Hunting Arsitektur di Seputar Georgetown

7 August 2010 § 4 Comments

Georgetown PenangGeorgetown adalah sebuah jendela, dimana kita bisa melihat berbagai macam bangunan dengan beragam arsitektur yang sarat dengan sejarah, masih berdiri hingga kini. Bangunan-bangunan tersebut seperti masih bernafas, namun tetap diam membisu. Sementara waktu terus berlalu di sekitar mereka.

Jam menunjukkan pukul 10:30 waktu setempat saat roda-roda pesawat yang saya tumpangi, menyentuh landasan di Penang International Airport. Para penumpang pun bergegas keluar setelah pramugari mempersilahkan kami untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati pemeriksaan petugas, termasuk mengisi data-data kesehatan, barulah saya bisa keluar dari area kedatangan. Di dekat pintu keluar, saya melihat terdapat banyak brosur wisata Pulau Penang, beberapa lokasi yang tertera di brosur terasa tidak asing lagi karena saya sudah browsing ke sana ke mari saat masih berada di Jakarta.

Tak berapa lama kemudian, saya sudah berada di dalam bis yang siap mengantarkan para penumpang ke George Town, jantung wisata di Penang. Saya mengenali beberapa wajah yang tadi berada dalam satu pesawat dari Jakarta. Memang cukup banyak orang Indonesia yang berada di Penang untuk berbagai keperluan. Ada yang melanjutkan studi, menengok kerabat atau memilih layanan medis yang menurut mereka lebih baik.

Seperti yang sudah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, tujuan saya mengunjungi pulau ini adalah murni wisata. Keragaman bentuk bangunan dan budaya di sini telah menjadi magnet bagi kedua kaki saya.

Beberapa menit setelah bis berjalan, tampak kawasan industri di kiri-kanan jalan. Kendaraan produksi Malaysia terlihat ber-sliweran di sana-sini, saya dengar bangsa Malaysia bangga bila menggunakannya. Pemandangan lainnya yaitu kompleks perumahan sederhana, rumah susun lengkap dengan jemuran di tiap kamar dan beberapa toko. Memang, suasana wisata baru lebih terasa bila sudah memasuki Jalan Lebuh Chulia di George Town.

George Town, pusat wisata di Penang
Setelah sekitar satu jam meninggalkan airport, barulah bis sampai di Jalan Lebuh Chulia. Saya dan tiga orang Indonesia lainnya turun dari bis. Mereka masih melanjutkan perjalanan ke Thailand sementara saya segera mencari tempat menginap.
Nama kota ini diambil dari nama Raja Inggris, George ke III (1738-1820). Maklum saja, Penang pernah menjadi daerah jajahan dan basis perdagangan Inggris di Selat Malaka.

George Town terlihat bersih dan tertata rapi. Selain aspal, beberapa jalan di sana menggunakan con block berwarna abu-abu dan merah tua yang disusun dengan pola-pola tertentu. Lalu lintasnya cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang tetapi trotoarnya terasa lengang, hanya beberapa orang turis terlihat tengah berjalan dengan santai.

Kebanyakan bangunan di sini bertingkat dua atau tiga dengan pintu dan daun jendela besar yang tinggi, terlihat seragam satu sama lain. Bentuk teralis dan lubang anginnya kental bergaya China. Beberapa di antaranya sudah lama berdiri sebelum Perang Dunia ke II, atau bahkan sejak jaman kolonialisme.

Banyak wisatawan dari Eropa yang datang untuk sekedar bernostalgia, melihat daerah dan bangunan yang mungkin, dulu pernah dikuasai oleh nenek moyangnya. Bisa dikatakan bahwa George Town adalah situs kolonialisme yang masih dipelihara, dimana kuil, masjid, gereja, rumah peranakan dan pedagang tradisional masih bertahan hingga kini.

Setelah berhasil mendapatkan tempat untuk menginap saya segera beranjak menuju spot-spot foto yang sudah saya catat sebelumnya. Kebetulan beberapa spot tersebut berada tidak jauh dari penginapan.

Kuil Hainan
Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Kuil Hainan yang terletak di Jalan Lebuh Muntri. Kuil ini didirikan pada tahun 1866 dan baru saja direnovasi pada tahun 1995.

Memiliki nama lain Thean Hock Keong atau Temple of The Heavenly Queen, kuil ini didedikasikan untuk Ma Chor Po, dewi pelindung bagi para pelaut. Konon dahulu kala beberapa penduduk Hainan berlayar dan menetap di kawasan Asia Tenggara, termasuk Penang. Sebagai penghormatan dan rasa terimakasih mereka lalu mendirikan kuil ini. Sebagian besar dari masyarakat Hainan terkenal piawai bekerja di bidang kuliner.

Kuil ini dibuat dengan gaya Hainan yang banyak dipenuhi ukiran batu yang indah seperti pada masa Dinasti Song. Ukiran batu pada dinding dan pilar di kuil ini merupakan hasil karya para pemahat dari China, dibuat dalam rangka peringatan seratus tahun kuil.

Selain pahatan pada dinding, patung-patung yang berada di atas atap gerbang juga menarik untuk diabadikan. Diantaranya terdapat patung naga, bola mustika, ikan dan tentara berkuda. Ornamen-ornamennya terlihat detil dan penuh warna, sangat bagus bila awan putih tidak mendominasi langit.

Oh ya, jangan lupa untuk mengisi kotak sumbangan bila datang ke kuil ini. Dan lepaskan sepatu jika hendak memasukinya.

Cheong Fatt Tze Mansion
Memiliki sebutan The Blue House, rumah besar ini terlihat berbeda dengan lingkungan sekitarnya karena memiliki warna biru yang mencolok mata. Rumah ini dibangun oleh Cheong Fatt Tze pada tahun1880. Dia adalah seorang pedagang, konglomerat, sekaligus penderma yang berpengaruh di China dan Asia Tenggara pada masanya.

Selain pernah menjadi kediaman bagi istrinya yang ke-7, rumah ini juga pernah menjadi kediaman wakil konsul China di Penang. Waktu berlalu dan kepemilikan rumah ini berpindah kepada keturunan Cheong Fatt Tze. Namun pemeliharaan rumah ini juga banyak memakan biaya. Rumah ini hampir dijual saat anak bungsu Cheong Fatt Tze meninggal pada tahun 1989, beruntung sekelompok conservasionist di Penang membeli dan merencanakan restorasi yang memakan waktu selama enam tahun.

Restorasi dilakukan dengan seksama, selain menggunakan material asli dan peralatan tradisional, mereka juga mendatangkan ahli dari China, Amerika Serikat dan Jerman untuk pekerjaan-pekerjaan khusus. Pengerjaan dengan perhatian mendetail meliputi atap, kusen pintu dan jendela, sepuhan warna emas pada detail pintu, restorasi pada bagian besi yang telah berkarat pada teralis dan tangga, ornamen pada kaca jendela, elemen dekoratif yang terbuat dari porselen, dan hiasan dekoratif pada dinding.

Ketelitian dan konsistensi serta kerja keras pada proyek konservasi ini mengundang beberapa penghargaan, diantaranya dari UNESCO yaitu penghargaan Asia-Pasific Heritage Award untuk kategori Culture Heritage Conservation pada tahun 2000 dan ASEANTA 2004 Excellence Award untuk kategori Asean Cultural Preservation Effort.

Mansion ini memiliki enam belas kamar dan beberapa ruangan yang bisa disewakan untuk berbagai keperluan. Harga sewa kamarnya sendiri cukup fantastis, 6000 RM per malam.
Tur dengan pemandu dijadwalkan pada pukul 11:00 dan 15:00 setiap harinya dengan biaya 10 RM perorang. Tetapi tidak semua ruangan boleh diambil gambarnya. Sayang sekali saya telat untuk mengikuti tur sehingga hanya dapat mengambil beberapa foto dibagian depan rumah.

Gereja Saint George
Berada di Jalan Farquhar, St. George adalah gereja Anglican tertua di Malaysia. Dibangun pada tahun 1816 dengan menggunakan tenaga narapidana dari India. Biaya pembuatannya kala itu terhitung sangat mahal, setara dengan harga Singapura yang beberapa tahun kemudian dibeli kerajaan Inggris dari Sultan Johor.

Bangunan ini didisain oleh Kapten Robert N. Smith dengan mengadaptasi perpaduan gaya arsitektur Georgian dan Palladian. Pada masa itu, bangsa Inggris dan sebagian besar bangsa di Eropa menganut gaya arsitektur tersebut. Keempat pasang pilar di bagian depan gereja dan bentuk menara segi delapan yang meruncing, menjadi karakteristik gaya Georgian-Palladian.

Selain menjadi tempat pernikahan beberapa pejabat kolonial Inggris, gereja ini juga berperan dalam penyebaran agama Nasrani di Penang. Setiap minggu pagi dilaksanakan upacara misa di tempat ini.

Di sekitar gereja juga terdapat situs-situs sejarah lain, misalnya benteng Cornwallis, Menara Jam Queen Victoria Memorial, Penang Museum, Supreme Court Buiding dan lain sebagainya. Situs di atas bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit saja dari penginapan di Lebuh Chulia.

Masjid Kapitan Keling
Masjid ini terletak di Jalan Kapitan Keling, sangat mudah untuk menemukannya. Kubahnya bergaya Moghul (kerajaan muslim di India yang berdiri sekitar abad ke-18) dengan simbol bulan sabit dan bintang mencuat di atasnya. Sementara dinding di bawah kubah memiliki lubang ventilasi dengan teralis berbentuk Bintang Daud. Pilar dan lengkung-lengkung eksteriornya bergaya Moor (bangsa muslim yang mendiami bagian utara afrika). Tembok luarnya berwarna putih dan abu-abu sementara atapnya berwarna merah, seperti dibuat dari tanah liat.

Dibangun sekitar tahun 1800, nama masjid ini berasal dari nama seorang pemimpin komunitas muslim dari India bagian selatan, Caudeer Mohudeen. Batu yang digunakan untuk membangun masjid berasal dari daerah di India bagian selatan. Versi awalnya belum semegah sekarang ini. Sekitar tahun 1910 masjid direnovasi oleh seorang arsitek berkebangsaan Jerman, H. A. Neubronner.

Menurut saya masjid ini bagus diambil saat sore hingga menjelang malam. Langit pada blue hour sangat cocok menjadi background masjid, ditambah lampu-lampu yang sudah dinyalakan. Saat langit sudah menjadi gelap, intensitas cahaya dari bagian dalam dan luar masjid menjadi jauh berbeda, sehingga bila kita pilih eksposur normal untuk dinding bagian luar, maka pencahayaan didalam masjid menjadi over, begitupula sebaliknya.

Malam tiba dan kedua kaki saya berkata bahwa mereka sudah lelah menjelajah George Town sepanjang hari. Sekarang waktunya saya kembali ke penginapan untuk membersihkan diri, membersihkan kamera, mengisi ulang baterai dan terlelap diantara lembutnya bantal dan guling.

Bukit Penang
Alarm di handphone berbunyi, menandakan pukul 06:00 pagi telah tiba. Saya segera bangkit dari tempat tidur. Setelah selesai mandi saya segera bersiap-siap menjelajah lagi. Beberapa orang turis terlihat tengah mempersiapkan diri. Sambil meminum teh hangat dan mengoleskan selai pada roti tawar, kami berbagi pengalaman dan informasi seputar tujuan wisata yang sudah kami kunjungi di pulau ini.

Pagi ini saya berencana untuk mengunjungi tempat tertinggi di Pulau Penang, yaitu Bukit Penang. Dengan motor sewaan saya menyusuri ruas-ruas jalan di George Town, menuju ke selatan. Berbekal peta di brosur dan ingatan di kepala, saya mencapai kaki bukit dalam dua puluh menit. Bila anda memilih menggunakan bis, dari Jalan Lebuh Chulia ambil bis nomor 201, 203 atau 204. Tarif karcisnya 2 RM dan jangan lupa menyebutkan tujuan kepada supir agar ia memberitahu di halte mana anda harus turun.

Untuk mencapai puncak bukit, tersedia kereta dari kaki bukit. Karcisnya seharga 6 RM untuk pulang-pergi. Keretanya terlihat unik karena bentuknya miring mengikuti tingkat kemiringan bukit dan bergerak menggunakan kabel yang terbuat dari baja, istilahnya funicular railway. Karena jaraknya yang cukup jauh (dua kilometer) maka terdapat dua stasiun penggerak kabel, sehingga di tengah perjalanan saya harus berganti kereta.

Dari puncak bukit saya bisa melihat hampir ke seluruh penjuru Penang, apalagi terdapat beberapa teropong yang bebas untuk digunakan. Sayangnya jarak pandang terbatas karena kabut masih menggelayuti bukit.

Pada masa kolonial bukit ini digunakan sebagai tempat untuk beristirahat, selain tempat untuk menghindari Malaria yang pernah merebak di dataran rendah. Pemerintah Inggris sengaja melakukan pembangunan hanya di Bukit Bendera, sementara bukit-bukit lain di daerah perbukitan Penang difungsikan sebagai daerah resapan air. Suatu contoh pelestarian alam yang telah dipahami sekian abad yang lalu.

Kini Bukit Bendera tetap menjadi tempat tujuan bagi wisatawan yang mencari udara sejuk dan kesunyian. Selain beberapa penginapan di sini juga terdapat restoran, taman burung mini dan tempat ibadah. Salah satu yang menarik minat saya adalah Kuil Hindu Thirumurugan.

Sebenarnya banyak terdapat kuil serupa tersebar di Penang. Hanya saja, kuil-kuil lain warna catnya sudah tergerus oleh waktu. Sementara di kuil ini warna-warna patungnya tampak masih baru. Patung-patung tersebut paling banyak di letakkan di atap bagian depan. Yang saya suka dari kuil Hindu adalah pemilihan warna-warna mencolok pada tiap patung, mengingatkan pada wahana Istana Boneka di Ancol. Bagian interior kuil juga dihias oleh bermacam patung, tetapi jumlahnya tidak sebanyak di bagian luar.

Setelah puas mengisi kartu memori dengan foto-foto mengenai Bukit Bendera, saya kembali berjalan menuju stasiun kereta. Perjalanan kereta memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Setibanya di kaki bukit, saya segera menyalakan motor lalu mengendarainya ke situs berikutnya.

Kuil Buddha Wat Chaiya Mangkalaram
Akhirnya saya tiba di Kuil Buddha yang memiliki pagoda indah berwarna emas. Kuil Wat Chaiya Mangkalaram adalah Kuil Buddha bergaya Thailand yang dibangun pada tahun 1845. Ratu Victoria menghadiahkan lahan untuk pembangunan kuil ini kepada komunitas Thailand di Penang, dalam rangka mempererat hubungan dagang antara Inggris dan Negeri Gajah Putih.

Di dalam kuil ini terdapat patung Buddha yang tengah merebahkan diri, panjangnya sekitar 33 meter. Di bagian depan dan sampingnya juga terdapat patung-patung Bodhisatwa. Lantainya dipenuhi motif gambar bunga Lotus berwarna merah dan hijau. Langit-langitnya berwarna putih, melengkung tinggi mirip hanggar pesawat. Patung Buddha ini dibangun pada tahun 1958, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Sang Buddha ke-2500.

Saya berjalan mengitari Patung Sang Buddha hingga tiba di bagian punggung. Ternyata dibagian belakang patung terdapat banyak lubang, didalamnya terdapat kendi tempat menaruh abu jenazah. Tiap lubang ditutup oleh kaca secara permanen dan pada tiap kaca terdapat foto serta nama si pemilik abu tersebut. Mengamati satu persatu nama dan wajah mereka, saya seperti terbawa ke masa lalu. Setelah puas memotret saya segera keluar, menuju ke pagoda.

Waktu terbaik memotret di kompleks ini adalah di pagi hari karena kuil menghadap kearah matahari terbit. Selain memotret pagoda dari dekat, saya sengaja keluar mencari angle yang berbeda. Untuk mencapai Wat Chaiya, naiklah bus no 101, 103 atau 104 dari Lebuh Chulia.

Kuil Buddha Dhammikarama Burmese
Kuil ini berada berseberangan dengan Wat Chaiya di Jalan Burmah Lane. Disebut-sebut sebagai Kuil Buddha pertama di Penang, kuil ini dibangun pada tahun 1803. Gapuranya berwarna merah dihias oleh ornamen-ornamen berwarna emas.

Saat memasukinya, sebuah lorong penuh dengan lukisan menyambut. Lukisan-lukisan itu bercerita mengenai Sang Buddha, jumlahnya sekitar tiga puluh. Di ujung lorong terdapat anak tangga untuk memasuki prayer hall. Di dalamnya terdapat altar dan Patung Sang Buddha.

Di sebelah kiri altar saya melihat seorang pendeta seperti tengah memberikan wejangan kepada sebuah keluarga. Kemudian setelah keluarga itu memohon diri, seorang ibu dan anaknya menghampiri sang pendeta, memberi hormat dan duduk di hadapannya. Sang pendeta lalu membacakan doa dan memasangkan beberapa helai benang di tangan mereka.

Di Penang ada banyak Kuil Buddha dengan tema berbeda, misalnya saja Thai Buddhist Temple, Chinese Buddhist Temple dan Burmese Buddhist Temple. Hal tersebut dipengaruhi oleh beragamnya komunitas disini. Bila menengok pada sejarahnya, pada masa kolonial dahulu, pemerintah Inggris memberikan suasana kondusif bagi berkembangnya tiap komunitas. Bertolak belakang dengan politik yang diterapkan Belanda di Indonesia.

Akomodasi di Georgetown
Di Jalan Lebuh Chulia dan sekitarnya terdapat banyak hotel maupun guesthouse. Daerah ini terkenal menjadi tempat menginap para turis. Bila anda menginap di daerah ini, anda berada dekat dengan situs-situs bersejarah. Penginapan-penginapan disini harganya hampir seragam, diantaranya ada Banana Guesthouse, Old Penang Guesthouse, SD Guesthouse atau Lovelane Inn.

Bagi yang bertraveling dengan budget terbatas, Old Penang di Jalan Love Lane memiliki dormitory dengan harga 15 RM per malam. Di sini terdapat beberapa fasilitas seperti safe deposit, bread breakfast, free wifi , laundry dan sebuah pc dengan koneksi internet.

Untuk urusan perut, di sekitar penginapan terdapat warung makan. Di malam hari, para pedagang makanan berjualan di spot-spot tertentu di Jalan Lebuh Chulia. Menu makanan yang dijual tertulis dibagian atas gerobak, misalnya Bak Chang, Lor Bak dan Popia Chi. Selain itu ada juga penjual sate ayam.

Disamping Masjid Kapten Keling ada warung makan yang buka mulai sore. Pedagang keturunan India di warung ini menyajikan makanan yang rasanya tidak asing dengan lidah orang Indonesia, pedas dan gurih. Harganya pun bisa dibilang sama dengan warung masakan Padang di tanah air.

Bila anda berniat untuk makan di mal, naiklah bis dengan rute menuju Komtar Tower yang bersebelahan dengan Mal Pasific Komtar. Dari Georgetown ke arah barat juga terdapat Gurney Plaza, ambil bis no 103 atau 104 untuk mencapainya . Gurney Plaza berada dekat Gurney Drive, sebuah jalan di sepanjang garis pantai yang dipenuhi kedai-kedai makanan dengan harga menengah ke atas.

Saatnya kembali ke tanah air telah tiba. Paul, seorang resepsionis di tempatku menginap mengucapkan selamat jalan. Dari balik jendela seiring laju bis, bangunan-bangunan di Georgetown seperti bergerak semakin cepat ke belakang. Seolah-olah bis membawaku dari masa kolonialisme kembali ke tempat asal. Sambil melihat-lihat foto pada layar kamera digital, saya berharap situs-situs bersejarah di tanah air bisa berkembang lebih baik lagi.

Tips & Info:

  • Ambilah brosur yang dilengkapi dengan peta setibanya di Bandara Penang untuk memudahkan perjalanan. Tanyakan info lebih detail kepada resepsionis di hotel atau guesthouse.
  • Di Penang tersedia bis gratis yang melayani rute-rute tertentu di George Town. Biasanya bertanda CAT (Central Area Transit) dibagian depan. Beberapa bis dengan rute panjang memiliki fasilitas free wifi.
  • Anda dapat menyewa motor dengan harga sekitar 20 RM per hari. Bila tidak memiliki SIM Internasional maka resiko kerusakan dibebankan kepada anda. Namun lalu lintas di Penang tergolong aman dan nyaman.
  • Sisihkan waktu untuk mengunjungi Clan Temple di George Town. Yang terkenal di antaranya yaitu Khoo Kongsi di Jalan Lebuh Cannon dan Hock Teik Cheng Sin di Jalan Armenian. Cukup berjalan kaki saja dari Lebuh Chulia ke arah Masjid Kapitan Keling.
  • Bila ingin merekam kehidupan sehari-hari masyarakat keturunan India, datanglah ke Little India. Wilayahnya meliputi Lebuh Pasar, Lebuh King, Lebuh Queen dan Lebuh Penang.
  • Perayaaan Umat Hindu, Thaipusam sangat menarik untuk diabadikan. Pada perayaan itu terdapat atraksi menusuk anggota tubuh dengan benda tajam seperti debus. Biasanya dilaksanakan sekitar bulan Januari atau Februari.

Tanggal Perjalanan: Juni 2009

Tagged: , , , , ,

§ 4 Responses to Hunting Arsitektur di Seputar Georgetown

  • Fauzan Zainoen says:

    I want to know about Langkawi. I need any information about transportation like bus from Penang to Langkawi, hotels, and tourism objects also . I search in google specially Langkawi, not so complete. Please give me information about that.

    • Information about bus from penang to langkawi, please visit http://www.journeymalaysia.com and check the transportation with bus/coach inside. As far as i can remember, there’s no bus in Langkawi. So when you arrive there, you can take a taxi to cenang beach, check in a hostel or guesthouse … For transportation in Langkawi, you can hire a small car (daihatsu ceria), motorcycle (modenas or chinese matic) or get a cab (will cost you some money, depends on your destinations).

      Ok, have a good vacation Fauzan!🙂

  • selvy says:

    hi.. boleh kasih saya sedikit informasi. saya sedang mencari dorm yang deket dengan hotel sunway penang, apakah bisa memberi saya beberapa info mengenai dorm yang dekat dengan hotel tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hunting Arsitektur di Seputar Georgetown at Jalan Lagi Jalan Lagi.

meta