Waisak dan Borobudur

Borobudur dan Lautan Kabut“The ruins of this places, Prambanan and Borobudur, are admirable as majestic works of art. The great extent of the masses of building covered in some parts with the luxuriant vegetation of the climate, the beauty and delicate execution of the separate portions, the symmetry and the regularity of the whole, the great number and interesting character of the statues and bas reliefs, with which they are ornamented, exite our wonder that they were not earlier examined, sketched, and described.”

Kutipan di atas berasal dari buku The History of Java, volume II, yang diterbitkan tahun 1817. Kalimat tersebut ditulis oleh seorang warga negara Inggris, setelah ia mengunjungi Borobudur dan Prambanan. Dalam masa kerjanya yang singkat, pria ini menamakan sebuah bunga raksasa di Bengkulu sesuai namanya, dan menerapkan sistim lalu lintas lajur kiri yang masih bertahan hingga kini.

Bumisegoro
Saya terbangun di sebuah bilik sederhana yang tampak asing. Oya, baru tadi malam saya tiba dan berkenalan dengan pemilik homestay. Mata yang masih mengantuk ini, menyapu seisi kamar yang berisi ranjang, meja dan lemari kayu yang tampak kuno. Daun jendelanya terdiri dari dua jenis, jendela kaca dan jendela kayu dengan kisi-kisi ventilasi. Rumah bergaya Jawa ini catnya kusam, berkesan sederhana, namun berukuran besar. Atapnya disokong oleh soko guru yang kokoh. Dapurnya berukuran sedang dengan atap rendah, dilengkapi tungku yang masih menggunakan kayu bakar.

Melintas BorobudurHari ini Borobudur akan ramai oleh perayaan Waisak. Harga penginapan di sekitar candi melambung karena membludaknya pengunjung, homestay pun menjadi pilihan yang lebih ramah bagi kantung. Di dusun ini terdapat banyak rumah yang difungsikan sebagai homestay. Warga desa memiliki sebuah paguyuban yang mengatur tata kelola penginapan, termasuk keseragaman biaya.

Berbeda dengan losmen atau hotel, pemilik rumah mengajak saya mengobrol sambil mencicipi teh tubruk dan jajanan pasar. Kebetulan Pak Subkhan yang rumahnya saya tempati, adalah ketua paguyuban di Bumisegoro. Ia juga sempat memperkenalkan saya dengan anggota keluarganya yang lain. Rasanya seperti tengah berkunjung ke rumah famili saja.

Ada tiga dusun di sekitar Borobudur yang namanya berkaitan dengan air, yaitu Bumisegoro (segoro bermakna lautan), Sabrang Rowo (seberang rawa) dan Tanjungan. Seorang guide yang saya temui di kesempatan berbeda, bercerita bahwa dahulu candi ini pernah dikelilingi danau. Borobudur dianggap seperti bunga teratai bila dilihat dari udara. Hipotesa mengenai hal ini pertama kali dikemukakan tahun 1933 oleh seorang arsitek Belanda, Nieuwenkamp dalam artikel berjudul Het Borobudur Meer. Untuk membuktikan teorinya, Nieuwenkamp bersama para geolog melakukan penelitian tahun 1937. Para peneliti selanjutnya juga sudah menemukan bukti-bukti pendukung. Salah satunya yaitu lapisan batu lempung hitam yang mengandung fosil tanaman rawa.

Mengikuti Prosesi
Setelah selesai sarapan dan melihat koleksi ayam hias milik tuan rumah, saya memanaskan motor dan membawanya menuju starting point di Candi Mendut. Rombongan akan berjalan beriringan menuju Candi Borobudur dengan melewati Candi Pawon. Rute yang dilalui, panjangnya sekitar 3,5 kilometer.

Barisan bhiksu menjelang prosesiDahulu ketiga candi dipercaya memiliki garis imajiner yang lurus satu sama lain. Namun Totok Roesmanto dalam buku 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur (2011) menyampaikan bahwa titik pusat ketiga candi tidak berada dalam satu garis lurus. Anda bisa membuktikannya dengan menggunakan software spasial seperti Google Earth atau Wikimapia. Selanjutnya, Anda bisa saja memeriksa apakah Kraton Jogja, Tugu dan kawah Merapi berada dalam satu garis lurus.

Saat tiba di Candi Mendut, para bhiksu dan bhiksuni tengah berdoa dengan khusuk. Bergantian para fotografer mengabadikan momen ini. Melihat betapa sikap “antusias” para fotografer, panitia menjaga area tertentu hanya bagi fotografer yang berasal dari media saja. Maklum, para penghobi fotografi juga tidak ingin ketinggalan kesempatan. Dari tahun ke tahun, hal ini mengundang kritik dari masyarakat umum dan para pecinta fotografi itu sendiri.

Iring-iringan pembawa hasil bumiTepat pukul 08:30 prosesi dimulai. Berada paling depan adalah barisan pembawa bendera merah putih dan marching band, di belakangnya ada kendaraan hias berbentuk naga yang membawa beberapa bhiksu bersama Relik Sang Buddha, air suci dari Umbul Jumprit di Temanggung dan api suci dari Mrapen di Grobogan. Selanjutnya adalah barisan bhiksu yang dikawal para pria yang mengenakan beskap dan blangkon. Lalu menyusul barisan pemuda-pemudi dengan pakaian adat dari daerah-daerah di nusantara, dan terakhir kelompok para pemuda dengan tandu berisi hasil-hasil bumi seperti padi, singkong, nanas dsb.

Prosesi Waisak menuju Candi PawonSepanjang rute prosesi, masyarakat tampak memberikan sambutan yang baik. Beberapa diantaranya mengabadikan rombongan dengan handphone. Matahari berada di posisi yang berlawanan dengan arah prosesi, sehingga sinarnya langsung berhadapan dengan lensa. Kondisi jalan yang naik turun serta panasnya udara, membuat peserta prosesi dan para “supporter” bermandikan peluh.

Dr. Daoed Joesoef dalam buku Borobudur (2004), menyampaikan keberadaan sebuah jalan yang menghubungkan ketiga candi di masa lalu. Disebutkan bahwa jalan penghubung tersebut diperkeras dengan batu dan diapit oleh pagar langkan yang dihiasi ukir-ukiran. Jalur ini digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Sayangnya, penelitian-penelitian yang dilakukan hingga kini belum berhasil mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan mengenai jalan penghubung tersebut.

Para bhiksu membawa Relik Sang BuddhaSekitar pukul 11:00 lewat, rombongan memasuki halaman Candi Borobudur. Panitia sudah mendirikan panggung dengan sebuah patung besar di depan candi. Sekian ratus meter persegi karpet merah juga sudah digelar untuk acara Renungan Waisak sore nanti. Pemindahan Relik Sang Buddha dari kendaraan hias menuju altar menjadi pusat perhatian selanjutnya. Para fotografer yang tadi membludak, sebagian besar sudah menghilang. Mungkin tengah rehat atau memang kurang tertarik dengan relik.

Rekan saya, Bapak Hidayat Halim pernah menunjukkan bermacam bentuk relik, kebetulan ia beberapa kali menjadi ketua panitia Puja Relik. Relik merupakan peninggalan atau sisa kremasi dari tubuh seseorang yang dianggap sudah mencapai “pencerahan”.  Umumnya berupa kristal berukuran kecil dengan beragam warna. Bentuk lainnya bisa berupa tulang, helai rambut atau bola mata. Relik yang pernah saya jumpai di Buddha Tooth Relic, Singapura, malah berupa gigi geraham.

Pelepasan Lampion
Selama perayaan Waisak, pengunjung dibebaskan dari biaya tiket masuk. Sekitar pukul empat sore, para umat kembali berkumpul di depan altar untuk mendengarkan kata sambutan dan renungan Waisak. Tahun ini detik-detik Waisak jatuh pada pukul 18:08:23. Mulai detik ini, umat melakukan meditasi massal selama 12 detik. Suasana di sekitar candi menjadi begitu hening. Tahun 2010 yang lalu, saya melewatkan detik-detik Waisak yang jatuh sekitar pukul 06:00 pagi. Saat itu para bhiksu melakukan meditasi di area Arupadhatu.

Bhiksu tengah melakukan PradaksinaTidak berapa lama, meditasi selesai. Setelah memberikan berkah bagi umat dengan memercikkan air, para bhiksu bersiap melakukan pradaksina, yaitu prosesi mengitari candi sebanyak tiga kali searah jarum jam. Selama prosesi, tangan mereka membentuk sikap anjali (mengatup kedua tangan di depan dada). Sambil membawa lilin dan dupa, terdengar lantunan doa dari bibir para bhiksu yang berbunyi “Om mani padme hum.” Doa ini didaraskan dengan lembut dan berulang-ulang.

PeMelepas lampionrayaan Waisak 2555 ini diakhiri dengan pelepasan seribu lampion. Lampion yang dibuat dengan kertas yang amat tipis ini, didatangkan dari Thailand. Sebelum dilepas, mereka yang memegang lampion mengucapkan permohonan dalam hati. Beberapa turis bule ikut serta melepaskan lampion. Langit di atas Borobudur pun dipenuhi titik-titik cahaya kuning yang melayang mengikuti angin, tampak romantis. Oya, acara ini pernah batal dilaksanakan di tahun 2013 karena kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Lampion WaisakDua turis lain yang datang jauh-jauh dari Thailand, bercerita bahwa mereka ingin beribadah sambil melihat karya Dinasti Syailendra. Mereka mendengar perayaan Waisak di Borobudur terasa lebih semarak. Pengusaha travel yang membawa rombongan wisatawan domestik tampaknya terus bertambah. Jumlah minibus elf yang diparkir di kaki Bukit Setumbu dan di Bumisegoro bisa dijadikan acuan.

Menyusuri Candi
Di hari berikutnya, saya kembali mengunjungi Borobudur karena rasa ingin tahu. Kali ini Mas Slamet, seorang guide sengaja saya ajak berkeliling candi hingga kerongkongannya kering, karena terus menerus bercerita. Dalam pendakian, kami kadang berpapasan dengan guide lain yang tengah menjelaskan dengan bahasa Inggris, Jerman atau Perancis.

Pewarnaan pada relief

Area pohon pada relief diberikan warna terang agar kontras dengan backgroundnya.

Kami menjumpai beberapa panel relief pada dinding candi yang berwarna kecoklatan. Slamet berkata bahwa kerusakan ini mungkin diakibatkan oleh bahan tertentu yang dioles fotografer pada permukaan relief. Hal ini dilakukan agar bagian tersebut tampak lebih kontras saat diabadikan. Adolf Schaefer dan Kassian Cephas adalah nama-nama fotografer yang pernah ditugaskan pemerintah kolonial untuk mendokumentasikan Borobudur. Tetapi pada masa itu, banyak fotografer yang berkunjung untuk mengabadikan candi. Setibanya di rumah, saya menemukan beberapa foto yang mendukung teori ini. Sebuah laman dokumentasi Hindia-Belanda menampilkan foto-foto relief yang diambil sekitar tahun 1890. Sayang sekali nama fotografernya tidak tercantum.

Lubang pada stupa

Ruangan dalam stupa induk cukup besar untuk menyimpan sebuah arca Buddha.

Stupa induk adalah bagian lain yang tidak luput dari kerusakan. Tahun 1814, Kolonel Colin MacKenzie mengabarkan keberadaan Borobudur pada atasannya, Raffles (Golden Tales of the Buddha, John Miksic, 1991). Raffles lalu mengutus asistennya yang lain, yaitu H. C. Cornelius untuk membersihkan Borobudur dari tanaman liar dan lapisan tanah. Saat itu Cornelius mendapati sebuah lubang mengangga pada dinding stupa induk. Sebuah foto yang diambil oleh C.B. Nieuwenhuis antara tahun 1880-1908, menampilkan kondisi stupa induk yang rusak, hingga ruang di dalam stupa terlihat. Kerusakan ini bisa saja dilakukan oleh pencuri yang tengah mencari harta karun.

Yasti dan Chattra

Bentuk rekaan yasti dan chattra karya Theodoor van Earp sebelum diturunkan.

Selain memiliki ruangan, stupa induk sebenarnya memiliki yasti (semacam mahkota). Theodoor van Earp, seorang pemugar asal Belanda pernah merekonstruksi bentuk yasti dengan tiga chattra (payung) saat restorasi besar tahun 1907-1911. Namun ia kembali membongkarnya karena batu-batu penyusun yasti sebagian besar tidak orisinil. Selain itu, tidak ada bukti kuat yang menunjukan bagaimana bentuk yasti milik Borobudur. Yasti rekonstruksi van Earp kini disimpan di Museum Karmawibangga, bersebelahan dengan patung Mbah Belet.

Patung Mbah Belet atau The Unfinished Buddha merupakan teka-teki lain yang belum dipecahkan. Arca ini tampak belum selesai dikerjakan. Rambutnya belum “dikeritingkan”, Unisha di atas kepala masih berupa gundukan batu, jubah dan tangan kanannya belum berbentuk. Sebutan Mbah Belet mungkin berasal dari bahasa Belanda “beeld” yang berarti patung atau figur. Para peneliti masih menduga-duga dimanakah posisi arca ini sesungguhnya. Cornelius tidak menyebutkan penemuan arca ini dalam stupa induk. Residen Kedu yang melanjutkan pemeliharaan candi, yaitu Hartman, justru tidak pernah menuliskan kegiatannya di Borobudur. Akhirnya Theodoor van Earp meletakkan “potongan puzzle” ini di bawah sebuah pohon kenari karena tidak ada bukti-bukti kuat tentang asal-usulnya.

Patung Mbah Belet

Foto arca “Mbah Belet” karya Thilly Weissenborn, diambil antara tahun 1920-1930.

Seorang arkeolog Belanda yang bernama Dr. A. J. Bernet Kempers pernah menyampaikan tentang arca serupa di Bodh Gaya (kota tujuan peziarah Buddha di India) berdasarkan catatan perjalanan peziarah Cina, Hsuan-tsang tahun 640. Walaupun tidak sempurna, arca itu tetap dipuja. Dr. Bernet menduga bahwa Mbah Belet adalah replika yang dibuat berdasarkan model asli di Bodh Gaya. Arkeolog yang pernah tinggal di Indonesia sejak tahun 1906 hingga 1956 ini, juga menuturkan bahwa penataan Borobudur membuat arca tampil dengan gradasi visual sebagai berikut; pada tingkat rupadhatu arca terekspos, pada tingkat arupadhatu arca tampak samar karena terhalang oleh kisi-kisi stupa, dan pada stupa induk arca sama sekali tidak bisa dilihat. Dr. Bernet menyimpulkan bahwa Mbah Belet berasal dari stupa induk.

Catatan lain mengenai the Unfinished Buddha tertulis dalam Serat Centhini yang disusun para pujangga Kraton Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwono V (1785-1823). Serat Centhini mengisahkan perjalanan Mas Cebolang ke beberapa daerah di Jawa, termasuk perjumpaannya dengan arca yang belum sempurna dalam “sangkar batu” di puncak Borobudur. Keberadaan Mbah Belet di stupa induk juga dilaporkan oleh F.C. Wilsen, seorang pelukis yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk membuat sketsa dari relief-relief yang dianggap penting. Ia tinggal di Borobudur tahun 1849-1852 dan menghasilkan 476 gambar (Sejarah Kebudayaan Jawa, Dr. Purwadi, Pararaton, 2011).

Daoed Joesoef menuliskan dua teori mengenai Mbah Belet. Menurut mantan Menteri P&K ini, sang pembuat arca pastilah seorang pande atau maestro. Ia kemungkinan tengah “berhalangan besar” sehingga karyanya tidak selesai. Karena ia seorang pande, mungkin tidak ada yang “berani” meneruskan karyanya karena takut salah atau keliru. Teori lainnya adalah kasus-kasus tertentu dalam dunia seni di mana suatu karya memang sengaja tidak diselesaikan karena penciptanya sudah mendapatkan kepuasan pribadi. Hal ini pernah terjadi pada karya pelukis Affandi atau pematung Tilem dari Bali.

Selesai mendaki candi, Mas Slamet mengajak saya menjelajahi sudut-sudut Museum Karmawibangga. Di halaman museum kami melihat banyak tumpukan batu yang belum berhasil dihubungkan, layaknya potongan puzzle yang masih berserakan. Kondisi ini sesuai dengan penuturan Daoed Joeseof; “Jelas bahwa masih banyak, banyak sekali hal, yang tidak kita ketahui dan mungkin tidak akan pernah kita ketahui tentang monumen-monumen tua. Dan kalaupun telah terungkap, tidak sedikit interpretasi yang kita ketengahkan masih dapat diragukan, sangat tidak pasti keberadaannya. Keadaan ini bisa saja mengecewakan, namun tidak boleh mencegah kekaguman kita terhadap banyak hal yang pantas dikagumi dalam monumen-monumen tersebut.”

Saat tur selesai, saya menawarkan minum pada Mas Slamet. Dengan sopan ia menolak dan mengucapkan terimakasih. Sepertinya ia sudah merasa senang bisa memuaskan keingintahuan seorang turis lokal.

======================================================================

Tips:

  • Biaya homestay tahun 2011 Rp. 75.000,- per malam, sementara penginapan di sekitar candi bisa melambung hingga empat kali lipat saat Waisak.
  • Dusun Bumisegoro terletak di bagian barat Borobudur, jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari candi lewat jalan memutar. Bagi yang melakukan perjalanan dari Jogja, Anda bisa menyewa motor dengan biaya sekitar Rp. 50.000,- per hari. Saya dengar tukang ojek di sekitar candi juga bersedia menyewakan motornya.
  • Punthuk Setumbu dipenuhi fotograferBila ingin mengabadikan Borobudur dengan lautan kabut, datanglah ke Punthuk Setumbu. Dari depan gerbang Borobudur, arahkan kendaraan ke arah Hotel Manohara, maju terus hingga bertemu perempatan. Ambil arah ke kanan, ikuti papan petunjuk bertuliskan “Borobudur Nirwana Sunrise.” Sekitar tiga kilometer dari perempatan, Anda akan menemui sebuah musholla di sebelah kiri dan sebuah jalan tanah yang menanjak di sebelah kanan. Di ujung jalan menanjak, titiplah kendaraan di halaman rumah penduduk. Sejak subuh mereka sudah bersiap di muka rumah sambil menjual makanan dan minuman ringan, mereka juga bisa mengantar menuju puncak bukit. Pendakian memakan waktu sekitar 15 menit, ada baiknya membawa senter. Saat musim ramai, sebaiknya Anda sudah berada di puncak bukit pukul empat subuh untuk “mengamankan posisi”. Gunakan lensa tele berukuran 70-300 mm untuk sikon ini. Ada petugas setempat yang mengumpulkan retribusi dari pengunjung di puncak bukit.
  • Seorang nenek tengah membuat gerabahAnda bisa melihat dari dekat proses pembuatan gerabah di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, kira-kira tiga kilometer di sebelah barat daya Borobudur. Salah satu tempat yang biasa dikunjungi adalah Gerabah Arum Art milik Pak Supoyo.

====================================================================

Tanggal perjalanan: Mei 2010, Mei 2011 & Mei 2012
Sumber pustaka: Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu (P. Swantoro, KPG, 2002), 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur (Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, 2011), Borobudur (Daoed Joesoef, Kompas, 2004), Golden Tales of the Buddha (John Miksic, Periplus Editions (HK) Ltd., 1991), The History of Java (Thomas Stamford Raffles, Narasi, 2008), Sejarah Kebudayaan Jawa (Dr. Purwadi, M.Hum, Pararaton, 2011).
Foto: Dokumentasi pribadi & http://www.media-kitlv.nl

Grebeg Suro Ponorogo

Derap kaki pasukan berkuda menggetarkan bumi, gerombolan manusia berwajah merah berhamburan, dua mahluk aneh berhidung bengkok, melompat ke sana ke mari. Di belakangnya, harimau bermahkotakan burung merak berguling-guling di tanah. Ada gerangan apa sehingga mereka berbondong-bondong memasuki kota ini?

Jathilan“Numpang tanya, Pak, bagaimana cara mencapai Terminal Madiun dari sini?” Saya bertanya kepada sesama penumpang yang turun, saat Gajayana berhenti sesaat di Kota Madiun. Setelah si bapak menyarankan saya untuk menggunakan ojek, ia segera berlalu meneruskan langkahnya. Crazy hunting, begitu saya menyebutnya. Melakukan hunting tanpa persiapan matang, mengambil keputusan di lapangan dengan cepat, dan menikmati konsekuensinya sebagai bagian dari perjalanan. Flowchart yang ada di dalam kepala, berupa Kota Madiun, Kota Ponorogo, lalu Festival Reog.

Pak Didi, seorang pengemudi ojek menawarkan saya untuk menempuh perjalanan langsung ke Ponorogo bersamanya. Karena tarifnya masuk akal dan menghemat waktu, saya langsung mengiyakan. Angin dingin menerpa wajah saat kami menyusuri Madiun yang masih terlelap, bebek yang kami tunggangi melesat di tengah jalan yang sepi.

Tidak terbayang, beberapa jam sebelumnya saya masih berjibaku dengan tuts keyboard dan pekerjaan yang datang kian deras menjelang keberangkatan. Foto-foto lanskap yang saya lihat pada monitor, kini digantikan oleh lanskap sungguhan, saat matahari terbit perlahan di puncak Gunung Wilis.

Grebeg Suro Ponorogo

Patung Prabu Klono Sewandono

Patung Prabu Klono Sewandono

Jarak 30 kilometer ditempuh selama satu jam. Sebuah gerbang dengan dua patung merak menyampaikan bahwa kami sudah memasuki Kabupaten Ponorogo. Tidak lama sesudah itu kami melewati Pasar Songgolangit, dinamakan sesuai dengan nama puteri yang hendak dipinang Raja Klono Sewandono dalam legenda reog.

Selama pagelaran Grebeg Suro, penginapan-penginapan terbaik di Kota ini dipenuhi oleh rombongan reog yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Hotel Permai yang berada di dekat alun-alun sudah penuh, diborong oleh stasiun televisi dan instansi pemerintah. Sekitar 50 kelompok reog meramaikan festival tahun ini. Satu rombongan reog, memiliki kelompok penari, pemain musik, dan kru yang jumlahnya bisa mencapai 50 orang, bukan main banyaknya. Program transmigrasi dan pengiriman TKI, berperan dalam penyebaran kesenian asal Ponorogo ini ke provinsi lain, bahkan hingga ke negara tetangga.

Peran jathilan yang dahulu dilakoni oleh anak laki-laki, kini digantikan oleh remaja putri

Peran jathilan yang dahulu dilakoni oleh anak laki-laki, kini digantikan oleh remaja putri

Berlangsung hampir selama satu bulan lamanya, festival dipadati oleh beragam pameran, perlombaan dan acara adat. Festival reog, pacuan kuda, kirab pusaka, tumpeng purak (serupa dengan grebeg maulud di halaman Masjid Agung Jogjakarta), pemilihan kakang senduk (serupa dengan pemilihan Abang None Jakarta) dan larungan di telaga ngebel, menjadi highlight Grebeg Suro. Alun-alun yang berada tepat di depan kantor bupati menjadi pusat keramaian.

Grebeg Suro Ponorogo lahir dari gagasan bupati setempat di tahun 1987, yakni Bapak Soebarkah. Beliau mengadakan festival kesenian sebagai wadah bagi warganya yang tengah melakukan tirakatan setiap malam satu suro, sekaligus sebagai suatu cara untuk melestarikan seni di Ponorogo. Festival reog sendiri sudah 18 kali diselenggarakan sejak pertama kali digelar tahun 1994.

Asal-usul Reog
Gladi resikSetelah berhasil mendapatkan penginapan, saya mengitari alun-alun. Pada siang hari, tak terlihat aktifitas pada kios-kios cenderamata dan wahana permainan rakyat. Mereka baru beroperasi selepas maghrib. Saya melangkahkan kaki menuju panggung, dimana para peserta sedang asyik berlatih menari. Mereka umumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk menyempurnakan tarian, menerjemahkan visi koreografer ke dalam harmonisasi gerak. Banyak di antara mereka yang masih berusia remaja. Reog menjadi menu wajib untuk para pelajar yang bersekolah di kabupaten ini.

Prabu Klono SewandonoTarian reog melukiskan legenda Prabu Klono Sewandono dari Kerajaan Bantar Angin yang hendak melamar Dewi Songgolangit dari Kediri. Rombongan Sang Prabu terdiri dari pasukan berkuda (jathilan), gerombolan pendekar (warok) dan Patih Bujangganong yang sakti. Dalam perjalanan, rombongan dihadang oleh pasukan harimau dan burung merak. Pertempuran pun pecah, pasukan Sang Prabu kewalahan menghadapi kekuatan lawan. Akhirnya Sang Prabu mengeluarkan senjata andalannya, yaitu Cemeti Kyai Samandiman. Dengan suara menggelegar, cemeti menyapu pasukan musuh. Rombongan Sang Prabu pun berhasil melanjutkan perjalanan menuju istana Dewi Songgolangit.

Warok dan singobarong

Dua orang warok dan topeng singobarong

Versi lain dari sejarah reog berkaitan dengan sejarah Majapahit, tepatnya pada masa pemerintahan Bhre Kerthabumi atau Brawijaya V. Kala itu pengaruh kerajaan Hindu mulai meredup di Nusantara. Raja Majapahit yang beragama hindu, menikahi seorang putri dari Champa (sekarang berada di wilayah Vietnam bagian tengah) yang beragama islam. Hal ini terjadi atas bujukan para Wali yang tengah menyebarkan islam. Kondisi politik yang tidak kondusif dalam lingkungan istana, menjadi bertambah panas.

Kecewa dengan pemerintahan yang korup, seorang abdi kerajaan yang bernama Ki Ageng Kutu, melakukan protes dengan menciptakan tarian reog. Posisi kepala harimau yang berada di bawah burung merak, menyindir kedudukan raja yang takluk oleh seorang putri dari Cina (kala itu Vietnam masih berada di bawah kekuasaan Cina). Pasukan jathilan dan warok melambangkan kekuatan Ki Ageng yang tengah melawan Raja Majapahit (dilambangkan oleh singobarong).

Bujangganong

Bujangganong tengah berpose

Selama pementasan, saya bergabung dengan belasan fotografer lainnya, berusaha mencuri momen dan komposisi dari lincahnya gerakan para penari. Bujangganong sering melakukan gerakan salto ke udara di depan barisan warok. Di samping panggung, kelompok pemain musik dan penyanyi duduk melingkar, menghasilkan nyanyian yang menggempita. Ditingkahi irama gamelan dan nyanyian penuh semangat, ingin rasanya ikut menari.

Esok hari, Bapak Bupati bersama rombongan rencananya akan mengawal kirab pusaka. Tiga benda pusaka yang diinapkan di kompleks makam pendiri Kota Ponorogo, akan diarak menuju alun-alun kota. Masyarakat pastinya akan tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui rombongan kirab.

Berdirinya Kota Ponorogo

Makam Bathoro Katong

Gerbang makam Bathoro Katong

Sekitar pukul sepuluh pagi, saya bergabung dengan beberapa rekan media di kompleks makam Bathoro Katong. Kondisi makam tampak bersih terawat, suasana terasa sunyi, pepohonan memberikan keteduhan. Sambil menunggu rombongan penjemput pusaka datang, kami berbincang-bincang dengan juru kunci makam, yaitu Mbah Sunardi. Menurut beliau, Bathoro Katong adalah adipati pertama di Ponorogo, dahulu berada dalam wilayah kerajaan Wengker. Nama lain Bathoro Katong adalah Lembu Kanigoro. Putri dari Champa yang menjadi selir Prabu Brawijaya, adalah ibu dari Lembu Kanigoro. Bathoro Katong memiliki hubungan erat dengan kakak yang berasal dari ayah yang sama, yaitu Lembu Kenongo. Di kemudian hari, Lembu Kenongo akan dikenal sebagai Raden Patah, pemimpin Kerajaan Demak. Mengikuti jejak kakaknya, Lembu Kanigoro berguru kepada Wali Songo di Demak.

Mbah Sunardi (kanan), juru kunci makam

Mbah Sunardi (kanan), juru kunci makam

Untuk memperkuat pengaruh islam di Wengker, Wali Songo mengirimkan Lembu Kanigoro yang ditemani oleh para santri untuk “menetralisir” Ki Ageng Kutu. Majapahit juga sudah menganggap Ki Ageng sebagai pembangkang. Pertempuran antara pasukan pendatang dan pasukan Ki Ageng Kutu berlangsung sengit. Kesaktian Ki Ageng yang memiliki nama lain Pujangga Anom Ketut Suryongalam, tidak bisa diremehkan. Lembu Kanigoro pun menarik pasukan sambil mengatur siasat bersama Ki Ageng Mirah (murid Sunan Kalijaga).

Lembu Kanigoro kemudian mendekati Niken Gandini, putri Ki Ageng Kutu dan merayunya untuk dijadikan istri. Niken Gandini lalu mengikuti permintaan Lembu Kanigoro untuk mencuri senjata ayahnya, pusaka Koro Welang. Dalam pertempuran berikutnya, Ki Ageng Kutu berhasil dikalahkan lalu melakukan moksa. Sejak itu, Lembu Kanigoro menamakan dirinya Bathoro Katong. Ia membuka hutan, membangun pemukiman dan berkuasa di Ponorogo.

Pono memiliki arti pantas, cakap dan pintar, sementara rogo berarti tubuh. Juru kunci yang mewarisi profesi ayahnya ini, memaknai ponorogo sebagai sikap mawas diri, tahu kelebihan dan kekurangan diri.

Kirab Pusaka & Tumpeng Purak
Selesai mendengarkan cerita dari juru kunci makam, kami semua beringsut, memohon diri karena rombongan Pak Bupati kabarnya hampir tiba. Sambil menunggu rombongan sampai, kami sempat berbincang-bincang dengan sesepuh paguyuban supranatural Ponorogo, Romo Dodik Sri Suryadi. Dua orang rekan saya yang ditugaskan oleh suatu departemen, meliput festival ini sejak seminggu yang lalu. Mereka sudah berkeliling Ponorogo, melihat lokasi-lokasi spiritual beserta “keunikannya”.

Tiga pusakaAkhirnya acara kirab dimulai pukul 14:00, ketiga pusaka yang terdiri dari Angkin (sabuk) Cinde Puspito, Payung Songsong Tunggul Wulung dan Tombak Tunggul Nogo dibawa keluar dari kompleks makam. Romo Dodik berkisah tentang ketiga pusaka, yang pada masanya digunakan sebagai tameng, penawar kekuatan gaib, dan senjata pencabut nyawa. Bapak Bupati lalu menyerahkan pusaka tersebut kepada sepasukan pria berbaju tradisional, untuk diantar ke pendopo kabupaten. Di belakang mereka terdapat rombongan dayang-dayang dan rombongan pemerintah setempat yang menaiki kereta kuda. Kirab ini dimaksudkan untuk memperingati perpindahan pusat kota dari bagian barat ke bagian tengah kabupaten. Jauh di depan, pasukan marching band dari beberapa sekolah sudah berjalan terlebih dahulu, menarik penonton ke jalur kirab.

Rombongan dayang-dayangTiga jam kemudian, rombongan kirab memasuki alun-alun. Masyarakat sudah memadati alun-alun, menunggu acara pembersihan pusaka dan tumpeng purak. Banyak dari mereka yang datang dari kabupaten lain di sekitar Ponorogo. Pedagang makanan dan minuman tampak sibuk bekerja. Sementara bapak-bapak polisi tampak berjaga dan mengantur lalu lintas di tiap persimpangan.

Ritual pencucian pusakaBapak Bupati mulai menyiram air kembang dengan panduan Romo Dodik ke bagian tertentu dari pusaka. Air kembang diambil dari beberapa mata air di Ponorogo. Setelah prosesi selesai, pusaka dibawa ke pendopo dan sisa air kembang mendadak jadi rebutan warga. Acara rayahan kembali terjadi saat tumpeng purak disajikan di tengah jalan. Dalam tempo singkat, gundukan nasi dan lauk pauk tersebut habis dijarah massa. “Untuk mendapatkan berkah, kita tetap harus bekerja dan berdoa. Bukan hanya mengandalkan air kembang dan nasi tumpeng”, MC mengingatkan lewat pengeras suara.

Pada malam harinya, kejuaraan reog kembali digelar dan di akhir acara, panitia mengumumkan juara festival, yang ternyata diraih oleh kelompok Bantar Angin asal Jakarta. Pukul 24:00, panitia meluncurkan kembang api. Para fotografer segera memasang setting kamera yang sesuai, untuk momen yang hanya berjalan dalam tempo singkat itu.

Saya kembali berjalan menuju penginapan, menyiapkan diri untuk proses larungan esok pagi. Malam ini Kota Ponorogo tidak tidur, warganya tampak masih berkeliaran atau duduk-duduk di tiap sudut. Sesampainya di kamar saya segera me-recharge handphone dan baterai kamera, lalu terlelap hingga pagi.

Larungan di Telaga
Pagi itu, pak ojek yang sudah di-booking sehari sebelumnya, mengantar saya menuju lokasi larungan. Telaga Ngebel yang berada di kaki Gunung Wilis, memiliki ketinggian 734 meter dpl. Udara sejuk di sekitar telaga terasa kontras dengan udara panas di Kota Ponorogo. “Pantas saja banyak warga yang senang berwisata ke sini”, ujar saya dalam hati. Di sekitar telaga banyak terdapat pohon cemara, rumput hijau dan pepohonan rindang. Tujuan wisata lain di daerah ini adalah air terjun dan sumber air panas.

Telaga NgebelSaat asyik mengabadikan lanskap, terdengar bunyi sirine meraung-raung di kejauhan. Rupanya rombongan Pak Bupati lagi. Saya membonceng motor seorang remaja asal Kediri yang kebetulan tengah menuju alun-alun Ngebel. Saya kembali bergabung dengan para fotografer yang wajahnya sudah sering saya lihat selama gelaran festival ini.

Bapak Bupati berpidato mengenai pentingnya pariwisata bagi pembangunan daerah, termasuk masukan-masukan bagaimana menghadapi wisatawan. “Acara larungan ini hanya pelengkap gelaran Grebeg Suro, kita hanya percaya kepada Tuhan YME”. Beliau menampik tudingan negatif yang tersirat dalam prosesi ini.

Masyarakat setempat melakukan ritual adat setiap malam satu suro, misalnya berdoa bersama-sama, menanam kaki kerbau di lokasi-lokasi tertentu, dan melarung sesajen. Penduduk Ngebel memiliki juru kunci yang tugasnya membawa rakit sesajen ke tengah danau. Kebiasaan ini tentu saja dilakukan pada malam hari. Hebatnya, juru kunci tidak menggunakan kapal, ia mendorong rakit sendiri sambil berenang.

Larungan di Telaga NgebelLarungan yang dilaksanakan pagi ini memang dikemas untuk wisata. Sebuah tumpeng dibagikan kepada warga, dan tumpeng lainnya dibawa ke tengah telaga bersama risalah doa. Beberapa orang perenang ditugaskan membawa sesajen di atas rakit bambu dan menenggelamkannya. Beberapa jurnalis ikut serta menemani para perenang dengan kapal hingga mereka kembali ke tepi telaga. Dengan tenggelamnya tumpeng, gelaran Grebeg Suro pun berakhir.

Mendung yang mungkin sudah menunggu sejak tadi, tiba di atas telaga. Hujan mulai membasahi bumi. Hiruk pikuk pengunjung yang berniat pulang dan tetesan air hujan, menemani usaha saya mencapai gerbang telaga, lokasi rendez vous dengan pak ojek. Setelah membereskan urusan di penginapan, saya kembali meluncur menuju Madiun dengan ojek yang sama.

Hal menyenangkan yang didapat dari crazy hunting terjadi, tiket kereta ke Jakarta untuk hari ini ludes terjual. Akhirnya saya menaiki angkutan kota menuju terminal Madiun, mencari bis dengan rute Solo. Dari Solo, saya akan ambil kereta menuju Jakarta, mudah-mudahan beruntung. Bis akhirnya memasuki Solo setelah maghrib dan kabar baiknya, saya mendapat tiket pulang. Horeee!

Kereta tiba di Stasiun Gambir sesuai jadwal. Saya pun memasuki rumah lebih cepat. Sambil menunggu waktu berangkat ke kantor, rasanya tidur-tiduran sejenak tidak masalah. Namun ternyata kantuk tidak kunjung pergi, membuat tidur terus berlanjut. Perjalanan kali ini terasa seperti film yang tampil lebih baik dibanding review-nya. Semoga bujangganong dan kawan-kawannya terus menari, berloncatan di negeri sendiri hingga ke negeri orang.

================================================================
Tanggal perjalanan: November 2011

Ereveld Menteng Pulo, Sepetak Belanda di Jakarta

Gereja Simultaankerk Menteng Pulo

Pernahkah Anda merencanakan untuk berwisata ke pemakaman sambil mempelajari sejarah dan arsitektur? Bila jawabannya ya, maka Makam Kehormatan Belanda di Menteng Pulo bisa menjadi pilihan. Mungkin inilah kompleks pemakaman paling indah yang ada di Indonesia.

Lima tahun yang lalu, seorang teman kantor pernah memperlihatkan beberapa foto tentang sebuah pemakaman kepada saya. Kebetulan, ia baru saja menghadiri seminar di sebuah hotel yang berada tepat di samping pemakaman ini. Deretan nisan berwarna putih yang rapi, rumput hijau yang tertata, dan sebuah bangunan unik menjadi topik diskusi santai kami.

Beberapa hari sesudahnya, saya menyambangi tempat ini. Saya menyusuri kompleks pemakaman umum di daerah Casablanca sebelum mencapai Ereveld Menteng Pulo. Saat tiba di depan gerbang, seorang penjaga menghampiri dan menanyakan tujuan kedatangan saya. Ternyata, saya terlebih dahulu harus mengurus perijinan di kantor pemakaman yang berada di Jl. Panglima Polim, Blok M.

Kompleks pemakaman ini berada di bawah naungan Kedutaan Besar Belanda. Ada beberapa peraturan yang melingkupi tempat ini. OGS atau Oorloch Gravenstichting (Yayasan Makam Kehormatan Belanda) menjaga tempat ini sesuai fungsinya dan menolak penggunaan makam untuk alasan yang menurut mereka kurang penting, misalnya sebagai lokasi pemotretan komersial. Namun mereka membuka pintu sebesar-besarnya bagi pengunjung yang punya minat terhadap sejarah dan arsitektur.

Lonceng Gerbang Ereveld

Lonceng gerbang Ereveld

Sejarah Ereveld Menteng Pulo
Setelah lima tahun berlalu, saya kembali mengajukan permohonan untuk mengunjungi tempat ini. Saya harus mengirimkan surat permohonan kepada Director of OGS Indonesia, Mr. Steenmeijer. Beberapa hari kemudian saya dihubungi oleh sekertaris OGS, mbak sekertaris berkata bahwa permohonan saya dikabulkan dan saya boleh mengambil “tiket masuk” untuk dibawa ke Ereveld.

Setibanya di lokasi, saya melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, lalu membunyikan lonceng pengunjung. Hal baru yang saya temukan adalah konblok rapi yang kini melapis area parkir. Tak lama kemudian, Bapak Eliza selaku opzichter datang dan menemani saya berkeliling.

Kompleks ini mulai dibangun tahun 1947 hingga 1949. Pemerintah Indonesia menghibahkan lokasi ini kepada Pemerintah Belanda untuk menampung jasad korban perang dari masa pendudukan Jepang hingga tahun 1949. Di bulan Desember 1949, Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar. Mereka yang dikuburkan di sini adalah pria, wanita dan anak-anak dari kalangan sipil maupun militer.

Jendral H. S. Spoor

Letnan Jenderal Hendrik Simon Spoor

Letnan Jenderal Hendrik Simon Spoor yang saat itu menjadi pemimpin militer tertinggi Belanda di Hindia Timur (Indonesia) ikut memasang prasasti yang kini masih bisa dilihat di gerbang utama. Tulisan di prasasti tersebut berbunyi: “8 December 1947 eerste steen gelegd door zijne excellentie de lt-gen s.h. spoor leger commandant “ terjemahannya kira-kira: “8 Desember 1947, peletakan batu pondasi oleh yang terhormat pemimpin Angkatan Darat Letnan Jendral H. S. Spoor”.

Sepanjang tahun 1946 hingga 1950, terdapat sekitar 22 Makam Kehormatan Belanda di tanah air yang dibangun oleh Dinas Pemakaman Tentara Belanda. Atas permohonan Pemerintah Indonesia, pemakaman tersebut lalu disatukan di Pulau Jawa. Setelah tahun 1960, Menteng Pulo menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi jasad-jasad yang dipindahkan dari beberapa daerah di Indonesia seperti Banjarmasin (1961), Tarakan (1964), Menado (1965), Palembang (1967), Balikpapan (1967), Makassar (1968) dan Cililitan (1968).

Di tempat ini terdapat 3356 buah makam yang dibagi dalam 18 blok atau vak. Blok seven december division diisi oleh jasad Pasukan Khusus Belanda yang dikirim untuk misi pemulihan setelah kekalahan Jepang. Blok Cililitan menjadi tempat bersemayam mereka yang dahulu beragama Islam. Dan blok penerbang menjadi tempat khusus bagi jasad anggota Angkatan Udara Belanda (Luchtvaartbrigade) ditandai oleh sebuah tugu dengan hiasan berupa baling-baling pesawat dan sebuah prasasti bertuliskan “ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden” yang artinya kira-kira: “Untuk rekan-rekan kami yang telah jatuh”.

Anggota KNIL

Anggota KNIL asal Papua tengah mempelajari cara merakit senjata

Warga Indonesia yang dimakamkan di sini, kebanyakan berprofesi sebagai Tentara KNIL. Beberapa direkrut dari daerah seperti Ambon, Papua dan Jawa. Saya melihat beberapa nisan yang memiliki lebih dari satu nama. Hal ini terjadi karena jasad tidak teridentifikasi dengan baik saat makam dipindahkan. Namun mereka dimakamkan di lubang yang terpisah. Untuk menghindari nama tertukar, sekian nama ditulis pada satu nisan saja.

Selain di Menteng Pulo, ereveld lainnya berada di Ancol, Leuwigajah dan Pandu (Bandung), Candi dan Kalibanteng (Semarang) serta Kembang Kuning (Surabaya). Secara teratur Pemerintah Belanda mengakomodasi perjalanan bagi keluarga korban perang dan veteran untuk mengunjungi ereveld di Indonesia secara cuma-cuma.

Gereja Simultaankerk

Gereja Simultaankerk tampak depan, loncengnya dibuat di Belanda tahun 1950

Simultaankerk & Columbarium
Kompleks pemakaman ini terlihat menarik dengan berdirinya sebuah gereja simultan dengan bentuk yang indah. Gereja ini didisain oleh Letkol H. van Oerle dari Royal Netherlands Engineer dan disebut-sebut mengadopsi perpaduan gaya arsitektur dari gereja, masjid, kuil dan sinagoga. Namun saya masih mereka-reka bagian mana dari gedung yang merepresentasikan keempat rumah ibadah tersebut. Bentuk menaranya dengan tinggi 22 meter, justru mengingatkan saya kepada Gereja Oia di Santorini, Yunani.

Mbah wiki menyebutkan istilah simultaankerk dalam konteks ini mengandung arti penggunaan gereja oleh komunitas agama yang berbeda-beda. Pada bagian atap gereja terdapat empat menara mini dengan empat simbol agama yang berbeda. Mungkin sang arsitek memiliki konsep bahwa pemakaman ini, adalah tempat istirahat terakhir bagi manusia dengan keyakinan yang berbeda, namun “dikumpulkan” oleh suatu peristiwa yang sama, yaitu peperangan.

Simbol-simbol di Ereveld

Logo phoenix, pohon, kupu-kupu dan jam pasir

Bangunan ini juga memiliki bermacam simbol. Pada pintu masuk gereja terdapat enam simbol flora dan fauna. Pada pintu sebelah kiri terdapat simbol ikan, tanaman dan buah-buahan, sementara pada pintu sebelah kanan terdapat simbol burung, hewan dan pohon. Bila kita melangkahkan kaki memasuki gereja, kita akan menemukan simbol lain pada dinding sebelah kanan. Saya melihat simbol burung phoenix yang melambangkan kekekalan (De Onvergankelijkheid), simbol pohon yang melambangkan kehidupan (Het Leven), simbol kupu-kupu dilingkari ular yang melambangkan keabadian (De Eeuwigheid) dan simbol jam pasir yang melambangkan waktu (De Tijd). Ingin rasanya Robert Langdon (tokoh fiktif ahli simbol dalam novel The Da Vinci Code) berada di samping saya untuk menjelaskan asal usul dan maksud pemasangan simbol-simbol tersebut.

Jembatan Sungai Kwai

Jembatan yang kisahnya diangkat lewat film The Bridge on the River Kwai (1957)

Di dalam gereja terdapat salib yang kayunya didatangkan dari perbatasan Thailand dan Myanmar. Rupanya kayu ini merupakan bantalan rel dari jalur kereta api maut, yang dibuat oleh tentara sekutu yang menjadi tawanan tentara Jepang. Saat mengunjungi Thailand beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengunjungi sebuah ereveld di Provinsi Kanchanaburi dan Jembatan Sungai Kwai yang legendaris itu. Saya dengar besi yang digunakan untuk membangun proyek tersebut didatangkan dari Pulau Jawa.

Columbarium

Beberapa wisatawan asal Belanda tengah menyusuri Columbarium sambil melihat nama prajurit yang tertera pada tabung

Tepat di sebelah gereja terdapat sebuah kolam dengan air mancur yang sengaja dibuat untuk memperindah gereja. Di seberang kolam terdapat columbarium, koridor dengan relung-relung pada dinding yang menjadi tempat menaruh tabung-tabung besi. Tabung yang jumlahnya 754 buah tersebut, berisi abu dari korban perang yang dikremasi oleh tentara Jepang. Tiap kaleng menampilkan nama, jabatan, tanggal lahir dan tanggal wafat. Saya bergidik saat mengetahui bahwa selain abu, di dalam kaleng juga terdapat sisa tulang dari jenazah, sehingga saat diguncang terdengar bunyi “duk-duk-duk”.

Air mancur dengan latar columbarium

Columbarium dengan kubahnya yang unik

Columbarium yang selesai dibuat tahun 1950 ini berbentuk huruf L, ditopang oleh deretan pilar berwarna putih dengan sebuah kubah berbentuk buah pir berwarna tosca diatasnya. Tepat di bawah kubah terdapat tabung dari seorang serdadu tanpa nama dan patung seorang wanita dengan obor di tangan kanan. Di atas kepalanya tertulis “De geest heeft overwonnen” yang berarti “Roh telah menang”. Kalimat ini ternyata semboyan dari Seksi Pemakaman Angkatan Darat Belanda.

Simultaankerk dan columbarium memiliki jendela dengan kaca patri berwarna-warni yang dibuat oleh C. Stauthamer. Tiap jendela memiliki gambar dengan arti yang berbeda-beda. Jendela pada Columbarium melukiskan persahabatan, sementara jendela-jendela di gereja melukiskan kalimat-kalimat religius. Saat kedubes Australia mengalami pengeboman di tahun 2004, sebuah jendela di sudut gereja ikut pecah karena tekanan udara yang begitu kuat.

Pengunjung Ereveld
Setelah menyisir areal gereja dan columbarium, Pak Eliza mengajak saya berkeliling areal pemakaman seluas 29.000 meter persegi ini. Beliau menunjukkan beberapa monumen seperti monumen 7 december division, Monumen Angkatan Udara, Monumen Angkatan Laut dan monumen bendera. Lalu kami beristirahat di sebuah gazebo beratap tanaman merambat yang disebut Rosarium.

Menara Gereja Simultaankerk

Menara gereja dengan foreground pintu berlogo burung

Opzichter yang sudah sekian tahun bekerja di tempat ini, berkisah mengenai tamu-tamu yang datang  tiba-tiba tanpa membawa ijin tertulis. Bahkan pernah ada tamu yang datang ditemani fotografer, lengkap dengan kostum pernikahan. Selain pasangan prewedding, tamu yang kadang berkunjung adalah rombongan kru sinetron, yang tanpa kenal menyerah terus membujuk agar diijinkan memasuki pemakaman.

“Setiap bulannya ada sekitar 50 hingga 120 wisatawan yang mengunjungi Menteng Pulo” ujar Pak Eliza. Saat kami berbincang-bincang, lima orang turis bule asal Belanda datang berkunjung ditemani seorang guide. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka menyusuri setiap sudut dan menanyakan hal-hal detil kepada opzichter dalam Bahasa Belanda. Kompleks ini pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur DKI di tahun 1995 dan 1997, untuk pemeliharaan bangunan yang mendukung pelestarian tapak sejarah perkembangan Kota Jakarta.

Petugas KebersihanRutinitas di Menteng Pulo
Bila melihat pada kerapihan tanaman dan kebersihan makam, pastilah perawatannya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pak Eliza bercerita bahwa rumput pemakaman disiram dua kali sehari dan dipotong seminggu sekali. Waktu pemotongannya sendiri memakan waktu hingga empat hari untuk seluruh area makam. Untuk kayu nisan, dua minggu sekali dibersihkan dengan air dan sabun. Bila tulisan pada nisan luntur, maka dilakukan pengecatan ulang.

Peringatan 15 Agustus

Peringatan berakhirnya Perang Dunia II dilaksanakan setiap Bulan Agustus

Dalam setahun terdapat dua kali peringatan yang dilaksanakan di sini. Yang pertama adalah peringatan invasi Jerman ke Belanda tanggal 14 Mei, dan yang kedua peringatan berakhirnya Perang Dunia II di Asia tanggal 15 Agustus. Saat peringatan berlangsung, Ereveld Menteng Pulo dikunjungi oleh beberapa warga Belanda dan perwakilan negara sahabat yang tinggal di Jakarta. Mereka berkumpul di dalam gereja, mendengarkan pidato dari Duta Besar, lalu berjalan beriringan menuju monumen bendera untuk berdoa dan meletakkan karangan bunga di atas makam. Acara diakhiri dengan beramah-tamah sambil menikmati hidangan ringan.

Saat saya mengunjungi kantor OGS di Blok M, saya melihat foto saat konstruksi awal bangunan ini tengah dikerjakan. Tampak pepohonan lebat menjadi latar belakang. Kala itu daerah ini memang berada di luar kota Jakarta. Kini pepohonan kelapa sudah digantikan oleh pemukiman padat dan pohon-pohon beton bernama apartemen, yang tumbuh jauh lebih tinggi.

Di tengah himpitan hutan beton, jasad Jenderal yang dulu pernah sukses memimpin Agresi Militer Belanda, terbaring dengan tenang di tempat yang dia inginkan. Letjen H. S. Spoor beristirahat dalam damai di antara jasad rekan-rekannya.

=====================================================================

Foto berasal dari koleksi pribadi dan buku Gedenkschrift Koninklijk Nederlands-Indisch Leger 1830-1950 (atas ijin Oorloch Gravenstichting).
Tanggal perjalanan: September 2011

Berlibur ke Bangkok

Sopir tuk-tuk di Bangkok

Bangkok berada dalam daftar must-visit-city yang saya buat, karena ia adalah kota di Asia Tenggara yang memiliki sejarah terpanjang dengan backpacker. Kota yang pernah menjadi pusat Kerajaan Siam ini, memiliki pesona yang mampu membuat turis dari mancanegara datang berkunjung.

Pesawat yang saya naiki akhirnya mendarat di landasan Suvarnabhumi Airport yang tampak basah oleh air hujan. Beruntung saya segera membeli tiket bus, karena ini adalah bus terakhir yang melayani rute menuju kawasan Khao San. Tarif bus bernomor AE2 ini sekitar 150 Baht. Di dalam bus, saya berkenalan dengan tiga orang turis asal Surabaya yang sama seperti saya, baru pertama kali mengunjungi Bangkok. Nama lain dari Kota yang dibangun tahun 1782 ini adalah Krung Thep Maha Nakhon, yang berarti Kota Para Malaikat.

Satu setengah jam kemudian, bus memasuki kawasan Khao San. Aroma wisata tercium saat melihat banyak turis mancanegara berlalu-lalang dan memenuhi cafe sambil bercengkrama. Lampu neon berwarna-warni menyemarakkan suasana. Setelah bus berhenti, para penumpang berhamburan menuju penginapan masing-masing.

Suasana Jl. Khao San di malam hari

Suasana Jalan Khao San di malam hari

Kawasan Khao San
Kawasan Khao San sebelumnya merupakan daerah hunian yang tenang, bahkan pernah dikenal sebagai pusat penjualan beras. Saat Thailand Economic Booming terjadi di tahun 1982, pemerintah Thailand merayakan dua abad hari jadi Kota Bangkok dan Buddhist Calendar Lucky Year dalam sebuah perhelatan besar yang dipusatkan di Grand Palace, Bangkok. Pada masa itu, pemerintah Thailand tengah bekerja keras memperbaiki sektor ekonomi, dengan mengkoreksi nilai tukar mata uang, meningkatkan ekspor dan membangun pariwisata.

Deretan restoran di Jalan Soi Rambuttri

Deretan restoran di Jalan Soi Rambuttri

Turis berdatangan dari penjuru dunia, hotel dan penginapan menjadi penuh, harga sewa kamar ikut naik. Beberapa turis yang mulai kesulitan mencari penginapan, akhirnya mencari penginapan alternatif dengan mendekati warga Khao San. Kebetulan daerah ini letaknya relatif dekat dengan Grand Palace, sekitar dua kilometer saja.

Perhelatan tersebut sukses menarik devisa dari kantung wisatawan. Tapi bukan hanya keuntungan sesaat saja yang diraih. Usaha penginapan di Khao San mulai merebak, beragam toko yang menyediakan kebutuhan turis mulai bermekaran. Perkembangan ini lalu merambat ke jalan lain di sekitar Jalan Khao San. Kawasan ini hampir selalu ramai, hanya sekitar subuh hingga pagi saja tampak lengang. Taksi dan tuk-tuk (bajaj khas Thailand) selalu hilir mudik di kawasan ini.

Rumah makan murah meriah di Thanon Rambuttri

Rumah makan murah meriah di Thanon Rambuttri

Thanon (jalan) Rambuttri yang letaknya pararel dengan Jalan Khao San, dipenuhi cafe sekaligus penginapan yang ramai oleh suara live band setiap malam, sehingga bila kita menyusurinya, telinga kita bergantian dipenuhi suara musik country, alternatif atau pop. Jalan Soi Rambuttri yang berhadapan dengan Thanon Rambuttri, terdengar lebih tenang. Di jalan ini terdapat banyak pedagang cenderamata, biro wisata dan minimart. Selain itu terdapat beberapa penginapan dengan tarif lebih murah di gang-gang sempitnya, tentu dengan kondisi yang lebih sederhana.

Thailand menawarkan biaya yang cukup masuk akal bagi traveler. Biaya akomodasi di negara ini sedikit banyak mirip dengan Jakarta. Saat saya melakukan perjalanan ini, 300 Rupiah setara dengan 1 Baht.

Saya menginap di kamar paling sederhana milik Greenhouse Guesthouse di Thanon Rambuttri dengan tarif 325 Baht/malam. Setelah mengisi perut, saya segera beristirahat untuk perjalanan esok hari. Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun menjadi objek wisata wajib yang berada dalam satu jalur sehingga cocok untuk mengisi hari pertama di Bangkok.

Empat bangunan menjulang di balik tembok istana

Grand Palace

Grand Palace
Pagi itu saya sudah berada di jalan menuju Grand Palace bersama turis lain. Beberapa sopir tuk-tuk menawarkan jasa dan saya menolak tawaran mereka, Grand Palace letaknya cukup dekat.

Kompleks yang dibangun tahun 1782 ini, memiliki area seluas 218.000 meter persegi dengan begitu banyak bangunan berarsitektur fantastis. Tembok yang mengelilinginya memiliki panjang 1900 meter dengan tinggi sekitar 5 meter, sepintas mirip Keraton Jogjakarta. Di dalam terdapat istana kenegaraan, kuil-kuil, bangunan pemerintahan dan museum. Raja Thailand Bhumibol Adulyadej (Rama IX) dan Ratu Sirikit tinggal di Istana Chitralada, di bagian lain Bangkok.

Wat Phra Kaew, tempat Patung Buddha yang terbuat dari Giok

Wat Phra Kaew, tempat Patung Buddha dari batu giok berada

Sebaiknya Anda menjelajah area ini sejak pagi, agar selesai pada tengah hari. Gerbang dibuka mulai pukul 08:30-15:30 dengan tiket masuk 350 Baht per orang. Pengunjung dilarang mengenakan kaos buntung, rok mini, celana pendek apalagi baju transparan. Grand Palace menyediakan tour guide cuma-cuma dengan pemandu berbahasa Inggris, setiap hari pukul 10:00, 10:30, 13:30 dan 14:00. Kaunternya ada di sebelah kiri setelah gerbang pemeriksaan tiket. Bila Anda tertinggal tur gratis ini, masih ada personal guide dengan tarif sekitar 500 Baht.

Bangunan yang pertama kita jumpai setelah melewati pemeriksaan tiket adalah Royal Monastery of Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew. Didalamnya terdapat patung Sang Buddha yang dipahat dari batu giok, ditemukan tahun 1434 dalam sebuah stupa di Provinsi Chiang Rai. Dahulu, lapisan gips menutup bagian luarnya sehingga dianggap Patung Buddha biasa, hingga suatu hari lapisan pada bagian hidung lepas dan menampilkan batu giok di dalamnya.

Deretan patung di sepanjang koridor Wat Phra Kaew

Deretan patung di sepanjang koridor Wat Phra Kaew

Saya melihat umat Buddha tengah beribadah di bagian dalam bangunan. Dinding-dindingnya dihias lukisan mural yang menceritakan kisah Sang Buddha. Petugas melarang pengambilan gambar di dalam bangunan. Sementara bagian eksterior bangunan ini dipenuhi oleh ornamen-ornamen detail berwarna-warni dengan deretan patung yang sangat menarik untuk diabadikan.

Phra Siratana Chedi

Phra Siratana Chedi

Di sebelah bangunan Emerald Buddha terdapat Upper Terrace. Empat monumen megah berdiri diatasnya. Yang pertama adalah Phra Siratana Chedi, yaitu pagoda berwarna emas dengan atap meruncing. Yang kedua adalah Mondop, sebuah bangunan yang dipenuhi detil-detil ornamen. Di dalamnya terdapat naskah Sang Budhha, yang ditulis di atas daun lontar. Yang ketiga adalah miniatur dari Candi Angkor Wat, dan yang keempat yaitu Royal Pantheon yang berisi patung raja-raja masa lalu.

Saya sempat memperhatikan beberapa orang yang tengah melapis patung dengan kertas emas. Saat warna patung mulai terkikis, mereka datang membawa sekian lembar kertas emas, lalu menempel dan mengusap-usap kertas tersebut hingga melekat pada patung. Begitu seterusnya hingga seluruh bagian patung tertutup dengan sempurna. Bagi rakyat Thailand, Buddha sebaiknya berwarna emas. Belakangan, saya mendapati bahwa nama Bandara Suvarnabhumi, berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti daratan emas.

Menjelang siang, saya sudah selesai mengunjungi sebagian besar spot menarik di kompleks ini dan beruntung bisa menyaksikan pergantian pasukan di depan Prasat Hall, istana tempat singgasana raja. Tempat selanjutnya yang saya tuju adalah Wat Pho, Kuil Buddha yang berada tepat di belakang Grand Palace.

Patung Buddha dengan posisi berbaring

Patung Buddha di Wat Pho

Wat Pho
Wat Pho memiliki nama lengkap Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn. Wah, namanya panjang juga ya? Keistimewaan kuil ini terletak pada keberadaan sebuah Patung Buddha raksasa berwarna emas dengan posisi merebahkan diri. Panjangnya 46 meter dengan tinggi 15 meter. Bagian mata dan telapak kaki patung ini dihias oleh mutiara.

Selain berfungsi sebagai kuil, sejak dahulu Wat Pho juga berfungsi sebagai tempat mengenyam pendidikan  ilmu medis tradisional Thailand. Hal ini terlihat dari beberapa ilustrasi anatomi dan patung-patung dengan posisi yoga. Anda hanya perlu mengeluarkan 50 baht untuk memasuki tempat ini.

Ilustrasi anatomi di Wat Pho

Ilustrasi anatomi untuk pendidikan medis

Sebelumnya, Wat Pho merupakan sebuah kompleks biara yang dibangun tahun 1688, Raja Rama I dan Rama III melakukan restorasi hingga memiliki luas 80 ribu meter persegi. Saat hendak berjalan keluar dari Wat Pho, hujan deras turun, menyurutkan langkah. Akhirnya saya kembali memasuki gedung utama untuk berteduh. Sekitar setengah jam kemudian hujan berhenti, saya segera berjalan menuju spot terakhir.

Wat Arun
Tempat terakhir yang sayangnya tidak jadi saya kunjungi, adalah Wat Arun yang terletak di seberang Sungai Chao Phraya. Dari Wat Pho, Anda tinggal berjalan ke arah barat menyeberangi Thanon Maha Rat menuju dermaga penyeberangan perahu bernama Tha Thien Pier melalui Jalan Tha Thien. Perahu akan mengantarkan Anda ke seberang dengan biaya sekitar 5 Baht. Tiket masuk kuil ini sekitar 50 Baht.

Wat Arun disebut juga sebagai candi fajar karena saat matahari terbit, sinarnya membuat menara tampak berkilatan dari kejauhan. Hal ini disebabkan oleh ornamen kaca yang menghiasi dinding candi. Bentuk arsitektur menaranya (istilahnya prangs) dipengaruhi gaya Khmer (kerajaan tua yang pernah berkuasa di Thailand). Tinggi menaranya sendiri sekitar 80 meter. Candi ini awalnya dibangun oleh Raja Rama II dan diteruskan oleh Raja Rama III. Disinilah abu Raja Rama II disimpan.

Wat Arun saat sunset

Siluet Wat Arun di tepi Sungai Chao Phraya. Sudut ini diambil dari lantai 3 sebuah restoran.

Karena sudah terlalu sore, saya akhirnya hanya mengabadikan sunset “tenggelam” di Wat Arun dari seberang sungai. Oh ya, nama lengkap dari Wat Arun adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahawihan. Hmm, mengapa, warga Thailand senang memberikan nama yang begitu panjang, ya?

Saat pulang, saya menaiki bus nomor 53 dari bus stop di Thanon Maha Rat. Bus ini mengantarkan saya ke Jalan Phra Atit, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 500 meter melewati Jalan Soi Rambuttri menuju penginapan. Bila Anda memilih tuk-tuk, biayanya sekitar 50 Baht untuk kembali ke kawasan Khao San.

Sambil menyusuri Jalan Rambuttri, saya melihat turis-turis bule yang baru tiba dengan ransel mereka, seolah-olah siap menggantikan traveler yang hendak pulang hari ini. Perbedaan nilai mata uang yang besar, merupakan suatu berkah bagi traveler. Hal ini tampak kontras dengan industri wisata yang tidak pernah berhenti menyedot devisa dari kantung mereka.

==================================================================

Tips & Info:

  1. Bila Anda ingin membekali diri dengan camilan atau air mineral, minimart memberikan harga stabil. Pedagang kaki lima di Bangkok bertingkah layaknya pedagang di Indonesia; memberi harga lebay bagi turis asing.
  2. Sopir tuk-tuk yang mangkal di sekitar Khao San sering menawarkan harga murah untuk berkeliling, tetapi terlebih dahulu mereka akan membawa penumpang menuju beberapa toko untuk melihat cenderamata. Hal ini mereka lakukan karena ada imbalan dari pemilik toko berupa kupon bensin. Saat menawar harga, sampaikan bahwa Anda ingin langsung ke tujuan. Bila perlu, gunakan hp untuk menampilkan harga secara akurat.
  3. Pedagang jagung yang sering nongkrong di trotoar, kadang menawarkan traveler untuk memberi makan sekawanan merpati. Bila Anda melakukannya, mereka kemungkinan akan terus memberi kantung jagung dan di akhir “pertunjukan”, Anda akan diminta membayar dengan harga tinggi.
  4. Anak-anak harimau tengah bercanda di Tiger Temple

    Anak-anak harimau tengah bercanda di Tiger Temple

    Di sekitar Khao San, banyak tur travel yang menawarkan paket wisata murah. Namun, beberapa spot wisata ternyata menagih biaya tiket masuk secara terpisah. Lokasi yang menurut saya layak dikunjungi adalah Tiger Temple di Kanchanaburi dan pasar terapung Damnoen Saduak di Ratchaburi. Keduanya berada di luar Kota Bangkok. Perhatikan bahwa sungai yang tidak diorganisir dengan baik, hanya dikunjungi oleh sedikit pedagang sehingga tampak minim sampan. Selain itu, ada pasar terapung yang hanya ramai pada hari tertentu saja.

Tanggal perjalanan: Maret 2011

Malaka, Jejak Sriwijaya di Malaya

Air Mancur VictoriaKota kecil yang letaknya strategis ini, bergantian diduduki oleh tiga negara dari Eropa. Budaya Melayu, India dan Cina turut mempercantik wajahnya. Di balik semua itu, siapa sangka kalau kota ini awalnya dibangun oleh seorang raja yang berasal dari Indonesia?

Kisah Parameswara
Di masa kejayaannya, pengaruh Majapahit di nusantara terasa begitu kuat, hingga membuat Raja Sriwijaya melarikan diri ke Temasek (sekarang wilayah Singapura). Di Temasek, sang raja mendirikan kerajaan Singapura lama yang diwariskan kepada tiga generasi dibawahnya hingga Parameswara. Pada tahun 1402, tekanan dari Majapahit dan Siam membuat sang raja melarikan diri, hingga suatu saat tiba di tepi sungai Malaka.

Kancil Malaka

Kisah yang menginspirasi berdirinya Kota Malaka

Saat Raja Parameswara dan pengikutnya tengah beristirahat, anjing-anjing pemburu mereka mendapati seekor kancil dan menyudutkannya ke tepi sungai. Namun si kancil melawan balik dengan sengit, hingga membuat seekor anjing jatuh ke sungai. Perlawanan sang kancil menggugah niat sang raja hingga memutuskan untuk membangun sebuah kota di tempat itu. Kota itu dinamakan Malaka, yang diambil dari nama pohon tempat mereka berteduh.

Parameswara melihat jalur perdagangan yang ramai dari Eropa hingga ke Cina melalui Selat Malaka akan mendatangkan keuntungan. Ia lalu mulai meyakinkan penduduk setempat untuk menjual hasil bumi dan menawarkan kapal-kapal dagang yang lewat untuk singgah. Dengan hasil bumi yang berlimpah dan jaminan keamanan dari bajak laut, para pedagang mulai memperhatikan pelabuhan baru tersebut. Kampung kecil itu pun berkembang menjadi kota yang ramai.

Istana Sultan Malaka

Replika Istana Sultan Malaka

Parameswara memeluk islam setelah menikahi seorang putri dari Kerajaan Samudera Pasai. Hal ini sedikit banyak turut mengangkat posisi Malaka di mata para pedagang dari Gujarat, Persia dan Arab. Laporan dari perjalanan Cheng Ho, menyiratkan bahwa pada tahun 1409 rakyat Malaka sudah beragama islam. Parameswara juga mengambil langkah strategis dengan mengunjungi Cina sebagai negara kuat di Asia. Secara turun temurun, jabatan Sultan Malaka lalu dipegang oleh anak cucu Parameswara. Masa keemasan Malaka ini juga menampilkan sepak terjang Hang Tuah dan rekan-rekannya, yang mengabdi untuk kesultanan.

Perkembangan yang pesat dan letaknya yang menguntungkan, membuat banyak kerajaan di Asia Tenggara berminat untuk mengambil alih Malaka, misalnya Siam, Demak dan Aceh. Pada waktunya, para penjajah Eropa yang rakus rempah-rempah, akan membuang sauh di Malaka.

Sisa-sisa Arsitektur Eropa
Lokasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Malaka adalah Red Square. Di tempat ini terdapat air mancur Victoria, Menara Jam, Christ Church dan Gedung Stadthuys.
Air mancur Victoria didirikan pada tahun 1904 untuk mengenang Ratu Victoria (1837-1901) dari Inggris. Setiap hari banyak wisatawan berfoto di sekitarnya. Air mancur ini merupakan salah satu karya arsitektur yang dibuat pemerintah kolonial Inggris selama 120 tahun pendudukannya di kota berlambang keris dan kancil ini.

Area bersejarah di Malaka

Red square, tempat berkumpulnya wisatawan di Malaka

Pemerintah Inggris juga memberikan sentuhan pada bangunan warisan Belanda seperti Christ Church. Gereja Protestan yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1741 ini membutuhkan pengerjaan selama 12 tahun. Setelah Belanda pergi dari Malaka, Inggris merubah warna eksteriornya dari putih menjadi merah marun dan menambah alat penunjuk arah angin berbentuk ayam jantan di bagian atapnya.

Di sisi kiri gereja, terdapat Stadthuys yang bisa diartikan sebagai balai kota. Pada masa pendudukan Belanda, gedung ini berfungsi sebagai kantor Gubernur. Setelah Malaka diserahkan kepada Inggris, gedung ini berfungsi sebagai sekolah dan kini menjadi Museum Sejarah dan Budaya. Inilah historical area yang dimana beberapa peninggalan arsitektur bisa disambangi hanya dengan berjalan kaki saja.

Reruntuhan Gereja St. Paul

Reruntuhan Gereja St. Paul

Menaiki punggung bukit di bagian belakang Stadthuys, jalan setapak akan menuntun Anda menuju reruntuhan Gereja St. Paul. Dibangun oleh Portugis di tahun 1521, gereja ini pernah menjadi tempat bersemayam sementara bagi jasad misionaris Katolik, Fransiscus Xaverius. Setelah Belanda merebut Malaka dari tangan Portugis dan membangun Christ Church, lokasi gereja ini dijadikan tempat pemakaman dan dinamakan St. Paul Church.

Meriam Benteng A Famosa

Meriam di benteng A Famosa

Mengikuti jalan setapak menurun, saya menemukan reruntuhan bangunan Portugis lainnya di kaki bukit. Sebuah gerbang yang tersisa dari sebuah benteng Portugis bernama A Famosa. Di bagian atas gerbang terdapat tulisan “Anno 1670” dan logo VOC, menandakan bahwa Belanda pernah merenovasi benteng ini di tahun 1670.

Saat Napoleon menguasai Eropa, Inggris khawatir bahwa pasukan Perancis akan mencapai Malaka dan memanfaatkan A Famosa, sehingga benteng ini lalu dihancurkan. Sir Stamford Raffles yang tengah mengunjungi Malaka, memiliki pemikiran berbeda mengenai bangunan bersejarah dan meminta agar penghancuran dihentikan. Sayang sekali, yang tersisa hanya gerbangnya saja dari keseluruhan kompleks benteng.

Saya bertemu dengan seorang pedagang kaki lima yang menjual foto-foto hitam putih tentang Malaka di masa lalu. Salah satu fotonya, menampilkan A Famosa saat masih ditutupi lebatnya hutan. Lima tahun yang lalu, saat pertama kali mengunjungi Malaka, saya pernah berbincang-bincang dan mengambil foto bapak ini. Kini saya kembali bertemu dengannya, rasanya seperti bertemu teman lama saja.

Bertamu ke rumah Baba dan Nyonya
Tertarik untuk mengetahui budaya peranakan di Malaka, saya melangkahkan kaki ke Baba Nyonya Heritage Museum di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Baba adalah sebutan bagi pria berdarah Cina yang menikahi wanita setempat. Sedangkan istri dari baba disebut nyonya, kebanyakan berdarah Melayu.

Dalam sejarahnya, seorang Sultan Malaka yang bernama Sultan Manshur Shah juga menikahi putri Hang Li Poh yang merupakan keturunan Kaisar Ming. Hal ini membuat hubungan Malaka dan Cina menjadi lebih baik lagi, terutama pada sisi perdagangan dan budaya.

Museum warisan peranakan di Malaka

Museum warisan peranakan di Malaka

Setelah membayar tiket masuk sebesar 8 RM, saya dan beberapa pengunjung dikumpulkan di ruang tamu. Guide kami yang bernama Mildred, mengajak berkeliling sambil menerangkan segala sesuatu mengenai museum ini. Rumah Baba dan Nyonya terdiri dari tiga buah rumah dua lantai yang dijadikan satu. Bagian belakang rumah di lantai pertama terdiri dari ruang makan keluarga, lalu berturut-turut disebelahnya dapur dan ruang makan pelayan.

Mildred juga memberikan penjelasan mengenai bahan dasar furniture, warna-warna yang digunakan untuk situasi tertentu, arti dari lukisan, peralatan kuliner dan lain sebagainya. Sayang sekali, peraturan melarang kami untuk mengambil foto di dalam rumah.

Saat menaiki tangga menuju kamar lantai dua, kami diminta untuk melepas kasut (alas kaki). Kamar tuan rumah berada di lantai dua, tepat di atas pintu masuk dan kamar anak-anak berada di belakangnya. Di dalam kamar, Mildred memperlihatkan koleksi pakaian tuan rumah. Salah satu hal yang membuat saya bangga adalah, dari sekian jenis pakaian yang dimiliki nyonya, salah satunya adalah kebaya berwarna hijau asal Bandung. Ini menjadi bukti bahwa sejak masa lalu kreasi bangsa sudah menjadi barang yang digunakan oleh kaum berada di luar nusantara. “Dengan bukti ini akan sulit untuk diakui bahwa kebaya berasal dari Negeri Jiran,” saya berkata dalam hati…

Masjid-masjid di Malaka

Portrait seorang umat di Masjid Tengkera

Portrait seorang umat di Masjid Tengkera

Dari sekian banyak masjid tua yang berada di Malaka, saya hanya sempat menyambangi tiga buah saja. Yaitu Masjid Kampung Keling, Masjid Kampung Hulu dan Masjid Tengkera. Ketiganya memiliki kemiripan gaya arsitektur.

Masjid Tengkera yang pertama saya sambangi, dibangun pada tahun 1728 atau 1226 Hijriah seperti yang tertera pada gerbangnya. Struktur aslinya menggunakan kayu yang berasal dari Kalimantan. Tercatat sejak tahun 1780 sudah mengalami renovasi. Seluruh bagian masjid dirubah kecuali bagian minaretnya. Sejak tahun 1976, masjid ditetapkan menjadi bangunan bersejarah, semua hal yang berhubungan dengan perbaikan dan renovasi harus melalui pengawasan Malaysian Museum and Antiquity Department.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur yang dipengaruhi gaya arsitektur Sumatera dengan atap susun tiga dan ukiran batu di bagian atasnya. Sementara bentuk minaret bersegi delapannya, dipengaruhi budaya Cina.

Masjid Kampung Kling

Masjid Kampung Kling, dahulu para pedagang asal India menggunakan sumur milik masjid ini

Di bagian belakang masjid terdapat pemakaman umum. Salah satu makam yang terkenal adalah makam Sultan Hussein Muhammad Shah, yaitu Sultan Johor yang menjual Singapura kepada Inggris.

Masjid Kampung Hulu yang saya kunjungi berikutnya, terlihat seperti kembaran Masjid Tengkera. Dindingnya berwarna putih dengan langit-langit dan kusen berwarna cokelat. Masjid ini dibangun oleh seorang tokoh Melayu bernama Datuk Samsuddin pada tahun 1720. Hampir semua masjid yang didirikan sejak jaman Kesultanan Malaka telah roboh oleh rayap karena hanya menggunakan kayu. Sejak tahun 1892 Masjid Kampung Hulu sudah diperkuat dengan pondasi batu.

Berbeda dengan Portugis, Belanda lebih memberi ruang bagi aktifitas muslim sehingga hubungan antara suku dan ras terjalin dengan baik di Malaka. Pada jaman itu, jumlah masjid di Malaka bertambah dengan bentuk seragam.

Transportasi dan akomodasi
Walaupun Malaka sudah memiliki bandara sendiri (Malacca International Airport), namun kebanyakan penerbangan dari Indonesia mengarahkan wisatawan ke Kuala Lumpur. Dari Bandara LCCT, terdapat bus Transnasional yang mengantarkan Anda langsung ke Malaka. Jadwal keberangkatannya setiap pukul 09:00, 11:30, 16:00 dan 20:00. Sementara dari Kuala Lumpur, Anda bisa mencari bus ke Malaka dari Terminal Pudu Raya. Perjalanan akan memakan waktu selama dua hingga tiga jam.

Bis No17 Malaka

Bis dari Terminal Sentral yang rutenya melewati Stadthuys

Sesampainya di Terminal Malaka Sentral, Anda bisa menaiki bus nomor 17 yang akan mengantarkan ke Stadthuys dengan tiket 1 RM. Jangan lupa untuk membeli tiket kembali ke KL, selagi berada di Terminal.

Saat saya berada di dalam bus kota, saya sempat bertemu dengan sekelompok remaja asal Indonesia. Mereka menginap di Hotel Mahkota di Jl. Syed Abdul Aziz. Hotel yang bagi saya tampak mewah, lokasinya berada dekat dengan pusat perbelanjaan dan hiburan Malaka, yaitu Mahkota Parade dan Dataran Pahlawan.

Jonker St Malaka

Wisatawan tengah menyusuri Jonker Street yang dipenuhi kafe, toko cenderamata dan restoran

Untuk mencari penginapan murah, dari depan Stadthuys langkahkan kaki Anda menyeberangi jembatan menuju kawasan Chinatown. Saya sendiri menginap di sebuah dormitory sederhana di Jl. Tukang Besi dengan tarif 15 RM per malam.

Jonker Street yang berada di kawasan Chinatown menjadi tempat mengisi perut dan berburu cenderamata. Jalan ini menjadi pusat keramaian para wisatawan, sehingga sering mengalami kemacetan saat musim liburan.

Setelah puas menjelajah, saya beristirahat di tepi Sungai Malaka sambil minum cendol made in Malaysia. Saya melihat banyak hotel bermekaran di kota ini. Pikiran saya melambung jauh, membayangkan sejarah bangsa sejak jaman Majapahit yang pastinya lebih megah dibandingkan sejarah setempat. Walaupun masa lalu negeri tetangga tidak semegah bangsa kita, namun secara ekonomi, mereka mampu bangkit dari krisis lebih cepat.

====================================================================

Bantaran Sungai Malaka

Tips dan info:

  1. Malaka juga menarik diabadikan di malam hari. Selain Red Square, spot lainnya bisa dikunjungi adalah daerah tepian sungai dan rickshaw yang meriah oleh lampu berwarna-warni. Pada perayaan Imlek, Kota Malaka menjadi lebih semarak dengan lampion-lampion di sepanjang jalan.
  2. Kota Malaka diramaikan oleh burung gagak yang bersarang di pohon-pohon besar di tepi sungai. Hindari berada di bawah pohon agar tidak terkena kotoran burung saat memotret di malam hari.
  3. Untuk mengikuti tur menjelajah sungai, datangilah loket River Cruise yang terletak di samping Museum Maritim. Anda akan di ajak mengarungi Sungai Malaka sepanjang sembilan kilometer selama 45 menit dengan tarif 10 RM untuk dewasa. Saya menyarankan perjalanan di malam hari untuk mendapatkan pemandangan yang lebih indah.
  4. Kunjungilah pusat informasi turis di depan Stadthuys, untuk mendapatkan brosur dan informasi wisata lainnya.

Tanggal perjalanan: Agustus 2010.

Berwisata Imlek di Singapura

Akhirnya hari yang dinanti-nantikan tiba. Kesempatan untuk merekam Singapura saat Imlek telah datang. Perayaan Sin Cia di negeri ini terentang hampir satu bulan lamanya. Sebagian kecil perayaan ini saya kisahkan kepada Anda.

Khusuk di depan gerbang

Tulisan Singtel (perusahaan telekomunikasi di Singapura) tertera di layar handphone setelah saya mengaktifkannya kembali. Saya baru saja mendarat di Singapura setelah pesawat yang saya tumpangi mengalami delay selama satu jam di Soekarno-Hatta. Jam di HP saya secara otomatis mengikuti waktu lokal yang berjalan satu jam lebih cepat. Waktu Indonesia Bagian Barat berjalan lebih lambat satu jam dibandingkan waktu di Malaysia dan Singapura.

Sebuah sms saya kirimkan kepada keluarga di tanah air. Selain mengabarkan keadaan, hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui tarif layanan sms dari sebuah negara. Dari beberapa titik perayaan, saya memilih mengunjungi The Float, dermaga apung di Marina Bay yang menjadi tempat peluncuran kembang api. Esplanade adalah stasiun monorail terdekat dengan lokasi.

Kembang Api di Marina BayMarina Bay
Saat keluar dari monorail, saya melihat seorang warga setempat yang tengah mengalungkan DSLR. Sandalnya tampak basah, di bajunya terdapat beberapa bekas tetesan air, mungkin hujan turun saat ia tengah hunting Imlek. Saya menanyakan arah dan sempat berkenalan dengannya. Mr. Jack berkata di luar hujan agak deras sehingga ia mengalihkan hunting ke Chinatown. Penasaran, saya tetap berjalan keluar stasiun dan dugaan saya tidak meleset, hujan deras sudah beralih menjadi gerimis. Saat tiba di lokasi, hujan sudah berhenti sama sekali dan perhitungan mundur tengah berjalan. Berpacu dengan waktu, saya segera mencari posisi, memasang tripod dan mengambil foto.

Menikmati kembang api bersama keluargaSetelah kembang api selesai diluncurkan, saya mengelilingi area yang dipenuhi lampion, hiasan bergambar shio dan lampu berwarna-warni. Tanpa sengaja saya bertemu kembali dengan Mr. Jack. Ia berkata bahwa Chinatown dipenuhi manusia sehingga ia kesulitan mengambil foto dengan sudut yang bagus. Ia lalu memutuskan untuk kembali ke Marina Bay. Setelah kami selesai hunting, Mr. Jack menawarkan tumpangan karena MRT dan bis kota sudah tidak beroperasi selepas tengah malam. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Menuju parkiran mobil di bawah tanah, kami tidak berjalan dengan santai, saya harus mengimbangi kecepatan bapak ini saat menyusuri  trotoar. Saya lalu memperhatikan orang-orang yang melintas, tampaknya warga Singapura berjalan kaki dengan kecepatan tinggi, seolah-olah enggan membuang waktu.

Menginap di Chinatown
Berbekal GPS, kami meluncur cepat menuju Mosque Street di kawasan Chinatown. Dalam perjalanan, Mr. Jack menceritakan beberapa hal mengenai Singapura, salah satunya mengenai pembatasan kendaraan lewat surat ijin penggunaan kendaraan yang berlaku sekitar sepuluh tahun saja. Bila masa berlakunya sudah lewat, biaya perpanjangannya hampir sama dengan membeli sebuah mobil baru.

Street hunting di sekitar ChinatownSaya mengucapkan terimakasih dan sampai bertemu kembali, saat Mr. Jack menurunkan saya di dekat penginapan. Walaupun sudah memesan tempat di sebuah hostel, saya masih berkeliling mencari alternatif yang lebih baik lagi. Sayangnya, tempat lain memiliki rate yang lebih tinggi.

Hostel Backpackers Inn di Mosque Street saya pilih sebagai basecamp. Selain dekat dengan beberapa spot wisata Imlek, jaraknya dari Marina Bay hanya sekitar dua hingga tiga kilometer saja. Sehingga bila layanan transportasi tutup, saya masih bisa pulang dengan berjalan kaki. Di sekitar Chinatown terdapat objek wisata seperti kuil Hindu Sri Mariamman, klenteng Thian Hock Keng, kuil Buddha Tooth Relic, museum Chinese Heritage Center dan Masjid Jamae.

Suasana ramai di sekitar ChinatownSebulan sebelumnya saya sudah mendaftarkan diri lewat internet. Hostel ini menyediakan mixed dormitory, female dormitory dan private room untuk tamunya. Setiap tamu diberikan kode akses untuk melewati pintu utama, cukup aman dan nyaman buat saya. Fasilitas gratis yang disediakan adalah sebuah pc dengan koneksi super cepat (kebanyakan tamu menonton video di youtube tanpa jeda koneksi) dan dua buah mesin cuci untuk menghemat biaya laundry. Namun staf di tempat ini kurang informatif saat saya menanyakan jalur transportasi alternatif.

Lebih mudah untuk menemukan warga Indonesia di Singapura dibandingkan di Malaysia. Dalam penginapan, saya bertemu dengan beberapa turis asal Medan dan Denpasar yang tengah berwisata, mereka membawa serta anak-anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Patung lembu di kuil Sri MariammanBuddha Tooth Relic
Pagi pertama di tahun Kelinci, saya isi dengan menyambangi kuil Hindu Sri Mariamman yang terletak di Pagoda Street. Patung-patung disini terlihat lebih bagus dan besar dibandingkan patung-patung Hindu di Penang. Sebuah bus yang baru saja tiba, terlihat tengah memuntahkan serombongan turis bule. Mereka berjalan memasuki kuil. Salah seorang di antara mereka tiba-tiba ditegur oleh seorang petugas. Rupanya, untuk mengambil gambar di dalam kuil, dikenakan biaya sebesar 3 Dollar Singapura.

Terus menyusuri North Bridge Road, saya menemukan sebuah bangunan berarsitektur Cina yang merupakan sebuah kuil bernama Buddha Tooth Relic. Di depan gerbang, empat “ekor” barongsai tengah menari-nari dengan iringan musik. Bersama pengunjung lain, saya memasuki kuil ini.

Mendampingi UmatUmat Buddha datang membanjiri tempat ini, mereka berdoa sambil didampingi seorang pendeta secara bergiliran, lalu mengisi mangkuk logam di sisi kiri kanan ruangan dengan koin secara berurutan. Tiga buah patung besar mengisi ruang utama di lantai dasar, terlihat indah dan menyatu dengan dekorasi di sekitarnya. Karena tidak ada larangan untuk mengambil gambar, saya mengabadikan tiga orang pendeta dan patung-patung di dalam kuil. Beberapa pengunjung ikut mengabadikan objek yang saya ambil dengan handphone.

Hal yang menurut saya paling menarik dari tempat ini adalah koleksi sebuah gigi geraham yang diyakini milik Sang Buddha. Gigi tersebut didapat dari seorang pendeta asal Myanmar. Dan saya tengah berada di saat yang tepat, karena hari ini masyarakat umum diperbolehkan untuk melihatnya. Yihaaaa!

Berdoa untuk umatGigi Sang Buddha berada di lantai empat. Di sana terdapat sebuah aula yang dipenuhi oleh umat yang melantunkan doa secara bersama-sama. Sebelum memasuki aula, wajib untuk melepas alas kaki. Saya mengikuti serombongan umat yang juga hendak melihat gigi tersebut dari dekat. Di sini terdapat larangan untuk mengambil foto.

Rupanya gigi tersebut diletakkan di sebuah bilik kaca mini dengan kubah yang terbuat dari lapisan emas. Di sekitarnya terdapat beberapa benda yang juga berlapis emas. Dinding dan langit-langit ruangan tempat menyimpan gigi itu juga dihias oleh lapisan berwarna emas dengan ukiran-ukiran indah. Warna di tempat ini memang didominasi warna identik Buddha, merah dan emas. Sebuah kaca tebal membatasi pengunjung dengan ruangan itu. Saya melihat sebentuk gigi geraham berukuran besar yang dilingkari oleh sebuah cincin emas. Seorang staf yang bertugas bercerita bahwa ukuran gigi tersebut secara ajaib terus mengalami perkembangan.

Menggantung kertas berisi doa dan harapanSelesai melihat relik tersebut, saya mengunjungi museum Buddha dan sejarah kuil di lantai tiga, serta toko yang menjual buku-buku dan benda-benda rohani di lantai dua. Bila Anda hendak mengisi perut, pergilah ke kantin yang terdapat di belakang kuil.

Kemeriahan di Chinatown
Selepas memuaskan dahaga, saya berjalan kembali menuju penginapan. Sore ini pemilik penginapan mengundang rombongan barongsai untuk memberkati usahanya. Saat barongsai mulai beraksi, para tetangga dan tamu hostel turun keluar menyaksikan atraksi. Suara tambur, gembreng dan kemong menyemarakkan suasana. Di akhir atraksi, para penari menyusun ucapan selamat yang dibuat dari isi buah jeruk di atas jalan.

Barongsai di depan penginapanSetelah pertunjukkan berlalu, saya berjalan-jalan menuju Pagoda Street dan Temple Street untuk melihat berbagai macam barang dagangan bernuansa Imlek seperti mahyong, boneka-boneka dan penghias meja. Sementara untuk urusan kuliner, Smith Street menyajikan deretan warung makanan.

Menyambut tahun baru Cina, pemerintah Singapura menggelar beberapa event mulai pertengahan januari hingga awal maret seperti upacara pembukaan, pemasangan lampion, bazaar, kejuaraan barongsai, dan lain sebagainya.

Wisata Imlek di Singapura cukup menarik untuk dikunjungi. Banyak warna yang bisa diabadikan bagi penghobi fotografi. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara, Singapura yang wilayahnya relatif paling kecil, menawarkan kemudahan transportasi dan fasilitas penunjang wisata yang sangat baik. Namun, menurut saya berwisata di sini quite costly. Sebotol air mineral berukuran sedang yang harganya sekitar Rp. 3000,- di Indonesia atau sekitar RM. 1,- di Malaysia, harganya sekitar 1 Dollar Singapura atau Rp. 6000,- di sini.

=======================================================================

Backpackers InnTips Travel:

  • Untuk penginapan murah, Anda bisa mengunjungi laman http://www.backpackersinn.com.sg bila berminat untuk menginap di sekitar Chinatown atau kunjungi http://www.cozycornerguest.com untuk menginap di daerah Kampung Bugis. Posisinya yang berada di belakang mall Bugis Junction, memberikan banyak pilihan kuliner dan kemudahan untuk membeli berbagai kebutuhan.
  • Stasiun Tanah Merah menjadi stasiun monorel satu-satunya yang melayani transportasi dari dan menuju bandara Changi.
  • Pelajari jalur MRT di Singapura sebelum berwisata. Ada empat jalur MRT yang diwakili oleh empat warna berbeda. Anda bisa berganti jalur di setiap intersection.
  • Anda bisa menggunakan kartu EZ-Link untuk menaiki bis atau monorel. Dengan kartu prabayar ini, biaya yang dikeluarkan bisa sedikit lebih murah. Ada baiknya bila Anda membawa sedikit Dollar Singapura dari tanah air atau menukarnya sesudah tiba di bandara Changi.
  • Saat Imlek, tidak semua kedai makanan di Chinatown buka sehingga beberapa kedai yang masih beroperasi, memberikan harga yang lebih tinggi.

Tanggal perjalanan: Februari 2011.

Halong Bay, Tempat Naga-naga Bersemayam.

Halong Bay VietnamAlkisah di jaman dahulu, bangsa Vietnam yang tengah terancam oleh pasukan Cina, memanjatkan doa, memohon keselamatan. Para dewa di surga yang mendengar doa mereka lalu mengirimkan naga-naga ke Bumi. Naga-naga tersebut kemudian memuntahkan batu-batu zamrud dan permata ke dalam laut. Batu-batu tersebut secara ajaib tumbuh menjadi pulau-pulau kecil yang menjulang tinggi, menciptakan benteng alam yang menahan laju armada Cina. Setelah berhasil melaksanakan tugas tersebut, naga-naga itu memutuskan untuk menetap di wilayah perairan yang kini disebut Halong Bay.

Berangkat dari Hanoi
Saya melihat poster besar Halong Bay saat kami tiba di bandara No Bai, Hanoi. Mata Anton, teman saya berbinar-binar, raut wajahnya seperti memancarkan kegembiraan karena kami hanya butuh selangkah lagi untuk bisa berada disana. Kami lalu menaiki sebuah minibus menuju kota Hanoi dari depan bandara.

Halong Bay merupakan salah satu obyek wisata andalan Vietnam yang terdaftar dalam Situs Warisan Dunia. Sebagian besar wilayahnya berupa lautan yang dipenuhi pulau beraneka bentuk dan ukuran. Banyak diantara pulau tersebut yang belum memiliki nama.

Keunikan Halong Bay terpahat melalui serangkaian proses alam yang terjadi selama ratusan tahun. Teluk dengan luas sekitar seribu lima ratus km2 ini menjadi rumah dari beragam spesies flora dan fauna, beberapa diantaranya adalah spesies endemik.

Ada banyak operator wisata di Hanoi yang menawarkan paket Halong Bay. Hampir setiap penginapan dapat menyiapkan perjalanan ke sana. Besar kecilnya biaya bergantung pada jumlah hari dan jenis kapal yang akan membawa kita mengarungi Halong Bay. Kami lalu sibuk tawar menawar harga dengan resepsionis hostel tempat kami menginap. Karena keterbatasan waktu, kami memilih paket dua hari satu malam saja. Kapal yang kami pilih pun tergolong sederhana, tidak terlalu mewah.

Kami diminta untuk stand by tepat pukul delapan pagi di hari berikutnya, sebuah minibus akan datang untuk menjemput kami. Minibus berkapasitas 24 penumpang ini mengunjungi beberapa penginapan, menjemput penumpang lain sebelum akhirnya melaju menuju Halong Bay.

Selain berwisata bersama rombongan turis lain dari Hanoi, sebenarnya Anda bisa saja pergi menginap di kota Halong lalu mencari operator wisata disana. Bahkan ada juga layanan Private Tour bila anda lebih suka berwisata secara eksklusif, tetapi pastinya lebih menguras kantung. Hal ini serupa dengan perjalanan ke sebuah taman nasional di bagian barat pulau Jawa, dimana eksplorasi melewati jalur air, terasa lebih murah saat dilakukan bersama rombongan.

Di dalam bis kami ditemani seorang pemandu wisata bernama Chen. Bahasa Inggrisnya kadang agak sulit dimengerti, namun ia cukup komunikatif dengan “klien-klien”nya yang berasal dari manca negara.

Mengarungi Halong Bay
Dua jam kemudian kami sampai di tujuan. Para penumpang turun dan diminta mengumpulkan paspor dengan alasan administrasi kepolisian. Pelabuhan Halong terlihat ramai oleh kendaraan dan turis yang berlalu lalang. Di sepanjang jalan menuju dermaga terdapat deretan kios yang menjual bermacam makanan dan suvenir.

Chen lalu membagi-bagikan karcis dan mengajak kami memasuki dermaga. Di hadapan kami terpampang begitu banyak kapal kayu berwarna coklat yang tengah bersandar. Kapal kami berada agak jauh dari dermaga. Untuk naik ke kapal, kami harus menaiki sebuah kapal kecil terlebih dahulu.

Bau asap menyergap, dari aromanya, saya menduga bahwa setiap kapal disini menggunakan solar sebagai bahan bakar. Saya pernah membaca artikel mengenai pencemaran di Halong Bay, terkait dengan sampah yang dibuang awak kapal. “There are hundreds”, jawab Chen, saat saya menanyakan jumlah kapal yang hilir mudik di kawasan ini.

Kapal kayu yang kami naiki memiliki tiga lantai. Lantai pertama diisi oleh awak kapal, lantai kedua berisi kamar penumpang dan lantai ketiga berisi ruang makan, mini bar dan sedikit kamar penumpang. Di atas ruang makan terdapat ruang terbuka yang dilengkapi kursi-kursi panjang untuk berjemur atau bermalas-malasan sambil menikmati pemandangan. Bilik nahkoda berada di bagian depan kapal, bentuknya kecil dengan atap bergaya tradisional, sepintas malah tampak seperti wartel.

Suasana terasa hangat dan menyenangkan saat kapal mulai bergerak perlahan. Chen menjelaskan obyek yang akan kami sambangi sambil membagi-bagikan kunci kamar. Salah satu hal yang agak mengganggu hanyalah awan putih yang setia menutup langit biru. Walaupun begitu saya dan Anton tetap menekan shutter sepanjang perjalanan.

Thien Cung Grotto
Obyek yang pertama yang kami datangi adalah sebuah goa bernama Thien Cung. Kapal kami membuang sauh jauh dari pantai lalu kami kembali menaiki kapal kecil menuju dermaga.

Dihadapan kami menjulang sebuah pulau dengan tebing batu yang curam. Tampak sebuah jalan setapak menanjak yang diisi barisan turis yang berkelok mendaki tebing, lalu hilang dibalik rimbunnya dedaunan. Di bagian lain tebing, barisan turis kembali terlihat, seolah-olah keluar dari dalam tebing.

Ada beberapa goa yang dijadikan obyek wisata di Halong Bay, bentuk-bentuk stalaktit dan stalakmit yang indah dipadu dengan penataan cahaya yang indah menjadi daya tarik tersendiri. Goa terbesar di kawasan ini adalah Hang Dau Go, namun operator wisata tidak memasukkannya dalam paket yang kami pilih.

Akhirnya saya dan Anton memasuki bagian mulut goa, kami takjub dengan kemegahannya, secara otomatis tangan kami memasang tripod dan mengambil sudut-sudut yang menarik. Kamera saya pasang pada ISO 100 untuk meminimalkan noise, mode aperture priority dengan bukaan 22 untuk ruang tajam yang luas, dan self timer untuk meminimalkan getaran. Walaupun kadang terasa berat saat dibawa berkeliling, tripod amat berguna pada situasi minim cahaya seperti ini.

Udara terasa sejuk selama kami berada didalam goa, jalan setapak yang turun naik dan berkelok mengajak kami menikmati keindahan lekuk-lekuk goa. Sementara kami lebih sering berhenti untuk mengumpulkan gambar, pengunjung lainnya terus berlalu di belakang kami.

Chen menyebutkan ada dua buah goa di pulau ini dan saya lupa bahwa rombongan kami hanya memasuki satu goa saja. Hal ini membuat saya sempat tertinggal dari rombongan dan salah mengambil jalan kembali ke kapal. Alih-alih bertemu rombongan, saya justru tersasar memasuki goa lain bernama Dan Vien.

Salah satu konsekuensi dari mengikuti tur bersama adalah ketepatan waktu. Saya merasa tidak enak saat tiba di kapal, karena penumpang yang lain sudah menunggu saya sejak tadi. Chen mengatakan kami sudah telat untuk melakukan kayaking dan dia memutuskan untuk memindahkan acara kayaking keesokan harinya. Hmm …

Nahkoda lalu membawa kami menuju suatu tempat yang dikelilingi pulau-pulau kecil, dimana kapal-kapal lainnya sudah membuang sauh, tampak seperti siap untuk beristirahat. Chen mengajak kami untuk terjun ke laut. Kelompok turis asal Inggris membuka baju, terjun ke dalam air yang sejuk. Sementara awak kapal tampak pergi dengan kapal kecil, mungkin membeli kebutuhan dapur.

Seorang pedagang dengan perahu yang dipenuhi bermacam snack dan minuman datang mencari pembeli sambil berkata “Wine, Sir, cheaper than boat”. Memang, harga barang yang mereka tawarkan lebih murah daripada yang dijual di atas kapal. Saat kami berada di dermaga tadi siang, kami melihat dua orang tengah melompati pagar tanpa sepengetahuan petugas. Mereka membawa botol-botol minuman.

Kayaking
Jam menunjukkan pukul lima subuh saat saya terbangun. Penumpang dan awak kapal masih berada dalam kabin masing-masing. Berbeda dengan dengan langit di Jakarta, langit di sini tampak sudah terang. Saya turun ke haluan dan menikmati Halong Bay yang masih dingin dan sunyi. Saya memuaskan diri menghirup udara segar sambil menunggu penumpang yang lain bangun.

Tepat pukul enam, rombongan kami berangkat dengan kapal kecil mengambil kayak di tempat penyewaan. Tidak semua penumpang kapal mengikuti perjalanan ini. Mungkin bagi beberapa turis asing, bangun pukul enam terasa terlalu pagi. Saat Chen mengumumkan pemindahan jadwal kayaking tadi malam, beberapa orang merasa keberatan. Apalagi sarapan baru disiapkan pukul delapan.

Kami mengambil kayak di sebuah kampung kecil yang mengapung di atas balok-balok kayu. Di sekitar dermaga banyak kapal wisata tengah bersandar. Rupanya ini tempat awak kapal membeli barang-barang kebutuhan. Saya melihat beberapa tong plastik besar yang berisi ikan, kepiting dan sotong yang masih hidup.

Sebuah kayak hanya memuat dua orang penumpang saja. Saya dan Anton segera memilih jaket pelampung, helm dan dayung. Tidak lama kemudian kami sudah berada di atas kayak, mencoba mendayung secara bersamaan. Kami semua beriringan mengikuti Chen.

Kami mendayung sejauh hampir satu kilometer, melewati tebing-tebing yang berdiri menjulang dari dalam lautan. Beberapa ubur-ubur berenang di kiri kanan kayak. Dari urutan terdepan, kami sekarang berada di urutan buncit. Lapar, kurang pemanasan, dan yang pasti: kami memang bukan atlit dayung.

Akhirnya kami tiba dimulut sebuah goa yang hanya bisa dilalui saat permukaan air surut. Kami lihat Chen tengah membeli karcis di sebuah pos apung, sementara dua orang petugas kebersihan terlihat tengah mengumpulkan sampah.

Setelah melewati “gerbang” tadi, kami tiba di sebuah tempat terbuka yang luas. Kayak-kayak lainnya tengah diam, rupanya mereka sedang memperhatikan sekelompok monyet berwajah merah. Kelompok primata ini tampak sedang bermain di antara pepohonan yang tumbuh di tebing curam. Sebuah panggung kayu tempat meletakkan buah berada di hadapan kami.

Rupanya, itu sajalah atraksi yang dapat kami saksikan lewat program kayaking ini. Kami lalu kembali menuju ke dermaga untuk mengembalikan kayak. Dalam hati saya merasa kurang puas dan ingin menjelajah lebih jauh lagi dengan kayak.

Cat Ba Island
Setelah kami mandi dan melahap sarapan, Chen memberikan pengumuman bahwa penumpang yang sudah mendaftar untuk program tiga hari dua malam akan dijemput dengan kapal menuju Pulau Cat Ba, sementara penumpang lainnya, tetap berada di kapal dan akan diantarkan kembali ke Hanoi.

Cat Ba adalah pulau terbesar di Halong Bay, sebagian areanya merupakan taman nasional. Pada tahun 2004 pulau ini ditetapkan sebagai UNESCO Biosphere Reserve dan menjadi rumah bagi satwa langka, Langur berambut emas.

Di pulau ini terdapat suaka alam, hotel dan fasilitas wisata lainnya. Kegiatan yang biasa dilakukan di pulau ini misalnya trekking, berkeliling dengan sepeda dan kayaking. Pulau ini juga dapat dicapai dengan kapal ferry dari Kota Halong.

Setelah menurunkan penumpang ke pulau Cat Ba, perahu kembali bergerak menuju Kota Halong. Sekitar pukul dua belas siang kami sudah berada di dermaga kembali. Minibus sudah menunggu, siap mengantarkan kami kembali ke Hanoi.

Waktu memang tidak bisa ditawar, kami harus pandai meramu rutinitas deadline, sisa cuti dan tiket low-budget. Walaupun terasa singkat, perjalanan ke Vietnam terasa belum lengkap bila belum mengunjungi teluk tempat naga-naga bersemayam.

—————————————————————————————————————–

Tips:

  1. Vietnam memiliki dua musim, mereka menyebutnya summer (mei-oktober) yang dibagi menjadi hot and rainy summer, dan winter (November-april) yang dibagi menjadi cool and dry winter. Waktu terbaik mengunjungi Halong bay adalah sekitar bulan Desember hingga Februari dimana curah hujan rendah dan udara tidak terlalu panas.
  2. Bawalah tripod saat mengunjungi Halong Bay agar bisa mengabadikan keindahan goa secara maksimal. Saya bepergian tanpa menggunakan bagasi untuk menekan biaya. Saat hendak meninggalkan Vietnam, seorang petugas bandara sempat mempermasalahkan ukuran tripod yang saya jinjing. Mungkin lain kali saya akan menyimpan tripod yang lebih kecil dan kokoh, di dalam ransel.
  3. Selama di atas kapal, kami mendapatkan jatah makan tiga kali sehari. Untuk penghematan, kami sengaja menyimpan makanan kecil, roti dan minuman mineral yang kami bawa dari Hanoi, di dalam ransel saja.
  4. Untuk mendapatkan salah satu spot untuk fotografi landscape di Halong Bay, pilihlah operator wisata yang memasukkan Pulau Titov ke dalam program wisatanya. Selain memiliki pasir berwarna putih, pulau ini memiliki menara pandang 360 derajat di puncaknya.

Tanggal perjalanan: Mei 2010.