Berwisata Imlek di Singapura

9 December 2012 § Leave a comment

Akhirnya hari yang dinanti-nantikan tiba. Kesempatan untuk merekam Singapura saat Imlek telah datang. Perayaan Sin Cia di negeri ini terentang hampir satu bulan lamanya. Sebagian kecil perayaan ini saya kisahkan kepada Anda.

Khusuk di depan gerbang

Tulisan Singtel (perusahaan telekomunikasi di Singapura) tertera di layar handphone setelah saya mengaktifkannya kembali. Saya baru saja mendarat di Singapura setelah pesawat yang saya tumpangi mengalami delay selama satu jam di Soekarno-Hatta. Jam di HP saya secara otomatis mengikuti waktu lokal yang berjalan satu jam lebih cepat. Waktu Indonesia Bagian Barat berjalan lebih lambat satu jam dibandingkan waktu di Malaysia dan Singapura.

Sebuah sms saya kirimkan kepada keluarga di tanah air. Selain mengabarkan keadaan, hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui tarif layanan sms dari sebuah negara. Dari beberapa titik perayaan, saya memilih mengunjungi The Float, dermaga apung di Marina Bay yang menjadi tempat peluncuran kembang api. Esplanade adalah stasiun monorail terdekat dengan lokasi.

Kembang Api di Marina BayMarina Bay
Saat keluar dari monorail, saya melihat seorang warga setempat yang tengah mengalungkan DSLR. Sandalnya tampak basah, di bajunya terdapat beberapa bekas tetesan air, mungkin hujan turun saat ia tengah hunting Imlek. Saya menanyakan arah dan sempat berkenalan dengannya. Mr. Jack berkata di luar hujan agak deras sehingga ia mengalihkan hunting ke Chinatown. Penasaran, saya tetap berjalan keluar stasiun dan dugaan saya tidak meleset, hujan deras sudah beralih menjadi gerimis. Saat tiba di lokasi, hujan sudah berhenti sama sekali dan perhitungan mundur tengah berjalan. Berpacu dengan waktu, saya segera mencari posisi, memasang tripod dan mengambil foto.

Menikmati kembang api bersama keluargaSetelah kembang api selesai diluncurkan, saya mengelilingi area yang dipenuhi lampion, hiasan bergambar shio dan lampu berwarna-warni. Tanpa sengaja saya bertemu kembali dengan Mr. Jack. Ia berkata bahwa Chinatown dipenuhi manusia sehingga ia kesulitan mengambil foto dengan sudut yang bagus. Ia lalu memutuskan untuk kembali ke Marina Bay. Setelah kami selesai hunting, Mr. Jack menawarkan tumpangan karena MRT dan bis kota sudah tidak beroperasi selepas tengah malam. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Menuju parkiran mobil di bawah tanah, kami tidak berjalan dengan santai, saya harus mengimbangi kecepatan bapak ini saat menyusuri  trotoar. Saya lalu memperhatikan orang-orang yang melintas, tampaknya warga Singapura berjalan kaki dengan kecepatan tinggi, seolah-olah enggan membuang waktu.

Menginap di Chinatown
Berbekal GPS, kami meluncur cepat menuju Mosque Street di kawasan Chinatown. Dalam perjalanan, Mr. Jack menceritakan beberapa hal mengenai Singapura, salah satunya mengenai pembatasan kendaraan lewat surat ijin penggunaan kendaraan yang berlaku sekitar sepuluh tahun saja. Bila masa berlakunya sudah lewat, biaya perpanjangannya hampir sama dengan membeli sebuah mobil baru.

Street hunting di sekitar ChinatownSaya mengucapkan terimakasih dan sampai bertemu kembali, saat Mr. Jack menurunkan saya di dekat penginapan. Walaupun sudah memesan tempat di sebuah hostel, saya masih berkeliling mencari alternatif yang lebih baik lagi. Sayangnya, tempat lain memiliki rate yang lebih tinggi.

Hostel Backpackers Inn di Mosque Street saya pilih sebagai basecamp. Selain dekat dengan beberapa spot wisata Imlek, jaraknya dari Marina Bay hanya sekitar dua hingga tiga kilometer saja. Sehingga bila layanan transportasi tutup, saya masih bisa pulang dengan berjalan kaki. Di sekitar Chinatown terdapat objek wisata seperti kuil Hindu Sri Mariamman, klenteng Thian Hock Keng, kuil Buddha Tooth Relic, museum Chinese Heritage Center dan Masjid Jamae.

Suasana ramai di sekitar ChinatownSebulan sebelumnya saya sudah mendaftarkan diri lewat internet. Hostel ini menyediakan mixed dormitory, female dormitory dan private room untuk tamunya. Setiap tamu diberikan kode akses untuk melewati pintu utama, cukup aman dan nyaman buat saya. Fasilitas gratis yang disediakan adalah sebuah pc dengan koneksi super cepat (kebanyakan tamu menonton video di youtube tanpa jeda koneksi) dan dua buah mesin cuci untuk menghemat biaya laundry. Namun staf di tempat ini kurang informatif saat saya menanyakan jalur transportasi alternatif.

Lebih mudah untuk menemukan warga Indonesia di Singapura dibandingkan di Malaysia. Dalam penginapan, saya bertemu dengan beberapa turis asal Medan dan Denpasar yang tengah berwisata, mereka membawa serta anak-anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Patung lembu di kuil Sri MariammanBuddha Tooth Relic
Pagi pertama di tahun Kelinci, saya isi dengan menyambangi kuil Hindu Sri Mariamman yang terletak di Pagoda Street. Patung-patung disini terlihat lebih bagus dan besar dibandingkan patung-patung Hindu di Penang. Sebuah bus yang baru saja tiba, terlihat tengah memuntahkan serombongan turis bule. Mereka berjalan memasuki kuil. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba ditegur oleh seorang petugas. Rupanya, untuk mengambil gambar di dalam kuil, dikenakan biaya sebesar 3 Dollar Singapura.

Terus menyusuri North Bridge Road, saya menemukan sebuah bangunan berarsitektur Cina yang merupakan sebuah kuil bernama Buddha Tooth Relic. Di depan gerbang, empat “ekor” barongsai tengah menari-nari dengan iringan musik. Bersama pengunjung lain, saya memasuki kuil ini.

Mendampingi UmatUmat Buddha datang membanjiri tempat ini, mereka berdoa sambil didampingi seorang pendeta secara bergiliran, lalu mengisi mangkuk logam di sisi kiri kanan ruangan dengan koin secara berurutan. Tiga buah patung besar mengisi ruang utama di lantai dasar, terlihat indah dan menyatu dengan dekorasi di sekitarnya. Karena tidak ada larangan untuk mengambil gambar, saya mengabadikan tiga orang pendeta dan patung-patung di dalam kuil. Beberapa pengunjung ikut mengabadikan objek yang saya ambil dengan handphone.

Hal yang menurut saya paling menarik dari tempat ini adalah koleksi sebuah gigi geraham yang diyakini milik Sang Buddha. Gigi tersebut didapat dari seorang pendeta asal Myanmar. Dan saya tengah berada di saat yang tepat, karena hari ini masyarakat umum diperbolehkan untuk melihatnya. Yihaaaa!

Berdoa untuk umatGigi Sang Buddha berada di lantai empat. Di sana terdapat sebuah aula yang dipenuhi oleh umat yang melantunkan doa secara bersama-sama. Sebelum memasuki aula, wajib untuk melepas alas kaki. Saya mengikuti serombongan umat yang juga hendak melihat gigi tersebut dari dekat. Di sini terdapat larangan untuk mengambil foto.

Rupanya gigi tersebut diletakkan di sebuah bilik kaca mini dengan kubah yang terbuat dari lapisan emas. Di sekitarnya terdapat beberapa benda yang juga berlapis emas. Dinding dan langit-langit ruangan tempat menyimpan gigi itu juga dihias oleh lapisan berwarna emas dengan ukiran-ukiran indah. Warna di tempat ini memang didominasi warna identik Buddha, merah dan emas. Sebuah kaca tebal membatasi pengunjung dengan ruangan itu. Saya melihat sebentuk gigi geraham berukuran besar yang dilingkari oleh sebuah cincin emas. Seorang staf yang bertugas bercerita bahwa ukuran gigi tersebut secara ajaib terus mengalami perkembangan.

Menggantung kertas berisi doa dan harapanSelesai melihat relik tersebut, saya mengunjungi museum Buddha dan sejarah kuil di lantai tiga, serta toko yang menjual buku-buku dan benda-benda rohani di lantai dua. Bila Anda hendak mengisi perut, pergilah ke kantin yang terdapat di belakang kuil.

Kemeriahan di Chinatown
Selepas memuaskan dahaga, saya berjalan kembali menuju penginapan. Sore ini pemilik penginapan mengundang rombongan barongsai untuk memberkati usahanya. Saat barongsai mulai beraksi, para tetangga dan tamu hostel turun keluar menyaksikan atraksi. Suara tambur, gembreng dan kemong menyemarakkan suasana. Di akhir atraksi, para penari menyusun ucapan selamat yang dibuat dari isi buah jeruk di atas jalan.

Barongsai di depan penginapanSetelah pertunjukkan berlalu, saya berjalan-jalan menuju Pagoda Street dan Temple Street untuk melihat berbagai macam barang dagangan bernuansa Imlek seperti mahyong, boneka-boneka dan penghias meja. Sementara untuk urusan kuliner, Smith Street menyajikan deretan warung makanan.

Menyambut tahun baru Cina, pemerintah Singapura menggelar beberapa event mulai pertengahan januari hingga awal maret seperti upacara pembukaan, pemasangan lampion, bazaar, kejuaraan barongsai, dan lain sebagainya.

Wisata Imlek di Singapura cukup menarik untuk dikunjungi. Banyak warna yang bisa diabadikan bagi penghobi fotografi. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara, Singapura yang wilayahnya relatif paling kecil, menawarkan kemudahan transportasi dan fasilitas penunjang wisata yang sangat baik. Namun, menurut saya berwisata di sini quite costly. Sebotol air mineral berukuran sedang yang harganya sekitar Rp. 3000,- di Indonesia atau sekitar RM. 1,- di Malaysia, harganya sekitar 1 Dollar Singapura atau Rp. 6000,- di sini.

=======================================================================

Backpackers InnTips Travel:

  • Untuk penginapan murah, Anda bisa mengunjungi laman http://www.backpackersinn.com.sg bila berminat untuk menginap di sekitar Chinatown atau kunjungi http://www.cozycornerguest.com untuk menginap di daerah Kampung Bugis. Posisinya yang berada di belakang mall Bugis Junction, memberikan banyak pilihan kuliner dan kemudahan untuk membeli berbagai kebutuhan.
  • Stasiun Tanah Merah menjadi stasiun monorel satu-satunya yang melayani transportasi dari dan menuju bandara Changi.
  • Pelajari jalur MRT di Singapura sebelum berwisata. Ada empat jalur MRT yang diwakili oleh empat warna berbeda. Anda bisa berganti jalur di setiap intersection.
  • Anda bisa menggunakan kartu EZ-Link untuk menaiki bis atau monorel. Dengan kartu prabayar ini, biaya yang dikeluarkan bisa sedikit lebih murah. Ada baiknya bila Anda membawa sedikit Dollar Singapura dari tanah air atau menukarnya sesudah tiba di bandara Changi.
  • Saat Imlek, tidak semua kedai makanan di Chinatown buka sehingga beberapa kedai yang masih beroperasi, memberikan harga yang lebih tinggi.

Tanggal perjalanan: Februari 2011.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Berwisata Imlek di Singapura at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta