi saat tumpeng purak disajikan di tengah jalan. Dalam tempo singkat, gundukan nasi dan lauk pauk tersebut habis dijarah massa. “Untuk mendapatkan berkah, kita tetap harus bekerja dan berdoa. Bukan hanya mengandalkan air kembang dan nasi tumpeng”, MC mengingatkan lewat pengeras suara.

Pada malam harinya, kejuaraan reog kembali digelar dan di akhir acara, panitia mengumumkan juara festival, yang ternyata diraih oleh kelompok Bantar Angin asal Jakarta. Pukul 24:00, panitia meluncurkan kembang api. Para fotografer segera memasang setting kamera yang sesuai, untuk momen yang hanya berjalan dalam tempo singkat itu.

Saya kembali berjalan menuju penginapan, menyiapkan diri untuk proses larungan esok pagi. Malam ini Kota Ponorogo tidak tidur, warganya tampak masih berkeliaran atau duduk-duduk di tiap sudut. Sesampainya di kamar saya segera me-recharge handphone dan baterai kamera, lalu terlelap hingga pagi.

Larungan di Telaga
Pagi itu, pak ojek yang sudah di-booking sehari sebelumnya, mengantar saya menuju lokasi larungan. Telaga Ngebel yang berada di kaki Gunung Wilis, memiliki ketinggian 734 meter dpl. Udara sejuk di sekitar telaga terasa kontras dengan udara panas di Kota Ponorogo. “Pantas saja banyak warga yang senang berwisata ke sini”, ujar saya dalam hati. Di sekitar telaga banyak terdapat pohon cemara, rumput hijau dan pepohonan rindang. Tujuan wisata lain di daerah ini adalah air terjun dan sumber air panas.

Telaga NgebelSaat asyik mengabadikan lanskap, terdengar bunyi sirine meraung-raung di kejauhan. Rupanya rombongan Pak Bupati lagi. Saya membonceng motor seorang remaja asal Kediri yang kebetulan tengah menuju alun-alun Ngebel. Saya kembali bergabung dengan para fotografer yang wajahnya sudah sering saya lihat selama gelaran festival ini.

Bapak Bupati berpidato mengenai pentingnya pariwisata bagi pembangunan daerah, termasuk masukan-masukan bagaimana menghadapi wisatawan. “Acara larungan ini hanya pelengkap gelaran Grebeg Suro, kita hanya percaya kepada Tuhan YME”. Beliau menampik tudingan negatif yang tersirat dalam prosesi ini.

Masyarakat setempat melakukan ritual adat setiap malam satu suro, misalnya berdoa bersama-sama, menanam kaki kerbau di lokasi-lokasi tertentu, dan melarung sesajen. Penduduk Ngebel memiliki juru kunci yang tugasnya membawa rakit sesajen ke tengah danau. Kebiasaan ini tentu saja dilakukan pada malam hari. Hebatnya, juru kunci tidak menggunakan kapal, ia mendorong rakit sendiri sambil berenang.

Larungan di Telaga NgebelLarungan yang dilaksanakan pagi ini memang dikemas untuk wisata. Sebuah tumpeng dibagikan kepada warga, dan tumpeng lainnya dibawa ke tengah telaga bersama risalah doa. Beberapa orang perenang ditugaskan membawa sesajen di atas rakit bambu dan menenggelamkannya. Beberapa jurnalis ikut serta menemani para perenang dengan kapal hingga mereka kembali ke tepi telaga. Dengan tenggelamnya tumpeng, gelaran Grebeg Suro pun berakhir.

Mendung yang mungkin sudah menunggu sejak tadi, tiba di atas telaga. Hujan mulai membasahi bumi. Hiruk pikuk pengunjung yang berniat pulang dan tetesan air hujan, menemani usaha saya mencapai gerbang telaga, lokasi rendez vous dengan pak ojek. Setelah membereskan urusan di penginapan, saya kembali meluncur menuju Madiun dengan ojek yang sama.

Hal menyenangkan yang didapat dari crazy hunting terjadi, tiket kereta ke Jakarta untuk hari ini ludes terjual. Akhirnya saya menaiki angkutan kota menuju terminal Madiun, mencari bis dengan rute Solo. Dari Solo, saya akan ambil kereta menuju Jakarta, mudah-mudahan beruntung. Bis akhirnya memasuki Solo setelah maghrib dan kabar baiknya, saya mendapat tiket pulang. Horeee!

Kereta tiba di Stasiun Gambir sesuai jadwal. Saya pun memasuki rumah lebih cepat. Sambil menunggu waktu berangkat ke kantor, rasanya tidur-tiduran sejenak tidak masalah. Namun ternyata kantuk tidak kunjung pergi, membuat tidur terus berlanjut. Perjalanan kali ini terasa seperti film yang tampil lebih baik dibanding review-nya. Semoga bujangganong dan kawan-kawannya terus menari, berloncatan di negeri sendiri hingga ke negeri orang.

================================================================
Tanggal perjalanan: November 2011

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Grebeg Suro Ponorogo at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta