Ereveld Menteng Pulo, “sepetak” Belanda di Jakarta

17 March 2013 § 45 Comments

Gereja Simultaankerk Menteng Pulo

Pernahkah Anda merencanakan untuk berwisata ke pemakaman sambil mempelajari sejarah dan arsitektur? Bila jawabannya ya, maka Makam Kehormatan Belanda di Menteng Pulo bisa menjadi pilihan. Mungkin inilah kompleks pemakaman paling indah yang ada di Indonesia.

Lima tahun yang lalu, seorang teman kantor pernah memperlihatkan beberapa foto tentang sebuah pemakaman kepada saya. Kebetulan, ia baru saja menghadiri seminar di sebuah hotel yang berada tepat di samping pemakaman ini. Deretan nisan berwarna putih yang rapi, rumput hijau yang tertata, dan sebuah bangunan unik menjadi topik diskusi santai kami.

Beberapa hari sesudahnya, saya menyambangi tempat ini. Saya menyusuri kompleks pemakaman umum di daerah Casablanca sebelum mencapai Ereveld Menteng Pulo. Saat tiba di depan gerbang, seorang penjaga menghampiri dan menanyakan tujuan kedatangan saya. Ternyata, saya terlebih dahulu harus mengurus perijinan di kantor pemakaman yang berada di Jl. Panglima Polim, Blok M.

Kompleks pemakaman ini berada di bawah naungan Kedutaan Besar Belanda. Ada beberapa peraturan yang melingkupi tempat ini. OGS atau Oorloch Gravenstichting (Yayasan Makam Kehormatan Belanda) menjaga tempat ini sesuai fungsinya dan menolak penggunaan makam untuk alasan yang menurut mereka kurang penting, misalnya sebagai lokasi pemotretan komersial. Namun mereka membuka pintu sebesar-besarnya bagi pengunjung yang punya minat terhadap sejarah dan arsitektur.

Lonceng Gerbang Ereveld

Lonceng gerbang Ereveld

Sejarah Ereveld Menteng Pulo
Setelah lima tahun berlalu, saya kembali mengajukan permohonan untuk mengunjungi tempat ini. Saya harus mengirimkan surat permohonan kepada Director of OGS Indonesia, Mr. Steenmeijer. Beberapa hari kemudian saya dihubungi oleh sekertaris OGS, mbak sekertaris berkata bahwa permohonan saya dikabulkan dan saya boleh mengambil “tiket masuk” untuk dibawa ke Ereveld.

Setibanya di lokasi, saya melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, lalu membunyikan lonceng pengunjung. Hal baru yang saya temukan adalah konblok rapi yang kini melapis area parkir. Tak lama kemudian, Bapak Eliza selaku opzichter datang dan menemani saya berkeliling.

Kompleks ini mulai dibangun tahun 1947 hingga 1949. Pemerintah Indonesia menghibahkan lokasi ini kepada Pemerintah Belanda untuk menampung jasad korban perang dari masa pendudukan Jepang hingga tahun 1949. Di bulan Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Mereka yang dikuburkan di sini adalah pria, wanita dan anak-anak dari kalangan sipil maupun militer.

Jendral H. S. Spoor

Letnan Jenderal Hendrik Simon Spoor

Letnan Jenderal Hendrik Simon Spoor yang saat itu menjadi pemimpin militer tertinggi Belanda di Hindia Timur (Indonesia) ikut memasang prasasti yang kini masih bisa dilihat di gerbang utama. Tulisan di prasasti tersebut berbunyi: “8 December 1947 eerste steen gelegd door zijne excellentie de lt-gen s.h. spoor leger commandant “ terjemahannya kira-kira: “8 Desember 1947, peletakan batu pondasi oleh yang terhormat pemimpin Angkatan Darat Letnan Jendral H. S. Spoor”.

Sepanjang tahun 1946 hingga 1950, terdapat sekitar 22 Makam Kehormatan Belanda di tanah air yang dibangun oleh Dinas Pemakaman Tentara Belanda. Atas permohonan Pemerintah Indonesia, pemakaman tersebut lalu disatukan di Pulau Jawa. Setelah tahun 1960, Menteng Pulo menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi jasad-jasad yang dipindahkan dari beberapa daerah di Indonesia seperti Banjarmasin (1961), Tarakan (1964), Menado (1965), Palembang (1967), Balikpapan (1967), Makassar (1968) dan Cililitan (1968).

Di tempat ini terdapat 3356 buah makam yang dibagi dalam 18 blok atau vak. Blok seven december division diisi oleh jasad Pasukan Khusus Belanda yang dikirim untuk misi pemulihan setelah kekalahan Jepang. Blok Cililitan menjadi tempat bersemayam mereka yang dahulu beragama Islam. Dan blok penerbang menjadi tempat khusus bagi jasad anggota Angkatan Udara Belanda (Luchtvaartbrigade) ditandai oleh sebuah tugu dengan hiasan berupa baling-baling pesawat dan sebuah prasasti bertuliskan “ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden” yang artinya kira-kira: “Untuk rekan-rekan kami yang telah jatuh”.

Anggota KNIL

Anggota KNIL asal Papua tengah mempelajari cara merakit senjata

Warga Indonesia yang dimakamkan di sini, kebanyakan berprofesi sebagai Tentara KNIL. Beberapa direkrut dari daerah seperti Ambon, Papua dan Jawa. Saya melihat beberapa nisan yang memiliki lebih dari satu nama. Hal ini terjadi karena jasad tidak teridentifikasi dengan baik saat makam dipindahkan. Namun mereka dimakamkan di lubang yang terpisah. Untuk menghindari nama tertukar, sekian nama ditulis pada satu nisan saja.

Selain di Menteng Pulo, ereveld lainnya berada di Ancol, Leuwigajah dan Pandu (Bandung), Candi dan Kalibanteng (Semarang) serta Kembang Kuning (Surabaya). Secara teratur Pemerintah Belanda mengakomodasi perjalanan bagi keluarga korban perang dan veteran untuk mengunjungi ereveld di Indonesia secara cuma-cuma.

Gereja Simultaankerk

Gereja Simultaankerk tampak depan, loncengnya dibuat di Belanda tahun 1950

Simultaankerk & Columbarium
Kompleks pemakaman ini terlihat menarik dengan berdirinya sebuah gereja simultan dengan bentuk yang indah. Gereja ini didisain oleh Letkol H. van Oerle dari Royal Netherlands Engineer dan disebut-sebut mengadopsi perpaduan gaya arsitektur dari gereja, masjid, kuil dan sinagoga. Namun saya masih mereka-reka bagian mana dari gedung yang merepresentasikan keempat rumah ibadah tersebut. Bentuk menaranya dengan tinggi 22 meter, justru mengingatkan saya kepada Gereja Oia di Santorini, Yunani.

Mbah wiki menyebutkan istilah simultaankerk dalam konteks ini mengandung arti penggunaan gereja oleh komunitas agama yang berbeda-beda. Pada bagian atap gereja terdapat empat menara mini dengan empat simbol agama yang berbeda. Mungkin sang arsitek memiliki konsep bahwa pemakaman ini, adalah tempat istirahat terakhir bagi manusia dengan keyakinan yang berbeda, namun “dikumpulkan” oleh suatu peristiwa yang sama, yaitu peperangan.

Simbol-simbol di Ereveld

Logo phoenix, pohon, kupu-kupu dan jam pasir

Bangunan ini juga memiliki bermacam simbol. Pada pintu masuk gereja terdapat enam simbol flora dan fauna. Pada pintu sebelah kiri terdapat simbol ikan, tanaman dan buah-buahan, sementara pada pintu sebelah kanan terdapat simbol burung, hewan dan pohon. Bila kita melangkahkan kaki memasuki gereja, kita akan menemukan simbol lain pada dinding sebelah kanan. Saya melihat simbol burung phoenix yang melambangkan kekekalan (De Onvergankelijkheid), simbol pohon yang melambangkan kehidupan (Het Leven), simbol kupu-kupu dilingkari ular yang melambangkan keabadian (De Eeuwigheid) dan simbol jam pasir yang melambangkan waktu (De Tijd). Ingin rasanya Robert Langdon (tokoh fiktif ahli simbol dalam novel The Da Vinci Code) berada di samping saya untuk menjelaskan asal usul dan maksud pemasangan simbol-simbol tersebut.

Jembatan Sungai Kwai

Jembatan yang kisahnya diangkat lewat film The Bridge on the River Kwai (1957)

Di dalam gereja terdapat salib yang kayunya didatangkan dari perbatasan Thailand dan Myanmar. Rupanya kayu ini merupakan bantalan rel dari jalur kereta api maut, yang dibuat oleh tentara sekutu yang menjadi tawanan tentara Jepang. Saat mengunjungi Thailand beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengunjungi sebuah ereveld di Provinsi Kanchanaburi dan Jembatan Sungai Kwai yang legendaris itu. Saya dengar besi yang digunakan untuk membangun proyek tersebut didatangkan dari Pulau Jawa.

Columbarium

Beberapa wisatawan asal Belanda tengah menyusuri Columbarium sambil melihat nama prajurit yang tertera pada tabung

Tepat di sebelah gereja terdapat sebuah kolam dengan air mancur yang sengaja dibuat untuk memperindah gereja. Di seberang kolam terdapat columbarium, koridor dengan relung-relung pada dinding yang menjadi tempat menaruh tabung-tabung besi. Tabung yang jumlahnya 754 buah tersebut, berisi abu dari korban perang yang dikremasi oleh tentara Jepang. Tiap kaleng menampilkan nama, jabatan, tanggal lahir dan tanggal wafat. Saya bergidik saat mengetahui bahwa selain abu, di dalam kaleng juga terdapat sisa tulang dari jenazah, sehingga saat diguncang terdengar bunyi “duk-duk-duk”.

Air mancur dengan latar columbarium

Columbarium dengan kubahnya yang unik

Columbarium yang selesai dibuat tahun 1950 ini berbentuk huruf L, ditopang oleh deretan pilar berwarna putih dengan sebuah kubah berbentuk buah pir berwarna tosca diatasnya. Tepat di bawah kubah terdapat tabung dari seorang serdadu tanpa nama dan patung seorang wanita dengan obor di tangan kanan. Di atas kepalanya tertulis “De geest heeft overwonnen” yang berarti “Roh telah menang”. Kalimat ini ternyata semboyan dari Seksi Pemakaman Angkatan Darat Belanda.

Simultaankerk dan columbarium memiliki jendela dengan kaca patri berwarna-warni yang dibuat oleh C. Stauthamer. Tiap jendela memiliki gambar dengan arti yang berbeda-beda. Jendela pada Columbarium melukiskan persahabatan, sementara jendela-jendela di gereja melukiskan kalimat-kalimat religius. Saat kedubes Australia mengalami pengeboman di tahun 2004, sebuah jendela di sudut gereja ikut pecah karena tekanan udara yang begitu kuat.

Pengunjung Ereveld
Setelah menyisir areal gereja dan columbarium, Pak Eliza mengajak saya berkeliling areal pemakaman seluas 29.000 meter persegi ini. Beliau menunjukkan beberapa monumen seperti monumen 7 december division, Monumen Angkatan Udara, Monumen Angkatan Laut dan monumen bendera. Lalu kami beristirahat di sebuah gazebo beratap tanaman merambat yang disebut Rosarium.

Menara Gereja Simultaankerk

Menara gereja dengan foreground pintu berlogo burung

Opzichter yang sudah sekian tahun bekerja di tempat ini, berkisah mengenai tamu-tamu yang datang  tiba-tiba tanpa membawa ijin tertulis. Bahkan pernah ada tamu yang datang ditemani fotografer, lengkap dengan kostum pernikahan. Selain pasangan prewedding, tamu yang kadang berkunjung adalah rombongan kru sinetron, yang tanpa kenal menyerah terus membujuk agar diijinkan memasuki pemakaman.

“Setiap bulannya ada sekitar 50 hingga 120 wisatawan yang mengunjungi Menteng Pulo” ujar Pak Eliza. Saat kami berbincang-bincang, lima orang turis bule asal Belanda datang berkunjung ditemani seorang guide. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka menyusuri setiap sudut dan menanyakan hal-hal detil kepada opzichter dalam Bahasa Belanda. Kompleks ini pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur DKI di tahun 1995 dan 1997, untuk pemeliharaan bangunan yang mendukung pelestarian tapak sejarah perkembangan Kota Jakarta.

Petugas KebersihanRutinitas di Menteng Pulo
Bila melihat pada kerapihan tanaman dan kebersihan makam, pastilah perawatannya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pak Eliza bercerita bahwa rumput pemakaman disiram dua kali sehari dan dipotong seminggu sekali. Waktu pemotongannya sendiri memakan waktu hingga empat hari untuk seluruh area makam. Untuk kayu nisan, dua minggu sekali dibersihkan dengan air dan sabun. Bila tulisan pada nisan luntur, maka dilakukan pengecatan ulang.

Peringatan 15 Agustus

Peringatan berakhirnya Perang Dunia II dilaksanakan setiap Bulan Agustus

Dalam setahun terdapat dua kali peringatan yang dilaksanakan di sini. Yang pertama adalah peringatan invasi Jerman ke Belanda tanggal 14 Mei, dan yang kedua peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia tanggal 15 Agustus. Saat peringatan berlangsung, Ereveld Menteng Pulo dikunjungi oleh beberapa warga Belanda dan perwakilan negara sahabat yang tinggal di Jakarta. Mereka berkumpul di dalam gereja, mendengarkan pidato dari Duta Besar, lalu berjalan beriringan menuju monumen bendera untuk berdoa dan meletakkan karangan bunga di atas makam. Acara diakhiri dengan beramah-tamah sambil menikmati hidangan ringan.

Saat saya mengunjungi kantor OGS di Blok M, saya melihat foto saat konstruksi awal bangunan ini tengah dikerjakan. Tampak pepohonan lebat menjadi latar belakang. Kala itu daerah ini memang berada di luar kota Jakarta. Kini pepohonan kelapa sudah digantikan oleh pemukiman padat dan pohon-pohon beton bernama apartemen, yang tumbuh jauh lebih tinggi.

Di tengah himpitan hutan beton, jasad Jenderal yang dulu pernah sukses memimpin Agresi Militer Belanda, terbaring dengan tenang di tempat yang dia inginkan. Letjen H. S. Spoor beristirahat dalam damai di antara jasad rekan-rekannya.

=====================================================================

Foto berasal dari koleksi pribadi dan buku Gedenkschrift Koninklijk Nederlands-Indisch Leger 1830-1950 (atas ijin Oorloch Gravenstichting).
Tanggal perjalanan: September 2011

Peta lokasi Makam Kehormatan Belanda di Jakarta

Peta lokasi Makam Kehormatan Belanda di Jakarta

 

Tagged: , , , , , , , , ,

§ 45 Responses to Ereveld Menteng Pulo, “sepetak” Belanda di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ereveld Menteng Pulo, “sepetak” Belanda di Jakarta at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta