Berkenalan dengan Hanoi

28 October 2012 § 21 Comments

Awan kelabu menaungi  Hanoi saat kami mengunjungi Ibu kota Vietnam ini. Terbayang dalam benak kami, warna abu-abu flat akan senantiasa menghiasi background  foto-foto kami. Sementara itu, language barrier ikut menghalangi kami untuk berinteraksi, mengakrabkan diri dengan Hanoi. Namun pada akhirnya, kota ini mampu membuat kami ingin tinggal lebih lama lagi.

Anton, seorang kawan lama mengajak saya untuk mengunjungi Hanoi, seiring dengan program promosi sebuah airlines. Rupanya, ia sudah lama memendam keinginan menjelajah kota ini. Saya memilih untuk santai, duduk manis dan memasang kuping saja. Semua objek hunting, detail perjalanan, dan tempat menginap, saya pasrahkan kepadanya.

Kami mendarat di Bandara Noi Bai, Hanoi, sekitar pukul 09.00 Waktu Indonesia Barat. Ternyata, Jakarta dan Hanoi memiliki kesamaan waktu. Maskapai yang kami tumpangi tidak memiliki pe­nerbangan langsung dari Jakarta ke Hanoi sehingga kami terpaksa harus transit, menginap di Bandara LCCT Kuala Lumpur dan melanjutkan penerbangan ke Hanoi keesokan paginya.

Sebenarnya, dari Jakarta tersedia penerbangan langsung ke Ho Chi Minh di bagian selatan Vietnam, tetapi perjalanan darat dari Ho Chi Minh ke Hanoi memakan waktu karena jaraknya lebih dari 1000 kilometer. Rute yang kami ambil lebih menghemat waktu karena tujuan kami adalah Ha Long Bay yang berjarak sekitar 170 kilometer saja dari Hanoi.

Pandangan Pertama
Setelah turun dari pesawat, kami berbaris bersama beberapa tenaga kerja asal  Vietnam yang sebelumnya sudah kami lihat di dalam pesawat. Rupanya banyak warga Vietnam yang mengadu nasib di negeri Jiran. Tak banyak yang bisa kami gali dari mereka, namun seorang di antara mereka sempat bercerita bagaimana ia bekerja tujuh hari dalam seminggu agar bisa mengumpulkan uang dalam waktu singkat agar bisa membuka usaha di kampung halaman.

Seperti yang saya baca dari tulisan para traveler di internet, bahasa Ing­gris masih belum dipergunakan secara luas di Vietnam. Para petugas bandara berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Vietnam atau bahasa tubuh (bila terpaksa). Untungnya, agen-agen wisata di bandara bisa berbahasa Inggris.

Setelah selesai dengan proses administrasi, kami keluar dari bandara menggunakan sebuah minibus umum berkapasitas dua belas penumpang yang mengantarkan kami menuju pusat kota, Hoan Kiem District. Hanoi terlihat ramai seperti Jakarta, namun gedung-gedung bertingkat tinggi jarang terlihat. Motor bebek dan matic mendominasi jalan-jalan, keluar-masuk  dari gang dengan gesitnya, kondisinya mirip dengan Jakarta. Bedanya, nggak ada motor yang nyerobot jalur pedestrian. Di kiri-kanan jalan terdapat banyak ruko ber­tingkat tiga dengan papan reklame berhuruf lokal. Udara di Hanoi cukup sejuk, tidak terlalu panas dibandingkan dengan Jakarta. Selain itu, kota ini juga memiliki banyak taman dengan beragam ukuran.

Pada bulan Oktober 2010, kota ini akan merayakan ulang tahunnya yang mencapai tahun ke-1000. Itu sebabnya, kami melihat banyak spanduk merah bergambar Raja Ly Thai To dan bendera yang cukup provokatif bila dikibarkan di Indonesia, yaitu bendera merah dengan lambang palu dan arit.

Sekilas Sejarah Hanoi
Kota Hanoi yang berada di tepi barat Su­ngai Merah sempat mengalami pergantian nama sesuai dengan kebijakan raja yang bertahta saat itu. Awalnya, Hanoi dibangun tahun 1010 oleh Ly Thai Tho, raja pertama dari Dinasti Ly. Nama yang diberikan oleh Ly Thai To untuk kota ini adalah Thang Long. Sedangkan nama Hanoi diberikan oleh Raja Minh Mang dari Dinasti Nguyen pada tahun 1831. Hanoi sendiri memiliki arti “berada di antara dua sungai”, walaupun sebenarnya ada banyak sungai yang membelah Hanoi.

Sama seperti bangsa kita, bangsa Vietnam juga memiliki kisah panjang mengenai peperangan. Tercatat, bangsa China, Mongolia, Prancis, dan Jepang pernah menduduki negeri ini.  Hanoi menjadi pusat peme­rintahan kolonial Prancis di Asia Tenggara tahun 1887. Wilayahnya meliputi Tonkin (Vietnam bagian utara), Annam (Vietnam bagian tengah), Conchinchina (Vietnam bagian selatan), Kamboja, dan Laos. Se­butan lain untuk wilayah ini adalah Indochina.

Vietnam juga pernah diliputi perang saudara, salah satunya perang Vietnam tahun 1964-1975 yang melibatkan Amerika Serikat. Selama masa tersebut, Hanoi kerap dihujani bom. Untung saja, situs-situs yang kami kunjungi berhasil selamat melewati masa tersebut.

Hoan Kim Lake
Hoan Kim Lake adalah satu dari empat danau besar di tengah Hanoi. Keunikan danau ini adalah keberadaan sebuah pagoda kecil di tengah danau, Tortoise Pagoda atau Pagoda Kura-kura. Danau ini berkaitan dengan keberhasilan Le Loi, seorang raja dari abad ke-15 dalam mengusir penjajah China dari daratan Vietnam.

Setiap daerah memiliki dongengnya masing-masing. Konon, Le Loi memiliki pedang ajaib yang diberikan para dewa. Setelah kemenangannya itu, Le Loi berperahu di danau ini. Saat itulah para dewa mengambil kembali pusaka tersebut. Seekor kura-kura emas muncul ke permukaan, mengambil pedang tersebut dan membawanya ke dasar danau. Kemudian, danau itu diberi nama Ho Hoan Kim, Lake of the Returned Sword.

Dari tiga ekor kura-kura besar yang pernah hidup di danau ini, saya dengar hanya seekor saja yang masih bertahan hingga kini. Masyarakat Hanoi memiliki kepercayaan, bahwa mereka akan dinaungi keberuntungan bila melihat kura-kura tersebut.  Terlepas dari mitos itu, danau ini banyak didatangi warga yang hendak melepas lelah, bermain de­ngan keluarga, atau muda-mudi yang tengah berpacaran.

Di bagian utara danau ini terdapat sebuah kuil Ngoc Son yang berdiri di atas sebuah pulau, dihubungkan sebuah jembatan kayu berwarna merah yang bernama The Huc atau sinar matahari. Kuil ini dibangun pada abad ke-18, didedikasikan kepada Jendral Trang Hung Dao yang mengalahkan pasukan Mongolia pada abad ke-13. Di dalam kuil ini terdapat seekor kura-kura dari Danau Hoan Kim yang sudah diawetkan.

Danau Hoan Kim juga menarik untuk diabadikan pada malam hari. Tortoise Pagoda di tengah danau memiliki beberapa lampu sorot, begitu pula jembatan Kuil Ngoc Son yang memiliki lampu-lampu sorot yang warnanya berubah-ubah. Pada waktu-waktu tertentu, danau ini menjadi pusat perayaan, tempat peluncuran kembang api. Misalnya, saat Hari Buruh yang diperingati 1 Mei kemarin.

Temple of Literature
Van Mieu atau Temple of Literature adalah suatu tempat yang wajib dikunjungi di Hanoi. Inilah universitas pertama di Vietnam. Dibangun tahun 1070 oleh Raja Ly Thanh Tong, Van Mieu menjadi tempat untuk mempelajari ajaran Konfusius.

Untuk mencapai Temple of Literature, kami mencegat bis nomor 2 di perempatan Jalan Hai Ba Trung dan Quang Trung. Lalu, kami turun di perempatan Jalan Chu Van An dan Nguyen Thai Hoc. Dari sana, kami sudah bisa melihat kompleks kuil yang dipagari tembok batu bata merah di seberang jalan.

Saat kami tiba, loket belum dibuka. Kami lalu membaca sederetan peraturan yang melarang pengunjung untuk merokok, mengenakan celana pendek, rok pendek, topi, dan piyama. “Hmm, masa sih, ada orang yang masuk ke dalam kuil dengan mengenakan piyama?” ujarku dalam hati. Tepat pukul 08.00, loket dibuka, kami lalu membeli karcis seharga 10.000 Dong dan memasuki gerbang kuil.

Dari brosur yang kami beli di loket, kami baru mengetahui bahwa Konfusius adalah seorang politisi, pengajar, dan filsuf yang hidup di Cina pada tahun 551-479 SM. Ia membuat suatu doktrin yang telah mengakar, mempengaruhi bidang kebudayaan, psikologi, dan etika bangsa China. Ajaran Konfusius juga menyebar ke negara-negara di sekitar China, termasuk Vietnam.

Para murid yang menimba ilmu di tempat ini harus melalui seleksi ketat, kebanyakan berasal dari keluarga berada atau bangsawan. Sesudah diterima, mereka lalu diperkenalkan pada berbagai literatur, mempelajari puisi-puisi kuno, filsafat, serta mengenal sejarah China.

Walaupun sekarang hanya berfungsi sebagai kuil, Van Mieu pernah mencetak sejarawan, ahli matematika, diplomat, dan para intelektual lainnya. Nama-nama alum­­­nus dipahat di sebuah prasasti yang diletakkan pada punggung sebuah patung kura-kura, berjumlah 82 buah. Para pengunjung yang datang biasanya meng­usap-usap kepala semua patung kura-kura dengan harapan agar studi mereka berhasil.

Setelah puas berkeliling kompleks Temple of Literature, kami lalu berjalan kaki menuju lokasi berikutnya, Ho Chi Minh Mausoleum. Sepanjang trotoar, beberapa tukang ojek menawarkan jasa. Sama seperti di Indonesia, mereka biasanya memberikan harga tinggi pada turis asing.

Ho Chi Minh Mausoleum
Ho Chi Minh adalah pemimpin besar Vietnam yang menganut paham komunis. Semasa hidup, ia berjuang memimpin rakyat melawan penjajah dan menyatukan daratan Vietnam. Selama berkeliling Hanoi, kami sering melihat fotonya dicetak pada kaos, poster, kartu pos atau suvenir turis lainnya.

Setelah wafat, tubuhnya diawetkan dan dibaringkan di dalam sebuah peti kaca di dalam Ho Chi Minh Mausoleum, sebuah gedung bergaya arsitektur Rusia yang terkesan kaku namun kokoh. Mausoleum ini didirikan dengan bantuan Uni Soviet, sengaja dibangun persis  di tempat Presiden Ho memproklamasikan kemerdekaan Vietnam pada tanggal 2 September 1945 di Ba Dinh Square.

Biasanya, tempat ini buka mulai pukul 08.00 hingga 11.00 setiap hari Selasa hingga Kamis. Tempat ini tutup pada hari Senin dan Jumat serta bulan Oktober dan November. Para acara-acara tertentu, seperti perayaan Hari Buruh seperti sekarang ini, pemerintah membuka jam kunjungan hingga pukul 14.00.

Tiket masuk ke mausoleum gratis, kami merasa takjub saat melihat panjang antrian menuju Mausoleum yang mencapai satu kilometer lebih. Di dalam museum, tiap orang hanya bisa menyaksikan tubuh Ho Chi Minh selama satu menit saja. Oh, ya, di dalam mausoleum, pengunjung dilarang untuk mengambil gambar.

Akhirnya, kami memutuskan untuk ber­ada di halaman depan saja, mengabadikan pasukan keamanan yang tengah berganti jaga, itu pun dari jarak yang sudah ditentukan. Kami mengamati masyarakat Hanoi yang terlihat hormat dan patuh pada peraturan maupun aparat yang bertugas.

Di bagian belakang mausoleum, terdapat One Pillar Pagoda dan Museum Ho Chi Minh. Karena keterbatasan waktu, kami memilih untuk mengunjungi pagoda saja.

One Pillar Pagoda
One Pillar Pagoda merupakan sebuah ba­ngunan yang terbuat dari kayu yang ditopang oleh sebuah pilar bulat. Pagoda mungil ini berada di sebuah kolam teratai, dan sepintas tampak tidak terlalu spesial walaupun menarik banyak pengunjung untuk berdoa di altarnya. Konon, di abad ke-11, Raja Ly Thai Tong yang belum memiliki keturunan, bermimpi melihat Bodhisatwa Avalokiteswara tengah duduk di atas sebuah bunga teratai. Tak lama kemudian, sang raja memiliki keturunan dan membuat pagoda untuk mensyukuri anugerah tersebut. Pagoda ini menjadi tempat berdoa bagi umat yang memohon kesehatan maupun kesuburan.

Dari pagoda ini, lalu kami berjalan kaki menuju Tran Quoc Pagoda yang letaknya agak jauh, sekitar 1,5 kilometer ke arah utara. Dalam perjalanan, kami melewati istana kepresidenan yang berwarna ku­ning dengan gaya arsitektur Prancis, lengkap dengan tanda dilarang memotret. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi sebuah kuil bernama Den Quan Thanh untuk mengambil beberapa foto.

Dari Pagoda ke Pagoda
Langkah kaki akhirnya membawa kami tiba di tepi Danau Barat. Dari kejauhan, tampak Tran Quoc Pagoda menjulang. sebelum memasuki kuil, kami mengisi perut terlebih dahulu di sebuah restoran ala fried chicken. Kami sedikit kesulitan memesan makanan karena stafnya tidak mengusai bahasa Inggris. Supaya segala­nya lancar, saya langsung menunjuk ke foto sebuah paket makanan yang saya ingin­kan. Sedangkan Anton terpaksa menunggu agak lama karena belakangan, ia mengetahui bahwa menu yang dipesannya ternyata hanya tersedia pada jam-jam tertentu saja.

Tran Quoc Pagoda adalah kuil tertua di Hanoi yang dibangun sekitar abad ke-6. Sebelumnya, kuil ini bernama Khai Quoc dan berdiri di tepi Sungai Merah. Lalu, pagoda dipindahkan ke tepi Danau Barat yang lebih sunyi dan namanya diubah menjadi Tran Quoc.

Setelah saya lihat dari dekat, ternyata pagoda ini memiliki sebelas tingkat dan pada tiap tingkat terdapat enam buah patung Buddha. Di sekeliling pagoda terdapat beberapa tugu dengan huruf-huruf China. Sementara  agak jauh dari pagoda, berdiri sebuah pohon bodhi dengan sebuah altar kecil di bawahnya, tempat menaruh persembahan berupa hio dan buah-buahan. Pohon bodhi ini disebut-sebut berasal dari India yang diambil dari cabang pohon bodhi tempat Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan.

Setelah merasa cukup mengambil gambar, kami keluar dari area kuil. Di pinggir jalan kami menunggu bus menuju Terminal Long Bien. Setelah sampai di terminal Long Bien, kami menyeberang jalan lalu berjalan kaki memasuki kawasan Old Quarter.

Old Quarter
Bila Anda berniat mengambil foto human interest atau merekam aktivitas niaga rakyat, kawasan ini memberikan banyak peluang dan ke­sempatan. Daerah ini menyerupai wilayah Glodok di Jakarta, menampilkan deretan toko dengan beragam usaha. Jalan-jalan di sini dipenuhi banyak motor, jauh lebih ramai dari tempat menginap kami di kawasan Hoan Kiem. Penjual French Baguettes, roti “warisan” prancis berderet di pinggir jalan. Di sekitarnya terdapat pedagang lainnya yang menggelar a­neka camilan lokal, alas kaki, CD bajakan, dan buah-buahan. Sejak abad ke-11, kawasan ini juga dikenal sebagai sentra peng­rajin.

Trademark kawasan Old Quarter adalah gerbang usang, dengan menara kecil di bagian atas yang ditopang dinding berbatu bata merah. Di bagian bawahnya terdapat jalan yang dilalui banyak kendaraan dan manusia setiap harinya. Kebanyakan fotografer, menga­badikan kawasan ini menggunakan mode slow speed untuk melukiskan keruwetan lalu lintas dan mobilitas warga yang lalu lalang. Gerbang Old Quarter mengesankan semangat rakyat Vietnam yang tidak pernah menyerah menghadapi penjajahan.

Dari sini, kami berjalan kaki menuju penginapan. Senja telah menyembunyikan matahari di ufuk barat, menyisakan sedikit pilihan untuk memotret.

Akomodasi
Kawasan Hoan Kiem memberikan ba­nyak pilih­an untuk bermalam. Letaknya yang tepat di tengah kota membuat posisinya cukup strategis, memudahkan para pelancong untuk mencapai tempat-tempat wisata. Oleh karena itu, kami hanya memerlukan waktu selama 10 menit untuk menuju Danau Hoan Kim dengan berjalan kaki.

Minibus yang mengantar kami dari bandara berhenti di pool-nya di Jalan Quang Trung, tepat di depan kantor Vietnam Airline. Dari pool minibus itu, kami berjalan kaki ke arah utara menyeberangi Jalan Hai Ba Trung, menuju Na Chung Street. Kami menginap di Nam Phuong Hotel yang terletak di Na Chung Street.

Tidak jauh dari hotel kami, sekitar 200 meter ke arah utara, terdapat Central Backpackers Hostel. Beralamat di jalan Ly Quoc Su, penginapan ini menawarkan kamar dengan harga 5 US Dollar per malam. Di depan hostel juga ada seorang ibu penjaja makanan lokal. Tidak seperti di tempat lain, disini kami tidak merasa diberikan harga mahal untuk makanan yang kami pesan.

Bila Anda mencari makanan siap saji, berjalanlah ke bundaran air mancur Long Van Fountain di daerah simpang lima yang bernama Dong Kinh Nghia Thuc Square, tepat di sebelah utara Danau Hoan Kiem. Anda bisa menemukan restoran fried chicken dengan menu yang lebih familiar. Selanjutnya, Anda bisa naik ke lantai atas dan mengabadikan bundaran dari sudut yang lebih menarik.

Oh, ya, ada kebiasaan unik warga Hanoi di Na Chung Street. Saat malam tiba, mereka senang duduk-duduk di atas trotoar sambil memakan biji kwaci. Mengingatkan saya kepada angkringan di Jogja. Di hadapan mereka terdapat meja kecil dengan hidangan biji kwaci dan aneka minuman. Mereka berasal dari berbagai kalangan dan usia. Hingga kami pergi tidur, mereka masih asyik bercengkerama.

Kunjungan kami di Hanoi terasa singkat. Walaupun awalnya saya tidak merasa akrab dengan kota ini, pada akhirnya timbul rasa betah untuk berlama-lama duduk di trotoarnya. Sayangnya, saat perasaan itu datang, waktu kembali memanggil kami untuk bertualang ke tempat selanjutnya.

—————————————————————————————————————————-

Tanggal perjalanan: April 2010
Peta Hanoi :

Peta Hanoi

Tagged: , , ,

§ 21 Responses to Berkenalan dengan Hanoi

  • Azian Elias says:

    Hi, i m Malaysian.. senang membaca all the tips and infos about Hanoi thru yg blog.. i m going there this coming Friday (Feb 22 – 26). nice sharing.

    • iwan says:

      Wah, senang rasanya ada teman dari negeri tetangga yang baca blog saya, semoga bisa berguna dalam perjalanan. Saya sudah tengok foto-foto di blog Azian juga. Salam kenal!

  • Haloo mas, wah nice blog nih kebetulan akum au ke Hanoi juga April bulan depan. Mau tanya mas, seriusan Ho Chi Minh Maosoleum cuma buka Selasa-Kamis? terus kalo dari daerah Hoan Kim untuk ke temple of literature harus naik bus ya? saya stay di daerah Hang Ga street sih, kalo naik bus dari situ apakah ada yg ke temple of literature? trus sistem bayar busnya bagaimana yah?

    Makasi banyak kalo bisa bantu nginfo nih mas…

    • iwan says:

      Halo juga mbak Icha. Kalo saya lihat info terbaru, HM cuma tutup hari senin, jumat dan saat mausoleum melakukan aktifitas perawatan gedung. Kalo mau tau info transportasi ke Van Mieu (Temple of Literature) bisa cek laman http://www.vietnamonline.com/transport/hanoi-bus-route-and-schedule.html dan download peta jalur bis di laman http://mappery.com/map-of/Hanoi-City-Bus-Line-Map Mbak bisa cegat bus no. 2 dengan trayek Bac Co – BX Yen Nghia. Dulu, kami cegat bis di halte yang berada di perempatan Hai Ba Trung dan Quang Trung (di selatan Hoan Kim Lake). Kalau menurut peta ini, bis no 2 rutenya melingkari Hoan Kim Lake, jadi menurut saya mbak bisa cegat di halte Bo Ho (sebelah utara Hoan Kim) atau Hai Ba Trung (sebelah selatan Hoan Kim). Cara lainnya, mbak bisa print atau masukkan peta ke dalam tablet dan minta resepsionis hotel kasih penjelasan lebih rinci. Penumpang dikasih karcis dan bayar di atas bis. Seingat saya, ada Tourist Information Centre di sekitar Hoan Kim, di Jl. Dinh Tien Hoang yang bisa kasih info.

      Saya udah liat blog mbak, sering keliling juga ya?

      • Hi, wah makasi mas infonya. Kalo gitu nanti lengkapnya mungkin aku tanya di hotel aja kali ya. Anyway, menurutmu tourist attraction di Hanoi yang sekitar Old Quarter itu banyak ga sih? Atau jaraknya masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. AKu bingung bikin itinerary kalo ga tau gambaran lokasinya hehe…Terus kira2 sahari penuh bisa keliling tempat2 wisata yang sekitaran Old Quarter atau Hoan Kim ga?

        Wah thanks for visiting my blog. Iya suka banget backpacking juga, tp keluar negeri mah baru ke Singapoere hehe, ke Vietnam ini yg kedua. masih cinta domestik hehe…

      • iwan says:

        Hmm, mungkin mbak bisa sediakan satu hari untuk keliling Old Quarter dan Hoan Kim Lake (ngirit tenaga buat hari selanjutnya). Hari kedua baru ke Van Mieu, Ho Chi Minh Mausoleum dan sekitarnya. Kalo mbak bingung rencanain ittinerary, mungkin mbak bisa ngikutin petunjuk “walking tour” ini: http://www.vietnamonline.com/destination/hanoi/old-quarter-walking-tour.html Kayaknya cocok buat ngisi hari pertama. Oh ya, di sekitar Hoan Kim Lake juga ada pertunjukan Thang Long Water Puppet, semacam pertunjukan boneka.

        Saya juga cinta tujuan2 domestik kok. Saya cuma belum sempat upload tujuan domestik ke blog🙂

  • Kalo ke Ho Chi Minh udah pernah mas? ada referensi peta waking tour juga kah di sekitar daerah backpacker Pham Ngu Lao dan Benh Than Market ? thanks yaa

  • Micky says:

    Mas , saya Mau nanya , mas tau kalau Dari hanoi ke Ho Chi Minh naik bus berapa biayanya ?

  • fogsy says:

    Hai mas,,nice sharing..
    Itu flightnya direct dr jkt ato beli 2 tiket terpisah (jkt-kl & kl-han)?
    Boleh tau pake flight apa? Thx!

    • iwan says:

      Halo juga, maskapai Air Asia cuma melayani penerbangan JKT-HCM, kalau ke Hanoi mereka belum sediakan. Waktu itu kami transit dulu ke KL, baru lanjut Hanoi.

  • nugroho says:

    thanks bro…ni mo brangkat, tp g ngerti apa2 soal vietnam. bonek asli..!!

  • jo says:

    mas, kan pas kita nyampe tuh di bandara (hanoi) ntar kan pasti banyak ditanya oleh orang imigrasinya such as mau tinggal berapa lama, tinggal dimana, pulangnya kapan , make apa and so on…
    trus klu seandainya kita gak prepare apa2. maksudnya semuanya mau on the spot alias dadakan gimana tuh mas ?? (bahkan belum tau mau berapa lama stay disana)
    jadi trouble gak y mas di sana nanti ??

    masih katro ne mas :)……
    baru mau nyoba jalan2 ke luar

    thanks. ….

    • iwan says:

      Pengalaman kami dulu, imigrasi Vietnam ngga terlalu berbelit-belit. Kami bilang kami turis, mau nginep di sekitar Hoan Kiem Lake, nggak lebih dari seminggu, kami punya cukup uang untuk muter2 disana, kami sudah beli tiket p.p (bisa ditunjukkin). Oya, masa berlaku passpor juga masih lama (lebih dari enam bulan). Santai aja, jangan grogi di depan petugas. Mas memang mau plesiran, kan? Problem saya sama imigrasi vietnam cuma masalah tripod yang dibawa ke kabin. Mungkin mereka pikir itu senapan angin🙂
      Info lainnya, orang vietnam rata2 nurut banget sama militer, polisi atau satpol pp setempat, budayanya seperti itu disana. Sayangnya petugas2 itu juga belum tentu bisa bahasa Inggris. Soal harga makanan atau ongkos tukang ojek, lebih baik tanya lebih dahulu berapa Dong harganya, baru pesen. Kalau dirupiahkan, harga makanan disana beda2 tipis dengan di Indonesia. Cek aja nilai tukar Rupiah dengan Dong yg paling update (misalnya http://www.coinmill.com). Kalau sudah sampai Indo lagi, jng lupa kasih kabar ya mas. Selamat explore

  • dari bandara jauh ga ke pusat kotanya, trus transportasi apa yang nyaman diguakan disana. makasih

  • Nadia Risa says:

    salam kenal gan..mw tanya kalo rata2 harga halong bay one day tour berapa yak biasanya? yg include udah sama makan+alat snorkell+kayak+dll yg paling murmer deh gan heeeehe.trims gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Berkenalan dengan Hanoi at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta