Malaka, Jejak Sriwijaya di Malaya

10 March 2013 § 1 Comment

Air Mancur VictoriaKota kecil yang letaknya strategis ini, bergantian diduduki oleh tiga negara dari Eropa. Budaya Melayu, India dan Cina turut mempercantik wajahnya. Di balik semua itu, siapa sangka kalau kota ini awalnya dibangun oleh seorang raja yang berasal dari Indonesia?

Kisah Parameswara
Di masa kejayaannya, pengaruh Majapahit di nusantara terasa begitu kuat, hingga membuat Raja Sriwijaya melarikan diri ke Temasek (sekarang wilayah Singapura). Di Temasek, sang raja mendirikan kerajaan Singapura lama yang diwariskan kepada tiga generasi dibawahnya hingga Parameswara. Pada tahun 1402, tekanan dari Majapahit dan Siam membuat sang raja melarikan diri, hingga suatu saat tiba di tepi sungai Malaka.

Kancil Malaka

Kisah yang menginspirasi berdirinya Kota Malaka

Saat Raja Parameswara dan pengikutnya tengah beristirahat, anjing-anjing pemburu mereka mendapati seekor kancil dan menyudutkannya ke tepi sungai. Namun si kancil melawan balik dengan sengit, hingga membuat seekor anjing jatuh ke sungai. Perlawanan sang kancil menggugah niat sang raja hingga memutuskan untuk membangun sebuah kota di tempat itu. Kota itu dinamakan Malaka, yang diambil dari nama pohon tempat mereka berteduh.

Parameswara melihat jalur perdagangan yang ramai dari Eropa hingga ke Cina melalui Selat Malaka akan mendatangkan keuntungan. Ia lalu mulai meyakinkan penduduk setempat untuk menjual hasil bumi dan menawarkan kapal-kapal dagang yang lewat untuk singgah. Dengan hasil bumi yang berlimpah dan jaminan keamanan dari bajak laut, para pedagang mulai memperhatikan pelabuhan baru tersebut. Kampung kecil itu pun berkembang menjadi kota yang ramai.

Istana Sultan Malaka

Replika Istana Sultan Malaka

Parameswara memeluk islam setelah menikahi seorang putri dari Kerajaan Samudera Pasai. Hal ini sedikit banyak turut mengangkat posisi Malaka di mata para pedagang dari Gujarat, Persia dan Arab. Laporan dari perjalanan Cheng Ho, menyiratkan bahwa pada tahun 1409 rakyat Malaka sudah beragama islam. Parameswara juga mengambil langkah strategis dengan mengunjungi Cina sebagai negara kuat di Asia. Secara turun temurun, jabatan Sultan Malaka lalu dipegang oleh anak cucu Parameswara. Masa keemasan Malaka ini juga menampilkan sepak terjang Hang Tuah dan rekan-rekannya, yang mengabdi untuk kesultanan.

Perkembangan yang pesat dan letaknya yang menguntungkan, membuat banyak kerajaan di Asia Tenggara berminat untuk mengambil alih Malaka, misalnya Siam, Demak dan Aceh. Pada waktunya, para penjajah Eropa yang rakus rempah-rempah, akan membuang sauh di Malaka.

Sisa-sisa Arsitektur Eropa
Lokasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Malaka adalah Red Square. Di tempat ini terdapat air mancur Victoria, Menara Jam, Christ Church dan Gedung Stadthuys.
Air mancur Victoria didirikan pada tahun 1904 untuk mengenang Ratu Victoria (1837-1901) dari Inggris. Setiap hari banyak wisatawan berfoto di sekitarnya. Air mancur ini merupakan salah satu karya arsitektur yang dibuat pemerintah kolonial Inggris selama 120 tahun pendudukannya di kota berlambang keris dan kancil ini.

Area bersejarah di Malaka

Red square, tempat berkumpulnya wisatawan di Malaka

Pemerintah Inggris juga memberikan sentuhan pada bangunan warisan Belanda seperti Christ Church. Gereja Protestan yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1741 ini membutuhkan pengerjaan selama 12 tahun. Setelah Belanda pergi dari Malaka, Inggris merubah warna eksteriornya dari putih menjadi merah marun dan menambah alat penunjuk arah angin berbentuk ayam jantan di bagian atapnya.

Di sisi kiri gereja, terdapat Stadthuys yang bisa diartikan sebagai balai kota. Pada masa pendudukan Belanda, gedung ini berfungsi sebagai kantor Gubernur. Setelah Malaka diserahkan kepada Inggris, gedung ini berfungsi sebagai sekolah dan kini menjadi Museum Sejarah dan Budaya. Inilah historical area yang dimana beberapa peninggalan arsitektur bisa disambangi hanya dengan berjalan kaki saja.

Reruntuhan Gereja St. Paul

Reruntuhan Gereja St. Paul

Menaiki punggung bukit di bagian belakang Stadthuys, jalan setapak akan menuntun Anda menuju reruntuhan Gereja St. Paul. Dibangun oleh Portugis di tahun 1521, gereja ini pernah menjadi tempat bersemayam sementara bagi jasad misionaris Katolik, Fransiscus Xaverius. Setelah Belanda merebut Malaka dari tangan Portugis dan membangun Christ Church, lokasi gereja ini dijadikan tempat pemakaman dan dinamakan St. Paul Church.

Meriam Benteng A Famosa

Meriam di benteng A Famosa

Mengikuti jalan setapak menurun, saya menemukan reruntuhan bangunan Portugis lainnya di kaki bukit. Sebuah gerbang yang tersisa dari sebuah benteng Portugis bernama A Famosa. Di bagian atas gerbang terdapat tulisan “Anno 1670” dan logo VOC, menandakan bahwa Belanda pernah merenovasi benteng ini di tahun 1670.

Saat Napoleon menguasai Eropa, Inggris khawatir bahwa pasukan Perancis akan mencapai Malaka dan memanfaatkan A Famosa, sehingga benteng ini lalu dihancurkan. Sir Stamford Raffles yang tengah mengunjungi Malaka, memiliki pemikiran berbeda mengenai bangunan bersejarah dan meminta agar penghancuran dihentikan. Sayang sekali, yang tersisa hanya gerbangnya saja dari keseluruhan kompleks benteng.

Saya bertemu dengan seorang pedagang kaki lima yang menjual foto-foto hitam putih tentang Malaka di masa lalu. Salah satu fotonya, menampilkan A Famosa saat masih ditutupi lebatnya hutan. Lima tahun yang lalu, saat pertama kali mengunjungi Malaka, saya pernah berbincang-bincang dan mengambil foto bapak ini. Kini saya kembali bertemu dengannya, rasanya seperti bertemu teman lama saja.

Bertamu ke rumah Baba dan Nyonya
Tertarik untuk mengetahui budaya peranakan di Malaka, saya melangkahkan kaki ke Baba Nyonya Heritage Museum di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Baba adalah sebutan bagi pria berdarah Cina yang menikahi wanita setempat. Sedangkan istri dari baba disebut nyonya, kebanyakan berdarah Melayu.

Dalam sejarahnya, seorang Sultan Malaka yang bernama Sultan Manshur Shah juga menikahi putri Hang Li Poh yang merupakan keturunan Kaisar Ming. Hal ini membuat hubungan Malaka dan Cina menjadi lebih baik lagi, terutama pada sisi perdagangan dan budaya.

Museum warisan peranakan di Malaka

Museum warisan peranakan di Malaka

Setelah membayar tiket masuk sebesar 8 RM, saya dan beberapa pengunjung dikumpulkan di ruang tamu. Guide kami yang bernama Mildred, mengajak berkeliling sambil menerangkan segala sesuatu mengenai museum ini. Rumah Baba dan Nyonya terdiri dari tiga buah rumah dua lantai yang dijadikan satu. Bagian belakang rumah di lantai pertama terdiri dari ruang makan keluarga, lalu berturut-turut disebelahnya dapur dan ruang makan pelayan.

Mildred juga memberikan penjelasan mengenai bahan dasar furniture, warna-warna yang digunakan untuk situasi tertentu, arti dari lukisan, peralatan kuliner dan lain sebagainya. Sayang sekali, peraturan melarang kami untuk mengambil foto di dalam rumah.

Saat menaiki tangga menuju kamar lantai dua, kami diminta untuk melepas kasut (alas kaki). Kamar tuan rumah berada di lantai dua, tepat di atas pintu masuk dan kamar anak-anak berada di belakangnya. Di dalam kamar, Mildred memperlihatkan koleksi pakaian tuan rumah. Salah satu hal yang membuat saya bangga adalah, dari sekian jenis pakaian yang dimiliki nyonya, salah satunya adalah kebaya berwarna hijau asal Bandung. Ini menjadi bukti bahwa sejak masa lalu kreasi bangsa sudah menjadi barang yang digunakan oleh kaum berada di luar nusantara. “Dengan bukti ini akan sulit untuk diakui bahwa kebaya berasal dari Negeri Jiran,” saya berkata dalam hati…

Masjid-masjid di Malaka

Portrait seorang umat di Masjid Tengkera

Portrait seorang umat di Masjid Tengkera

Dari sekian banyak masjid tua yang berada di Malaka, saya hanya sempat menyambangi tiga buah saja. Yaitu Masjid Kampung Keling, Masjid Kampung Hulu dan Masjid Tengkera. Ketiganya memiliki kemiripan gaya arsitektur.

Masjid Tengkera yang pertama saya sambangi, dibangun pada tahun 1728 atau 1226 Hijriah seperti yang tertera pada gerbangnya. Struktur aslinya menggunakan kayu yang berasal dari Kalimantan. Tercatat sejak tahun 1780 sudah mengalami renovasi. Seluruh bagian masjid dirubah kecuali bagian minaretnya. Sejak tahun 1976, masjid ditetapkan menjadi bangunan bersejarah, semua hal yang berhubungan dengan perbaikan dan renovasi harus melalui pengawasan Malaysian Museum and Antiquity Department.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur yang dipengaruhi gaya arsitektur Sumatera dengan atap susun tiga dan ukiran batu di bagian atasnya. Sementara bentuk minaret bersegi delapannya, dipengaruhi budaya Cina.

Masjid Kampung Kling

Masjid Kampung Kling, dahulu para pedagang asal India menggunakan sumur milik masjid ini

Di bagian belakang masjid terdapat pemakaman umum. Salah satu makam yang terkenal adalah makam Sultan Hussein Muhammad Shah, yaitu Sultan Johor yang menjual Singapura kepada Inggris.

Masjid Kampung Hulu yang saya kunjungi berikutnya, terlihat seperti kembaran Masjid Tengkera. Dindingnya berwarna putih dengan langit-langit dan kusen berwarna cokelat. Masjid ini dibangun oleh seorang tokoh Melayu bernama Datuk Samsuddin pada tahun 1720. Hampir semua masjid yang didirikan sejak jaman Kesultanan Malaka telah roboh oleh rayap karena hanya menggunakan kayu. Sejak tahun 1892 Masjid Kampung Hulu sudah diperkuat dengan pondasi batu.

Berbeda dengan Portugis, Belanda lebih memberi ruang bagi aktifitas muslim sehingga hubungan antara suku dan ras terjalin dengan baik di Malaka. Pada jaman itu, jumlah masjid di Malaka bertambah dengan bentuk seragam.

Transportasi dan akomodasi
Walaupun Malaka sudah memiliki bandara sendiri (Malacca International Airport), namun kebanyakan penerbangan dari Indonesia mengarahkan wisatawan ke Kuala Lumpur. Dari Bandara LCCT, terdapat bus Transnasional yang mengantarkan Anda langsung ke Malaka. Jadwal keberangkatannya setiap pukul 09:00, 11:30, 16:00 dan 20:00. Sementara dari Kuala Lumpur, Anda bisa mencari bus ke Malaka dari Terminal Pudu Raya. Perjalanan akan memakan waktu selama dua hingga tiga jam.

Bis No17 Malaka

Bis dari Terminal Sentral yang rutenya melewati Stadthuys

Sesampainya di Terminal Malaka Sentral, Anda bisa menaiki bus nomor 17 yang akan mengantarkan ke Stadthuys dengan tiket 1 RM. Jangan lupa untuk membeli tiket kembali ke KL, selagi berada di Terminal.

Saat saya berada di dalam bus kota, saya sempat bertemu dengan sekelompok remaja asal Indonesia. Mereka menginap di Hotel Mahkota di Jl. Syed Abdul Aziz. Hotel yang bagi saya tampak mewah, lokasinya berada dekat dengan pusat perbelanjaan dan hiburan Malaka, yaitu Mahkota Parade dan Dataran Pahlawan.

Jonker St Malaka

Wisatawan tengah menyusuri Jonker Street yang dipenuhi kafe, toko cenderamata dan restoran

Untuk mencari penginapan murah, dari depan Stadthuys langkahkan kaki Anda menyeberangi jembatan menuju kawasan Chinatown. Saya sendiri menginap di sebuah dormitory sederhana di Jl. Tukang Besi dengan tarif 15 RM per malam.

Jonker Street yang berada di kawasan Chinatown menjadi tempat mengisi perut dan berburu cenderamata. Jalan ini menjadi pusat keramaian para wisatawan, sehingga sering mengalami kemacetan saat musim liburan.

Setelah puas menjelajah, saya beristirahat di tepi Sungai Malaka sambil minum cendol made in Malaysia. Saya melihat banyak hotel bermekaran di kota ini. Pikiran saya melambung jauh, membayangkan sejarah bangsa sejak jaman Majapahit yang pastinya lebih megah dibandingkan sejarah setempat. Walaupun masa lalu negeri tetangga tidak semegah bangsa kita, namun secara ekonomi, mereka mampu bangkit dari krisis lebih cepat.

====================================================================

Bantaran Sungai Malaka

Tips dan info:

  1. Malaka juga menarik diabadikan di malam hari. Selain Red Square, spot lainnya bisa dikunjungi adalah daerah tepian sungai dan rickshaw yang meriah oleh lampu berwarna-warni. Pada perayaan Imlek, Kota Malaka menjadi lebih semarak dengan lampion-lampion di sepanjang jalan.
  2. Kota Malaka diramaikan oleh burung gagak yang bersarang di pohon-pohon besar di tepi sungai. Hindari berada di bawah pohon agar tidak terkena kotoran burung saat memotret di malam hari.
  3. Untuk mengikuti tur menjelajah sungai, datangilah loket River Cruise yang terletak di samping Museum Maritim. Anda akan di ajak mengarungi Sungai Malaka sepanjang sembilan kilometer selama 45 menit dengan tarif 10 RM untuk dewasa. Saya menyarankan perjalanan di malam hari untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah.
  4. Kunjungilah pusat informasi turis di depan Stadthuys, untuk mendapatkan brosur dan informasi wisata lainnya.

Tanggal perjalanan: Agustus 2010.

Tagged: , , , ,

§ One Response to Malaka, Jejak Sriwijaya di Malaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Malaka, Jejak Sriwijaya di Malaya at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta