Langkawi Tidak Tidur Lagi

7 August 2010 § 6 Comments

Panjang tidur suatu mimpi Langkawi
Berbantal bertilam lipatan sejarah
Bersulam bertekat kalimat
Padang jarak padang tekukur
Bumi Langkawi tujuh keturunan
Mentari pagi menyaksikan
Sauh dibongkar langit dibelah bumi dipasak
Mahsuri menghela nafas lega
Jentayu tersenyum puas memandang
Lang membawa khabar gembira
Padang jarak kembali berseri
Langkawi tidak tidur lagi

Demikian sepenggal sajak yang menceritakan garis takdir rakyat Langkawi. Sajak berjudul “Langkawi Tidak Tidur Lagi” itu dipahat pada marmer yang diletakkan dalam Taman Legenda. Cerita mengenai kutukan yang telah ada selama tujuh generasi, ikut menghiasi keindahan pulau ini.

Matahari belum muncul saat bus yang mengantar saya dari Kuala Lumpur tiba di Kuala Perlis. Pagi itu, saya berencana membeli tiket kapal ferry dari Kuala Perlis menuju Pulau Langkawi seharga 15 RM. Kuala Perlis adalah sebuah pelabuhan di Negara Bagian Perlis, Malaysia. Saya lihat loket pembelian tiket sudah dibuka sejak pukul 06:00 pagi sementara kapal ferry (orang Malaysia menyebutnya jetty) yang paling pagi dijadwalkan berangkat pukul 07:00.

Namun hingga waktu yang dijadwalkan, penumpang belum diminta naik ke kapal. Sandra, seorang wisatawan asal Kota Hamburg di Jerman, mengajak bercakap-cakap sambil mengeluhkan jadwal ferry. Ternyata, kapal ferry baru berangkat 15 menit kemudian. Perjalanan terasa nyaman sehingga saya melanjutkan tidur kembali.

Satu jam kemudian, kapal ferry sudah mencapai Langkawi. Langit menjadi lebih terang dan pulau-pulau yang tinggi dan besar di kiri-kanan ferry seperti muncul dari lautan. Kami mendarat di pelabuhan utama Langkawi, di Kota Kuah. Pelabuhan Kuah tampak modern dengan beberapa perahu layar berwarna putih bersandar di sebelah kanan sementara beberapa ratus meter di sebelah kiri pelabuhan tampak patung elang raksasa menyambut para pelancong yang datang.

Sekilas Pulau Langkawi.
Langkawi berasal dari dua kata, yaitu “Lang” yang berarti burung elang dan “Kawi” yang berarti sejenis batuan berwarna cokelat kemerahan. Langkawi dapat diartikan sebagai burung elang yang berwarna cokelat kemerahan. Memang, di daerah ini banyak beterbangan elang berkepala putih dengan bulu berwarna cokelat kemerahan di bagian tubuh lainnya.

Kepulauan Langkawi yang termasuk dalam negara bagian Kedah, terletak sekitar 30 kilometer ke arah barat dari daratan Malaysia, dipisahkan oleh Selat Malaka dan memiliki puluhan pulau kecil. Dua per tiga bagian pulau ini masih ditutupi hutan dengan kontur berbukit dan tebing batu yang curam. Daerah pantainya sebagian berpasir putih atau berupa hutan bakau.

Penduduk pulau ini terdiri dari etnis Melayu, China, India, dan Thailand. Saya sempat diberitahu bahwa di Kota Kuah terdapat sebuah perkampungan yang dibangun oleh orang-orang Aceh yang berlayar dan menetap di pulau ini.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah setempat memberikan dukungan lebih besar untuk pengembangan pulau ini agar dapat menjadi tujuan wisata utama di Malaysia. Salah satunya dengan memberikan fasilitas bebas pajak untuk barang-barang yang datang langsung ke pulau ini dari luar negeri. Saya sempat menanyakan harga sebuah lensa di Kota Kuah dan ternyata memang harganya lebih murah dibandingkan di Tanah Air.

Sewaktu saya dan Sandra keluar dari pelabuhan, beberapa sopir taksi menawarkan jasa menuju Pantai Cenang dengan harga seragam, yaitu 20 RM. Kami pun sepakat untuk membagi dua biaya taksi.

Pantai Cenang, Tempat Menginap Favorit.
Di sepanjang jalan, saya melihat banyak dilakukan pelebaran jalan. Tampak papan peringatan dengan kalimat bergaya Melayu, “Pembinaan di hadapan”. Jarak Kuah-Pantai Cenang sejauh 24 kilometer dicapai dalam waktu 15 menit saja.

Pantai Cenang memiliki hamparan pasir putih yang panjang. Pantai ini merupakan tempat favorit bagi para pelancong. Saat kami tiba, belum banyak terlihat aktivitas di sekitar pantai. Biaya menginap di daerah ini bergantung pada musim. Sepanjang liburan Tahun Baru China, hampir semua penginapan di pantai ini penuh sehingga ada turis yang terpaksa harus mendirikan tenda ataupun tidur di dalam kendaraan yang mereka sewa.

Setelah kami lelah berkeliling mencari tempat menginap, akhirnya kami mendapatkan sebuah guesthouse yang tampak sederhana dengan dormitory. Kami cukup merogoh kocek sebesar 10 RM per hari untuk bisa beristirahat di sini.

Gecko Guesthouse memiliki sedikitnya 20 ranjang bagi tamu yang memilih dormitory. Pengunjung juga bisa menyewa chalet (bangunan yang berdiri sendiri, berisi empat tempat tidur lengkap dengan kamar mandi di dalam). Pemiliknya seorang wanita berkebangsaan Inggris yang sudah lama tinggal di Langkawi. Tamu yang datang biasanya adalah turis dari Eropa. Mereka kebanyakan memilih menghabiskan waktu di pantai pada siang hari dan bercengkerama di cafe pada malam hari.

Bike4RentSetelah semua urusan administrasi selesai, lalu saya membawa tas kamera dan melangkahkan kaki menuju tempat penyewaan kendaraan. Langkawi memiliki banyak objek wisata yang cukup jauh jaraknya satu sama lain, sementara angkutan umum yang tersedia hanyalah taksi. Kondisi ini membuat saya memilih motor sebagai partner perjalanan.

Mengabadikan Keindahan Lansekap Pantai.
Selain pantai Cenang, Pulau Langkawi juga memiliki spot lain yang indah. Telaga Harbour Park yang berada di sebelah barat laut Pantai Cenang adalah sebuah dermaga yang dilengkapi dengan menara mercusuar, penginapan, pompa bensin, dan dipenuhi deretan kapal layar berwarna putih yang berasal dari mancanegara. Sementara di bagian background terdapat hutan dan tebing berbatu yang tinggi menjulang. Saya sendiri telah mengunjungi tempat ini sebanyak dua kali, yaitu saat pagi hari dan senja hari, saat di mana lampu mercusuar telah dinyalakan.

Di sebelah barat Telaga Harbour Park terdapat Pantai Kok yang berpasir putih. Di pantai ini terdapat Summer Palace, istana yang sengaja dibangun untuk syuting film Anna and The King. Sisa-sisa keindahan istana yang menghadap langsung ke pantai ini, masih dapat terlihat. Sayang, kondisinya kurang terawat. Daun-daun berserakan di mana-mana sementara dinding kayunya terlihat rapuh. Di pintu masuknya terdapat papan bertuliskan “We are closed for renovation work”.

Terus ke arah utara, terdapat Tanjung Rhu yang bisa dibilang eksotis karena memiliki pantai berpasir putih dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sebelum mencapai pantai ini, saya melewati beberapa hotel bintang bertaraf internasional. Saya berpikir, mungkin saja Tanjung Rhu ini seperti tempat menginap bagi turis berkantung tebal seperti halnya Pantai Sanur di Bali. Sementara Pantai Cenang seperti tempat menginap para backpacker di Pantai Kuta.

Garis pantai di Tanjung Rhu agak berkelok-kelok, tidak lurus seperti di Pantai Cenang. Agak jauh dari pantai, terdapat sebuah pulau yang berbentuk seperti huruf U. Saya menunggu untuk mengabadikan momen matahari terbenam tepat di pulau itu. Tapi ternyata, matahari lebih memilih bersembunyi di balik gumpalan awan hingga terbenam. Saya pun kembali ke motor, lalu memacunya ke penginapan.

Memandang Langkawi dari Ketinggian
Bila Anda ingin melihat Pulau Langkawi dari ketinggian, luangkan waktu untuk mengunjungi Oriental Village di Teluk Burau. Di dalam kompleks Oriental Village, Anda bisa menaiki gondola yang akan mengantar Anda ke puncak Gunung Mat Chincang dengan biaya 15 RM. Anda akan dibawa ke ketinggian lebih dari 700 m di atas permukaan laut.

Saat saya mendatangi loket untuk membeli tiket Cable Car, petugas mengatakan untuk sementara wahana tersebut belum bisa difungsikan karena hembusan angin di atas gunung terlalu kencang. Hal tersebut biasa terjadi bila keadaan alam dinilai tidak cukup aman bagi penumpang.

Landscape Oriental VillageSambil menunggu, saya berkeliling Oriental Village. Kompleks bergaya arsitektur melayu ini ditata dengan rapi dan cukup indah. Mayoritas bangunannya memiliki kombinasi warna putih dan krem serta atap berwarna cokelat muda. Di dalamnya banyak terdapat kios cenderamata, restoran, cafe dan penginapan.

Untunglah saya tidak perlu menunggu terlalu lama. Keadaan cuaca membaik dan wahana Cable Car kembali dibuka. Setelah membeli tiket, saya bergegas memasuki sebuah gondola berkapasitas 6 orang.

Terdapat dua stasiun di atas Gunung MatChincang dan perjalanan menuju stasiun pertama mencapai kemiringan sampai dengan 42 derajat. Di bawah kami tampak hutan tropis yang lebat diselingi tebing batu yang curam.

Angin sempat beberapa kali menggoyang gondola sebelum akhirnya kami tiba di stasiun pertama. Kami semua menyempatkan diri keluar dan mengambil foto Langkawi dari ketinggian. Setelah puas, saya melanjutkan perjalanan ke stasiun kedua.

Stasiun kedua memiliki dua buah platform berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 10 m yang memberikan pandangan 360 derajat ke sekitar pulau. Saat langit dalam keadaan cerah, pengunjung dapat melihat daratan Malaysia dari sini. Seorang pegawai Cable Car bercerita bahwa dari platform ini ia pernah menyaksikan gelombang tsunami dari Aceh, datang menghantam pulau-pulau kecil di sekitar Langkawi.

Island Hopping.
Pada hari berikutnya, saya mengikuti sebuah paket tur bersama seorang teman yang saya temui di penginapan. Michael berasal dari Swiss dan mengaku pernah bekerja di Jakarta. Itu sebabnya Mat Salleh (sebutan orang Malaysia untuk bule) yang satu ini fasih berbahasa Indonesia.

Tidak lama kemudian, sebuah mini bus datang dan mengantar kami ke Pantai Tengah. Dari Pantai Tengah kami dibawa kapal bermotor menuju lokasi pertama, Pulau Beras Basah. Kami berjumlah 21 orang yang terdiri dari nakhoda, satu keluarga lokal, wisatawan dari Thailand, Jepang, Swiss, dan saya sendiri.

Pulau Beras Basah yang kami sambangi tampak tidak jauh berbeda dengan pulau-pulau lainnya di Langkawi; berpasir putih dengan deretan pohon kelapa dan cemara di sepanjang pantai. Pulau ini terasa begitu sunyi. Selain suara kami, hanya terdengar ombak dan desiran angin di antara dedaunan. Cocok bagi mereka yang mencari suasana liburan sunyi. Beberapa pengunjung asyik mencari kerang di sepanjang pantai dan sebagian memilih bercengkerama di bawah teduhnya pohon beralaskan pasir putih.

Langkawi memiliki banyak cerita rakyat yang biasanya ikut mewarnai suatu lokasi wisata. Alkisah, zaman dahulu sekelompok perahu pedagang melewati wilayah perairan ini. Namun, karena mereka tidak memberikan salam hormat, lalu roh penguasa laut mengirimkan angin topan dan mengobrak-abrik armada tersebut. Sebuah kapal pedagang yang bermuatan beras lalu terdampar di pulau ini sehingga pulau ini dinamakan Pulau Beras Basah.

Setelah satu jam berada di Pulau Beras Basah, kami dijemput kapal motor yang sama, lalu pergi untuk menyaksikan burung-burung elang menangkap ikan. Kapal melaju mendekati sebuah pulau yang tepiannya dipenuhi pohon bakau. Lalu nakhoda mematikan mesin kapal.

Kami melihat banyak burung elang berputar-putar di atas pepohonan. Mereka bergantian menukik, memasukkan cakar ke dalam air lalu kembali mengudara. Terlihat seekor ikan berada dalam cengkraman. Menyenangkan melihat burung-burung yang anggun itu beraksi. Namun bila kapal kami berada terlalu dekat, elang-elang tersebut serta merta menghilang di antara pepohonan. Mereka baru kembali mengudara saat kami menjauh. Sayang sekali, saya tidak memiliki lensa tele untuk mengabadikan adegan itu.

Kapal motor meningkatkan kecepatan saat kami meliuk-liuk di antara tebing menuju lokasi wisata berikutnya, Pulau Dayang Bunting. Wajah dan tubuh kami menjadi basah oleh percikan air laut.

Menurut legenda, Dayang Bunting adalah seorang peri yang menikah dengan manusia biasa. Ia merasakan duka yang mendalam saat anak yang baru dilahirkannya meninggal dunia. Konon, ia mengubur anaknya di sebuah danau berair jernih dan memberkati danau itu. Kelak, bila ada wanita yang sudah berkeluarga namun belum memiliki anak meminum air danau tersebut, wanita itu akan dianugerahi keturunan.

Nakhoda menurunkan kecepatan kapal dan tampaklah di sebelah kiri kami deretan bukit yang membentuk tubuh seorang wanita yang sedang tidur, perutnya tampak besar seperti sedang mengandung. Beberapa orang lalu mengarahkan kamera untuk memotret bukit itu.

Lalu kami melanjutkan perjalanan dan merapat di sebuah dermaga. Selanjutnya, para penumpang berjalan ke dalam pulau. Tampak beberapa ekor monyet berada di kiri-kanan jalan. Setelah melalui jalan setapak yang naik-turun, kami tiba di Danau Dayang Bunting.

Danau ini tampak luas dan dalam, berwarna hijau tua. Tepiannya ditutupi pohon bakau dan tebing yang curam. Seekor burung elang terbang tinggi dengan anggunnya di atas danau sementara beberapa wisatawan tengah asyik berenang atau mengendarai banana boat dan perahu kayuh. Saya melihat ada sedikit lapisan tipis minyak di permukaan air, mungkin berasal dari perahu motor.

Michael dengan penuh semangat terjun ke danau sementara saya lebih suka berada di sekitar tepian saja. Setelah lebih dari satu jam bermain di sana, kami diantar ke Pantai Cenang.

Tujuan Wisata Para Yachter
Pulau Langkawi menjadi salah satu tujuan para pelancong yang menggunakan kapal layar untuk berkeliling dunia. Kelengkapan infrastruktur dan letaknya yang terlindung pulau-pulau kecil  menjadi pilihan mereka yang datang untuk berbagai keperluan, misalnya saja mengganti suku cadang kapal, mengisi perbekalan dan bahan bakar, serta berwisata.

Di pulau ini terdapat tiga marina, yaitu Royal Langkawi Yacht Club di Kuah, Rebak Marina di Pulau Rebak, dan Awana Porto Malay di Pantai Tengah. Ketiganya rata-rata memiliki fasilitas seperti restoran, hotel, toko, bengkel, pompa bensin, paket wisata sekitar Langkawi, dan lain sebagainya.

Royal Langkawi Yacht Club (RLYC) didirikan pada 1996. Sebagian besar kapal layar yang datang ke Langkawi berlabuh di sini. Untuk melindungi kapal-kapal di dalamnya, RLYC membuat beton penahan gelombang di sekeliling dermaga. Dermaganya sendiri dapat menampung sekitar 200 yacht, bahkan untuk kapal pesiar sepanjang 50 meter. Biasanya RLYC selalu mengadakan perlombaan kapal layar setiap tahun. Jumlah kapal layar yang berpartisipasi mencapai lima puluh buah tiap tahunnya.

Selain menjadi jalur pelayaran strategis, Selat Malaka juga merupakan jalur wisata bagi para pengarung samudra. Beberapa spot wisata seperti Phuket, Langkawi, Penang, Malaka, dan Singapura berada di jalur ini.

Kisah Kutukan Tujuh Turunan
Di antara sekian banyak cerita rakyat di Pulau Langkawi, yang paling identik dengan pulau ini adalah kisah seorang wanita bernama Mahsuri. Alkisah sekitar abad ke-18, tinggallah seorang gadis cantik bernama Mahsuri di sebuah desa di Langkawi. Kecantikannya membuat banyak lelaki bermimpi untuk meminangnya.

Tragedi terjadi saat sang suami harus meninggalkan Mahsuri untuk pergi berperang. Seorang penyair asing yang sedang berkelana tiba di desa dan menginap di rumah Mahsuri. Segeralah rakyat desa yang telah dihasut menggelandang Mahsuri untuk dihakimi. Kecantikannya telah membuat beberapa warga menyimpan dendam dan kecemburuan.

Warga desa akhirnya memberikan hukuman mati kepada Mahsuri. Keanehan terjadi, saat Mahsuri ditikam. Darah yang mengalir bukan berwarna merah tetapi putih. Hal ini melambangkan Mahsuri sebenarnya memang tidak bersalah.

Sebelum nafasnya berhenti, Mahsuri mengutuk Langkawi dan penduduk di dalamnya. Selama tujuh generasi, Langkawi tidak akan mengenal kesejahteraan dan kemajuan. Entah karena kutukannya atau karena hal lain, tak lama setelah kematiannya, pasukan Siam dari Thailand datang dan menyerang Langkawi.

Makam Mahsuri terletak sekitar 12 km dari Kuah. Bangunannya sudah diperindah dan diperluas untuk mengenangi Mahsuri dan menerima kunjungan pelancong. Pengunjung yang datang dapat menyaksikan drama tentang Mahsuri dengan biaya 3 RM. Tidak jauh dari makam terdapat sumur yang dipercaya pernah digunakan keluarga Mahsuri.

Mencapai Langkawi
Bila Anda berminat untuk melakukan perjalanan dengan sebuah maskapai bertarif hemat asal Malaysia, dari Jakarta Anda harus singgah terlebih dahulu ke Kuala Lumpur lalu mengambil penerbangan ke Bandara Padang Matsirat di Langkawi. Dari Singapura juga ada penerbangan langsung ke Langkawi empat kali seminggu.

Langkawi juga bisa dicapai menggunakan kapal ferry, misalnya dari Pelabuhan Kuala Perlis, dari Pelabuhan Kuala Kedah di Negara Bagian Kedah, dari Pulau Penang, maupun dari Satun, Provinsi di Thailand yang bersebelahan dengan Malaysia.

Sedangkan untuk perjalanan darat, Anda bisa menaiki bus atau kereta api menuju kota Alor Star di Kedah atau kota Arau di Perlis dan melanjutkan perjalanan menggunakan taksi atau bus menuju Pelabuhan Kuala Kedah atau Kuala Perlis.

Selama berada di pulau ini, kadangkala saya bertemu dan berbincang-bincang dengan beberapa tenaga kerja Indonesia. Salah satu dari mereka bekerja sebagai awak kapal ferry yang saya naiki menuju Kuala Perlis. Ia menawarkan saya untuk naik ke bagian atas buritan kapal yang biasanya hanya diperuntukkan bagi nahkoda dan awak kapal. Dari sana saya bisa menikmati hembusan angin dan mentari yang tengah tenggelam.

Sudah tujuh generasi berlalu sejak Mahsuri menjatuhkan kutukan. Terlepas dari kebenaran tentang kutukan tersebut, Langkawi memang tengah berbenah untuk menjadi lebih baik lagi. Persis seperti sajak yang dipahat di Taman Lagenda, Langkawi tidak tidur lagi.

=================================================================

PetaLangkawi

TIPS & INFO :

  • Langkawi merupakan tempat ideal bagi wisata keluarga. Di pulau ini terdapat Underwater World, Bird Paradise, Crocodile Farm, Fish Farm, dan Museum Pertanian Laman Padi.
  • Di Pantai Cenang banyak terdapat agen wisata yang menawarkan bermacam-macam paket tur, misalnya Mangrove Tour, Geology Tour, Island Hoping, snorkeling, dan tur keliling Langkawi dengan kapal layar, harganya sekitar 200 RM.
  • Untuk sebuah motor bebek, kita dapat menyewanya dengan harga sekitar 25 RM per hari. Sedangkan untuk mobil seukuran Daihatsu Ceria, kita dapat menyewa dengan harga sekitar 60 RM. Terlebih dahulu kita harus mengisi formulir dan menunjukkan SIM dari tanah air. Anda juga dapat menggunakan sepeda bila berminat untuk menjelajah sambil berolahraga.
  • Cobalah untuk mengunjungi situs sebuah low budget airline asal Malaysia. Bila kursi kelas economy promo tersedia, biaya Jakarta-Kuala Lumpur-Langkawi PP besarnya sekitar 1 juta rupiah saja.
  • Untuk informasi transportasi darat dan laut, Anda bisa mengunjungi situs journeymalaysia.com dan langkawi-ferry.com.

Tanggal perjalanan: Februari 2006

Tagged: , , , ,

§ 6 Responses to Langkawi Tidak Tidur Lagi

  • hilda says:

    mau cari info..rencana mau menyusuri pesisir pantai dari pantai cenang,pantai kok,telaga tujuh,pantai pasir tengkorak,pantai pasir hitam,tanjung rhu,durian perangin waterfall..kira2 jaraknya cukup dijalanin ngak buat setengah harian..dari jam 1 siang ampe jam 7 malaman? karna jaraknya saya tidak begitu tahu..sebaiknya,cepatan naik mobil sewa atau motor yah?

    • iwan says:

      Beberapa lokasi yang disebutkan di atas belum pernah saya kunjungi. Lalu lintas di Langkawi tidak terlalu padat, malah cenderung lengang. Naik motor atau mobil gak akan terlalu jauh berbeda. Waktu setengah hari rasanya kurang deh, kalau satu hari mungkin bisa. Tapi waktu yang dihabiskan di tiap spot jadi terasa singkat.

  • Oh my goodness! Amazing article dude! Thank you so much, However I am having troubles with your RSS.
    I don’t understand the reason why I can’t subscribe
    to it. Is there anybody else getting similar RSS
    issues? Anyone who knows the solution can you kindly respond?

    Thanks!!

    • iwan says:

      Thank you for reading my blog, are you familiar with Indonesian language? You are the first person with this kind of problem. Have you tried with another browser?

  • nancy says:

    Bgus banget tulisannya dude, dan sgt membantu buat q sbb sy juga ada rencan mau ke p langkawi
    Sy sgt beruntung sekali bisa ketemu tulisan ini.
    Berhub sy jg mau kesana blh kah sy bertanya?
    Slama di langkawi klu sewa mbl beserta supir adakah? & kira2 brp biayanya? Berhub yg pergi cewek smua dan tdk bisa nyetir. Tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Langkawi Tidak Tidur Lagi at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta